Sabtu, 07 Februari 2026

KISAH SYAIKH IBRAHIM AR-RUHAILI DAN JAMAAH TABLIGH

KISAH SYAIKH IBRAHIM AR-RUHAILI DAN JAMAAH TABLIGH

Syaikh Ibrahim ar Ruhaili hafizhahulloh menyebutkan dalam darsnya Manhaj Ahlus Sunnah fid Da'wati ilalloh :

"...Adab da'i yang kedua adalah Al-Ilmu (Ilmu).

Maka tidak diperbolehkan bagi orang awam untuk berdakwah kepada Allah.

Di zaman ini, kita diuji dengan suatu golongan dan kelompok yang menerjang pintu dakwah namun mereka berdakwah di atas kejahilan (kebodohan). Mereka itu dinamakan 'Jama’ah Tabligh'.

​Dan tidak mengapa menyebutkan nama mereka secara terang-terangan (tashrih) dalam konteks memberikan nasihat kepada saudara-saudara kita, karena sebagian saudara kita mungkin ada yang tertipu oleh mereka dalam keadaan ia tidak mengetahui hakikat keadaan mereka. Mereka itu bukanlah ahli ilmu, dan mereka sendiri pun mengakui hal tersebut. Namun mereka mendatangi orang-orang awam, membawa mereka keluar dari rumah-rumah mereka selama 40 hari ke negara ini dan itu, lalu mereka mengklaim bahwa ini adalah dakwah kepada Allah Azza wa Jalla.

[Cerita Pertama: Pengalaman di Brasil]

​"Pernah suatu kali kami pergi mengikuti sebuah daurah ke Brasil bersama rombongan para masyaikh. Di sana saya bertemu dengan sekelompok orang dari mereka (Jama’ah Tabligh). Saya diperkenalkan oleh salah seorang saudara yang menaruh perhatian pada dakwah; ia berkata: 'Kami kedatangan tamu yang datang dari negeri kalian, dari Kerajaan (Saudi).' Maka saya pun menemui dan menyambut mereka.

​Saya bertanya: 'Dari mana asal kalian?'
Mereka menjawab: 'Dari Makkah.'
'Untuk apa kalian datang ke sini?'
Mereka menjawab: 'Untuk dakwah.'
Saya berkata: 'Jazakumullahu khairan.'
Namun, saya melihat penampilan mereka bukanlah penampilan ahli ilmu (penuntut ilmu syar'i). Maka saya pun mulai bertanya kepada mereka.
​Tiba-tiba mereka berkata: 'Sebelum Anda bertanya, kami ingin bertanya kepada Anda.' Saya jawab: 'Silakan.'
Mereka berkata: 'Demi Allah, kami sedang berselisih paham mengenai hukum qashar; apakah kami harus meng-qashar shalat atau menyempurnakannya (ittimam)?'
Ketika mereka menanyakan hal itu, saya langsung paham (kualitas ilmu mereka).
Saya katakan: 'Pertanyaan kalian ini sudah cukup bagi saya (untuk menilai), saya tidak perlu lagi menanyakan apa yang tadinya ingin saya tanyakan.'
​Saya pun bertanya balik: 'Kenapa kalian ke sini?' Mereka jawab: 'Untuk dakwah.'
Saya katakan: 'Sekarang ini, para sopir travel antara Makkah dan Madinah saja tahu hukum qashar dan jamak, sementara kalian datang sebagai da'i ke Brasil, menempuh jarak sejauh ini, padahal kalian tidak tahu hukum qashar? Lalu kepada apa kalian mengajak manusia?'
​Mereka menjawab: 'Tidak, kami tidak mengajak kepada ilmu.'
Saya tanya: 'Lalu di atas dakwah apa kalian berdiri jika tidak tegak di atas ilmu? Allah berfirman: Katakanlah (Muhammad): Inilah jalanku, aku mengajak (kamu) kepada Allah di atas BASHIRAH (ilmu)...
Seandainya seseorang bertanya kepada kalian tentang sujud sahwi dalam shalat, tentang rukun-rukun shalat, syarat-syarat shalat, tentang akidah, tentang sifat-sifat Allah, tentang takdir, atau tentang iman, dengan apa kalian akan menjawab?'
​Mereka berkata: 'Tidak, kami hanya menyampaikan nasihat-nasihat (mau'izhah).'
Saya jawab: 'Baik, nasihat itu pun harus tegak di atas dalil. Dengan apa kalian menasihati orang sedangkan kalian tidak tahu dalil?'
Mereka berkata kepada kami: 'Kami membawakan kisah-kisah.'
Saya katakan: 'Nah, inilah masalahnya, karena kisah-kisah itu semuanya adalah kedustaan.'

​Maka saya katakan kepada mereka: 'Bertakwalah kepada Allah, pulanglah ke negeri kalian, dan jagalah anak-anak kalian yang kalian tinggalkan sekarang dan kalian telantarkan karena kalian keluar (khuruj)—sebagaimana yang dilakukan sebagian pengikut kelompok ini. Belajarlah ilmu! Jika kalian sudah mendapatkan ilmu, barulah kalian keluar untuk berdakwah di jalan Allah.'"

