perdebatan antara Ibnu Taimiyah dengan para penentangnya (khususnya mengenai masalah istighatsah atau memohon pertolongan kepada selain Allah).
Terjemahan Teks
"...para pemimpin, dan ia dijuluki: Nuruddin Abul Hasan.
Ia memiliki bantahan terhadap Syaikh Taqiyuddin bin Taimiyah dalam masalah istighatsah (memohon bantuan) kepada makhluk. Dalam bantahan itu, ia membuat orang-orang berakal menertawakan dirinya sendiri dan membuat musuh-musuh merasa gembira. Perumpamaan dirinya (dalam membantah Ibnu Taimiyah) seperti aliran air kecil yang keruh yang mencoba menghantam lautan luas yang jernih dan penuh dengan mutiara, permata, serta ilmu; atau seperti sebutir pasir kecil yang ingin meruntuhkan gunung yang kokoh dari tempatnya.
Maka keadaannya adalah seperti yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentangnya: 'Sesungguhnya perkataannya tidak akan dibicarakan oleh seorang pun dari kalangan ahli ilmu dan iman, melainkan ia hanya berbicara kepada orang buta di antara orang-orang buta.' Hal-hal menyesatkan dan igauan yang ia ucapkan hanya laku di kalangan mereka karena kesesatan mereka.
Bahkan gurunya sendiri, Syamsuddin al-Jazari, telah membantahnya dalam masalah pengafiran (takfir) yang ia lakukan. Gurunya sangat keras mengingkarinya dan menjelaskan bahwa perkataan yang keluar darinya bukanlah perkataan orang yang dikenal memiliki ilmu dan iman. Perkataan itu hanyalah ucapan orang bodoh yang berada di puncak kebodohan, atau ucapan anak kecil. Gurunya sampai meratapi penduduk Mesir dan menangis karena munculnya orang seperti ini (si pembantah) di tengah-tengah mereka.
Ibnu Taimiyah berkata: 'Aku berpendapat bahwa orang seperti ini tidak perlu disapa dengan bahasa para ulama, melainkan ia layak mendapatkan kedisiplinan yang mendalam dan hukuman yang menyakitkan, yang pantas bagi orang-orang bodoh seperti dia—itu pun jika dia selamat dari vonis kafir.'
Sebab, karena kebodohannya, ia tidak memiliki pengetahuan tentang dalil-dalil syar'i yang menjadi sumber pengambilan hukum, tidak pula memiliki pengetahuan tentang perkataan para ahli ilmu yang merupakan imam umat Islam. Sebaliknya, ia ingin berbicara dalam berbagai disiplin ilmu; partisipasinya dalam fikih, usul, tasawuf, dan masalah-masalah besar lainnya hanyalah klaim belaka tanpa pengetahuan dan tanpa pemahaman yang benar. Allah-lah yang lebih tahu tentang niatnya; apakah dia seorang pencari kekuasaan dengan cara yang batil, atau orang sesat yang menyerupai orang yang dalam keadaan kacau, atau malah kedua sifat itu terkumpul pada dirinya? Dan ia tidaklah jauh dari orang-orang yang zalim.
Ia (Ibnu Taimiyah) berkata: 'Dan perkataannya mengenai istighatsah kepada selain Allah mengandung kebodohan-kebodohan yang mengherankan...'"
Catatan Penting dalam Teks:
* Konteks Tokoh: Teks ini membela Ibnu Taimiyah dan mengkritik tajam lawan bicaranya (yang disebut dalam catatan kaki sebagai Al-Bakri, seorang ulama Syafi'iyah di Mesir).
* Metafora: Penulis menggunakan perumpamaan "aliran air keruh melawan lautan" untuk menggambarkan ketimpangan ilmu antara Ibnu Taimiyah dengan penentangnya tersebut.
* Isu Utama: Perdebatan mengenai Istighatsah (meminta tolong kepada selain Allah/makhluk) dan tuduhan pengafiran (takfir).
