Berikut sedikit kutipan bahwa kami diajari adab² ikhtilaf :
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah memberikan perhatian besar terhadap adab dalam berikhtilaf (berbeda pendapat), yang banyak dibahas dalam kitab-kitab beliau, salah satunya dalam konteks "Kitab al-'Ilmi". Beliau menekankan bahwa perbedaan pendapat dalam masalah furu' (cabang) adalah hal yang wajar dan bukan cacat dalam syariat, melainkan rahmat yang menunjukkan keluasan hukum Islam.
Berikut adalah poin-poin utama adab ikhtilaf menurut pandangan Syaikh Utsaimin:
Menghormati Pendapat Lain: Tidak memaksakan pendapat sendiri dan tidak menganggap rendah pendapat orang lain selama masih dalam koridor ijtihad yang dibenarkan.
Lapang Dada (Tasamuh): Bersikap lapang dada dalam masalah-masalah ijtihadiyah yang tidak ada dalil qath'i (tegas/pasti).
Kembali Kepada Al-Qur'an dan Sunnah: Jika terjadi perselisihan, rujukan utamanya adalah dalil yang sahih, bukan fanatik pada pendapat tokoh atau mazhab tertentu.
Mencari Kebenaran, Bukan Kemenangan: Tujuan perbedaan pendapat adalah mencari kebenaran, bukan sekadar memenangkan argumentasi pribadi atau kelompok.
Menjaga Persaudaraan: Ikhtilaf tidak boleh merusak persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah).
Adab Menasihati: Jika hendak menasihati atau mengoreksi, lakukan dengan cara yang baik, sopan, dan tidak di depan khalayak ramai.
Syaikh Utsaimin juga membagi ikhtilaf menjadi dua: ikhtilaf tanawwu' (variasi ibadah yang sama-sama berdalil) dan ikhtilaf tadhad (kontradiktif, di mana satu benar dan yang lain salah). Dalam menghadapi perbedaan, umat Islam diminta bersikap ilmiah dan santun.
Ustadz muhammad yusuf