Jangan asal sama nama harinya, tapi perhatikan posisi barat atau timurnya...
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan:
"Ru’yah berbeda sesuai perbedaan arah timur dan barat. Apabila hilal telah terlihat di wilayah timur, maka secara konsekuensi ia lebih akan terlihat di wilayah barat, dan tidak berlaku sebaliknya. Sebab waktu terbenam matahari di wilayah barat lebih lambat dibanding wilayah timur. Jika hilal telah terlihat di timur, maka ketika sampai waktu maghrib di barat, hilal tersebut semakin jauh dari matahari dan semakin kuat cahayanya, sehingga lebih memungkinkan untuk diru’yah.
Adapun jika hilal terlihat di barat, tidak mesti terlihat di timur; karena bisa jadi sebab terlihatnya di barat adalah keterlambatan terbenam matahari di sana sehingga hilal semakin jauh dan terang, sedangkan ketika matahari terbenam di timur, hilal masih dekat dengan matahari sehingga sulit diru’yah." [Majmu' Fatawa 25/104]
Demikianlah. Karena bumi bulat dan kontinu, sebetulnya barat dan timur itu relatif. Indonesia bisa disebut lebih barat dari Arab Saudi, jika globe kita proyeksikan/bentangkan dengan tepi petanya di wilayah sekitar Irak/Iran, atau manapun daerah di antara Indonesia-Saudi.
Tapi jika tepi peta ditarik dari Samudera Pasifik, maka Indonesia berada di sebelah timur Arab Saudi, dan inilah peta yang standar, yang secara bawah sadar mempersepsikan Indonesia berada di timur Arab Saudi. Wajar, karena garis di Samudera Pasifik memang secara konsensus/kesepakatan dinyatakan sebagai garis pergantian hari (international dateline).
Walhasil, dalam kasus tahun ini (2026), kalau hilal terlihat di Alaska, maka semua yang di sebelah barat Alaska telah memasuki bulan baru. Dan karena dari Alaska ke arah barat untuk menuju Indonesia melewati garis pergantian hari di Samudera Pasifik, maka otomatis Alaska dan Indonesia akan beda hari, namun sama-sama sudah masuk tanggal 1 Ramadhan. Di sana Selasa malam, di sini Rabu malam.