Larangan Mengucapkan “Seandainya Aku Melakukan Ini, Niscaya Akan Begini dan Begitu”
Judul Bab
باب قول: لو أني فعلت كذا لكان كذا وكذا
.
Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab رحمه الله memasukkan bab ini dalam Kitab at-Tauhid untuk menjelaskan kewajiban menyempurnakan tauhid rububiyah, khususnya dalam masalah iman kepada qadha dan qadar.
Bab ini menjelaskan bahwa ucapan “لو” (seandainya) yang diucapkan setelah terjadinya musibah atau kegagalan, dengan maksud menyesali takdir,
merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kesempurnaan iman kepada qadar,
membuka pintu bisikan syaitan,
dan mengandung unsur celaan tersembunyi terhadap ketetapan Allah.
Dalil Bab
Hadits Nabi ﷺ:
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah. Jika engkau tertimpa sesuatu, janganlah engkau berkata: ‘Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah: ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan.’ Karena sesungguhnya ucapan ‘seandainya’ membuka pintu amalan syaitan.”
(HR. Muslim).
Penjelasan Hadits
Perintah beramal dan berikhtiar
Nabi ﷺ memulai dengan perintah untuk mengambil sebab,
bersungguh-sungguh,
dan bertawakkal kepada Allah.
Ini menunjukkan bahwa Islam bukan jabariyah, namun juga bukan qadariyah.
Larangan “لو” setelah musibah
Larangan ini berlaku ketika “لو” diucapkan dalam rangka menyesali takdir,
merasa takdir seharusnya bisa diubah,
atau menyiratkan bahwa sebab manusia lebih menentukan daripada kehendak Allah.
Makna “membuka pintu syaitan”
Karena ucapan ini menumbuhkan penyesalan berlebihan,
melahirkan su’uzhan kepada Allah,
dan menyeret kepada protes batin terhadap qadar.
Kaitan Bab Ini dengan Tauhid
Bab ini berkaitan langsung dengan Tauhid Rububiyah: mengimani bahwa segala kejadian terjadi dengan kehendak Allah.
Kesempurnaan iman kepada qadar ridha terhadap ketetapan Allah setelah usaha dilakukan.
Menutup pintu syirik khafi karena menafikan peran kehendak Allah secara halus.
Pengecualian Ucapan “لو”
Para ulama menjelaskan bahwa “لو” tidak terlarang secara mutlak.
Yang dibolehkan, bahkan terkadang dianjurkan “لو” untuk penjelasan sebab ilmiah, “لو” dalam perencanaan masa depan, “لو” dalam pengajaran dan ibrah, selama tidak mengandung penyesalan terhadap takdir.
Faedah Tauhid dari Bab Ini
- Wajib menggabungkan ikhtiar dan tawakkal.
- Haram menyesali takdir dengan ucapan “لو”.
- Ridha kepada qadar adalah bagian dari kesempurnaan tauhid.
- Ucapan hati dan lisan mencerminkan akidah seseorang.
- Menutup pintu syaitan adalah bagian dari penjagaan tauhid.
Kesimpulan
Bab ini menegaskan bahwa iman kepada qadar bukan sekadar keyakinan di hati, namun juga tercermin dalam ucapan dan sikap seseorang setelah terjadinya peristiwa.
Ucapan “seandainya” yang menyesali takdir adalah bentuk pelemahan tauhid, meskipun tidak sampai mengeluarkan dari Islam, namun mencederai kesempurnaannya.
Ustadz haliem abu khadijah