Berikut adalah terjemahan dari halaman lanjutan yang Anda unggah ke dalam bahasa Indonesia:
Terjemahan Teks
"... Rasulullah ﷺ: 'Janganlah engkau membiarkan patung kecuali engkau menghancurkannya, dan tidak pula kuburan yang ditinggikan kecuali engkau meratakannya.' Maka beliau ﷺ memerintahkan untuk menghapus kesyirikan dan asal-usul yang memicunya.
Maksudnya adalah bahwa Syaikh (Ibnu Taimiyah) membantah Al-Bakri dan meruntuhkan pendapatnya dengan bantahan yang sangat baik dan bermanfaat. Beliau menjelaskan apa yang terkandung di dalamnya, baik kebenaran maupun kebatilan, dalam sebuah jilid besar. Di dalamnya, beliau membatalkan berbagai jenis syirik, baik syirik dalam keyakinan maupun amal perbuatan, beserta cabang-cabangnya, dengan menggunakan dalil-dalil dan bukti-bukti yang kuat. Penjelasan tersebut menyenangkan hati para pengikut Sunnah dan menyejukkan mata mereka saat mendengarnya, namun menghitamkan wajah para pengikut hawa nafsu dan bidah, serta menyelimuti mereka dengan kehinaan. Semoga Allah merahmati orang yang membela kebenaran dan menolongnya, serta menolak kebatilan dan menghinakan penganutnya.
Di antara dalil yang digunakan oleh Al-Bakri adalah sebuah hadis yang diriwayatkan bahwa ketika Nabi Adam 'alaihissalam memakan buah dari pohon (terlarang) dan terjadi apa yang telah terjadi, beliau memohon syafaat dengan bertawasul kepada Nabi ﷺ kepada Allah. Maka dikatakan kepadanya:
> 'Wahai Adam! Bagaimana engkau mengenal Muhammad padahal Aku belum menciptakannya?' Adam menjawab: 'Ketika Engkau meniupkan roh ke dalam diriku, aku mengangkat kepalaku dan melihat pada tiang-tiang Arsy tertulis: Lailaha illallah Muhammad Rasulullah. Maka aku tahu bahwa Engkau tidak akan menyandarkan sebuah nama kepada nama-Mu kecuali ia adalah makhluk yang paling Engkau cintai.' Allah berfirman: 'Engkau benar wahai Adam! Sesungguhnya dia adalah makhluk yang paling Aku cintai. Dan karena engkau telah memohon kepada-Ku dengan perantaranya, maka Aku telah mengampunimu. Seandainya bukan karena Muhammad, niscaya Aku tidak akan menciptakanmu, dan dia adalah penutup para nabi dari keturunanmu.'
>
Catatan Kaki (Penjelasan Status Hadis):
(1) Hadis ini maudhu' (palsu). Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/615) dan Al-Baihaqi dalam Dala'il An-Nubuwwah. Al-Hakim menyatakan hadis ini shahih sanadnya, namun dibantah oleh Adz-Dzahabi yang menegaskan: 'Bahkan ini adalah hadis palsu'. Di dalam sanadnya terdapat Abdurrahman bin Zaid bin Aslam yang statusnya lemah (wahi), serta Abdullah bin Muslim Al-Fahri yang tidak diketahui identitasnya (majhul). Ibnu Taimiyah juga menegaskan dalam Majmu' Fatawa bahwa riwayat Al-Hakim ini adalah salah satu hal yang diingkari darinya (Al-Hakim)."
Poin Utama Halaman Ini:
* Bantahan terhadap Al-Bakri: Ibnu Taimiyah menulis buku khusus (dikenal sebagai Ar-Rad 'alal Bakri) untuk membedah argumen Al-Bakri mengenai tawasul dan istighatsah.
* Hadis "Lawlaka" (Seandainya bukan karena Muhammad): Teks ini menyoroti bahwa lawan bicara Ibnu Taimiyah menggunakan hadis tentang Nabi Adam yang bertawasul kepada Nabi Muhammad.
* Kritik Hadis: Teks secara tegas menyertakan catatan kaki ilmiah yang menyatakan bahwa hadis tersebut adalah palsu (maudhu') menurut pakar hadis seperti Adz-Dzahabi dan Ibnu Taimiyah.