Senin, 16 Februari 2026

Orang yang tercela itu mencari-cari kesalahan dan berpaling dari kebaikan


Orang yang tercela itu mencari-cari kesalahan dan berpaling dari kebaikan."
Kutipan dari Al-Ghazali:
Al-Ghazali berkata:
"Watak yang tercela cenderung untuk mengikuti (mencari-cari) kesalahan dan berpaling dari kebaikan-kebaikan. Bahkan, ia cenderung mengada-ada atau membesar-besarkan kesalahan pada hal yang sebenarnya bukan kesalahan, hanya demi memuaskan nafsunya agar ia punya alasan (untuk mencela). Hal ini termasuk dalam tipu daya setan yang sangat halus."
Peringatan Terhadap Orang yang Berbudi Rendah
"Waspadalah berteman dengan orang yang rendah budi (la'im), karena sesungguhnya ia menular sebagaimana orang yang sakit kudis menulari orang yang sehat."
Orang yang la'im adalah orang yang berjiwa rendah, hina tabiatnya, kikir, tidak menjaga janji, dan tidak mengingat kasih sayang (persahabatan). Ia adalah sosok yang terkumpul dalam dirinya banyak sifat buruk, di antaranya:
Menzalimi yang lemah.
Kurang kewibawaan/kehormatan.
Sombong dan berkhianat.
Serta sifat-sifat lain yang tidak pantas dimiliki oleh orang yang mulia (karim).
Al-Jahiz berkata: > "Di antara sifat orang yang rendah budi adalah: ia menzalimi yang lemah, namun merendahkan dirinya di hadapan yang kuat. Ia membunuh orang yang sudah terjatuh, menghabisi yang terluka, mengejar orang yang lari, namun lari dari orang yang mencari (menghadapinya). Ia tidak menuntut hal-hal yang besar kecuali pada perkara yang tidak ada risikonya..."
Sebagian ahli hikmah berkata: > "Orang yang rendah budi itu pendusta dalam berjanji, pengkhianat dalam komitmen, dan sedikit memberi bantuan."
Mereka juga berkata: > "Orang yang rendah budi itu jika kaya ia sombong/melampaui batas, jika miskin ia berputus asa, jika berbicara ia keji, dan jika diminta ia bakhil (pelit). Jika ia meminta, ia mendesak; jika diberi kebaikan, ia menyembunyikannya (tidak berterima kasih); dan jika dititipi rahasia, ia membocorkannya. Maka temannya harus selalu waspada terhadapnya, dan musuhnya berada dalam tipu dayanya."
Secara garis besar, pesan ini mengingatkan kita bahwa karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan pertemanannya. Penulis menekankan bahwa sifat buruk itu "menular" dan sangat merugikan bagi siapa pun yang berurusan dengan orang tersebut
Jika engkau memuliakan orang yang mulia (baik budinya), maka engkau akan memilikinya (memenangkan hatinya).
Namun, jika engkau memuliakan orang yang hina (buruk budinya), maka ia akan memberontak (melunjak)."
Makna Singkat
Syair ini berbicara tentang bagaimana karakter seseorang menentukan reaksinya terhadap kebaikan:
Orang yang berjiwa mulia (Al-Karim) akan merasa berhutang budi dan semakin setia atau menghargai Anda jika diperlakukan dengan baik.
Orang yang berjiwa rendah/buruk (Al-La'im) justru akan menganggap kebaikan Anda sebagai kelemahan, sehingga ia menjadi sombong atau bersikap kurang ajar.