Dongengku ketika mendaftar di UIM.
Konon, sekali lagi konon, disampaikan ke kami yang kalai itu bersetatus santri bahwa siapapun yang mendapat rekomendasi dari ustadz fulan atau fulan, maka pasti diterima di UIM.
Jelas saja, para santri berusaha sekuat tenaga dan dengan cara yang beragam agar mendapat rekomendasi sang utadz tersebut.........
Semula saya percaya dengan dongeng alias konon konon di atas, tanpa ada rasa curiga sedikitpun, karena saya termasuk salah satu yang mengagumi ustadz tersebut.
Ditambah lagi, sang ustadz juga jaim, atau jual mahal dengan rekomendasinya, sehingga sikapnya ini menambah para santri semakin yakin.
Sampai pada saatnya, musim pendaftaran yang kala itu dibarengi dengan kedatangan delegasi dari UIM yang mengadakan kegiatan daurah di sebagian pesantren, persaingan untuk mendapatkan rekomendasi dari sang pujaan hatipun tak terelakkan......ada sebagian santri yang begitu bersedih atau sebut saja frustasi karena sang idola menolak memberinya rekomendasi, dan ada yang begitu girang karena mendapat karpet merah dari sang idola sehingga menjadi satu dari beberapa santri yang mendapatkan rekomendasi yang diyakini sakti tersebut.
Hingga tiba saatnya pengumuman penerimaan UIM, kami para santri terbelalak, sekaligus tersadar bahwa konon itu adalah konon, ya salah sendiri mempercayai konon.
Dari sekian yang mendapat rekomendasi sakti ternyata yang diterima hanya satu orang, sedangkan yang mendapatkan rekomendasi dari ustadz yang dianggap underestimate malah lebih banyak yang diterima......
Kisah di atas sekedar contoh kecil, bahwa di dunia ini ternyata banyak konon konon yang diyakini sebagai fakta dan dipuja, namun seiring berjalannya waktu, nampak wajah asli konon adalah konon.
Nah, agar anda tidak menjadi korban selanjutnya dari konon konon semacam di atas, saya sarankan anda mendaftarkan diri di sini https://pmb.stdiis.ac.id/ saja, karena tidak perlu menghadirkan rekomendasi, hasil tes potensi andalah satu satunya alasananda diterima atau beruntung......bila belum beruntung maka silahkan coba lagi.
Ust Dr muhammad arifin badri