Senin, 16 Februari 2026

Syeikh As-Sumait

Secara medis, hidupnya seharusnya sudah berakhir puluhan tahun lalu. Dengan penyakit diabetes parah, tekanan darah tinggi, dan masalah jantung yang kronis, dokter memprediksi usianya tidak akan lama. Namun, pria ini memiliki "perjanjian" lain dengan Sang Pencipta. Ia meninggalkan kenyamanan klinik mewahnya di Kuwait untuk memeluk debu dan kemiskinan di pelosok Afrika.

Di saat fisiknya melemah dan divonis sakit parah, Syeikh As-Sumait justru berkata, "Jika saya harus mati, biarlah saya mati di tengah-tengah orang miskin di Afrika." Ia tidak beristirahat di rumah sakit, melainkan menembus hutan rimba.

​Selama lebih dari 30 tahun pengabdiannya, melalui yayasan Direct Aid, ia berhasil membangun 5.700 masjid, mengebor 9.500 sumur, dan membiayai 15.000 anak yatim.
Keikhlasannya membangun sekolah dan rumah sakit membuat jutaan penduduk Afrika melihat keindahan Islam. Sebanyak 11 juta orang masuk Islam melalui perantaranya, sebuah angka yang hampir mustahil dicapai oleh satu orang di zaman modern.
Meski mengelola dana kemanusiaan triliunan rupiah, ia dan istrinya hidup sangat sederhana. Ia sering tidur di lantai beralaskan tikar di desa-desa terpencil yang bahkan tidak ada dalam peta.
Allah menunda kematiannya hingga tugasnya benar-benar paripurna. Ia wafat pada tahun 2013, meninggalkan warisan iman yang tak ternilai bagi benua hitam.