[​Cerita Kedua: Pengalaman di Kenya]

​"Dan kelompok lain kami jumpai di Kenya. Kami mendatangi masjid, dan saat itu saya bersama beberapa masyaikh; saya sendiri bertindak sebagai ketua rombongan daurah tersebut. Mereka (anggota kelompok tersebut) bertanya kepada para masyaikh: 'Untuk apa kalian datang?'
 Kami menjawab: 'Untuk dakwah dan mengajar (tadris).'
​Mereka bertanya lagi: 'Di mana kalian menginap?' Kami menjawab: 'Di hotel.'
Mereka berkata: 'Tidak boleh, seorang da'i itu tidak menginap di hotel.'
Maka para masyaikh memahami siapa mereka, lalu berkata: 'Fulan (Syaikh Ibrahim_pent) adalah direktur daurah ini, pergilah menemui beliau.'
​Lalu mereka mendatangiku dan berkata: 'Masya Allah, kalian ini adalah para masyaikh dan doktor , bagaimana bisa kalian menginap di hotel? Seorang da'i itu seharusnya tinggal di masjid, makan di masjid, dan minum di masjid.'
​Saya katakan kepada mereka: 'Saya tahu kalian punya semangat untuk saling mengunjungi karena Allah dan kalian menyukai cara seperti itu. Tapi di sini (pembicaraan di masjid) tidaklah tepat. Datanglah menemui kami malam ini di hotel, kalian makan malam bersama kami, dan kami ingin mendengar penjelasan dari kalian.' Mereka pun setuju.
​Saat itu saya sedang mengisi pelajaran tentang Wasithiyah setelah Maghrib. Ketika saya kembali ke hotel setelah Isya, saya mendapati mereka sudah berkumpul bersama para masyaikh lainnya. Saya katakan kepada mereka: 'Bagaimana metode kalian? Saya ingin mendengar langsung dari kalian.'
Maka berdirilah salah seorang dari mereka—kebetulan saudara-saudara ini berasal dari Al-Qashim (salah satu wilayah di Saudi), yang merupakan negeri tauhid dan negeri para ulama.

​Ia bercerita: 'Awal mula ketika kami keluar (khuruj), kami mengumpulkan uang, masing-masing membayar jumlah tertentu, lalu kami membeli makanan. Kemudian kami menuju ke suatu tempat, misalnya ke Riyadh, Jeddah, atau Madinah.'
Ia melanjutkan: 'Kami tidak mendatangi orang-orang shaleh, melainkan kami mendatangi para pelaku kriminal dan orang-orang fasik'—begitulah ia mengatakannya. 'Kami mendatangi orang yang jahat, durhaka pada orang tua, pemutus silaturahmi, peminum khamar, atau pezina. Lalu kami mengajaknya ikut bersama kami, kami membawanya keluar dari negerinya ke negeri lain. Jika dia di Riyadh, kami bawa ke Jeddah, jika di Jeddah kami bawa ke Madinah. Jika di dalam Kerajaan (Saudi), kami bawa ke Mesir.'
​Ia berkata lagi: 'Jika kami sampai di negeri tujuan, kami mengunjungi orang lain lagi, lalu kami mulai membagi tugas dakwah.'
Ia berkata: 'Tugas pertama yang kami lakukan adalah menunjuk orang yang kami ajak tadi (si pelaku maksiat tadi), kami katakan padanya: Hari ini giliranmu yang berdakwah!'
​Saya bertanya: 'Orang yang kamu sebut penjahat tadi?'
Ia menjawab: 'Iya, karena cara terbaik untuk bertaubat adalah dengan menjadi da'i.'
Saya katakan: 'Maksudmu, bagaimana dia bisa berdakwah sedangkan kamu sendiri bilang dia orang bodoh (jahil) dan tidak tahu apa-apa?'
Dia menjawab: 'Saya yang membimbingnya dari belakang'—begitulah katanya.

​Saya bertanya dalam hati: Apakah ini dakwah yang diperintahkan Allah? Kamu bilang dia penjahat, begini dan begitu, lalu dia disuruh berdakwah kepada manusia? Bagaimana dia bisa mengajak kepada sesuatu yang dia sendiri tidak tahu, dan mengajak pada sesuatu yang dia sendiri tidak amalkan?

​Lalu saya menyadari bahwa mereka benar-benar orang awam. Saya katakan: 'Saya tidak akan mendebat kalian dalam masalah ilmu, saya akan mengajak kalian berdiskusi tentang 'Fadhailul A'mal' (keutamaan amal).'
Saya katakan: 'Saya menulis buku berjudul 'At-Tajrid fil Ittiba' fi Asbabi Tafadhulil A'mal'. Buku itu saya susun selama 3 tahun hingga menjadi 250 halaman lengkap dengan dalil-dalilnya. Seandainya saya menulis hanya dari pikiran saya, mungkin dalam sehari saya bisa menulis 200 halaman, tapi ini saya kumpulkan selama 4 tahun. Saya ingin bertanya kepada kalian soal fadhailul a'mal.'
​Mereka berkata: 'Kami tidak tahu soal itu.' Padahal mereka bilang mereka berdakwah untuk fadhail (keutamaan).
Saya ulangi: 'Saya tanya soal keutamaan amal.' Mereka jawab: 'Kami tidak tahu.'
Saya tanya lagi: 'Apakah kalian tahu jenis-jenis keutamaan (tafadhul) antar amalan; berdasarkan jenisnya, berdasarkan kontinuitasnya (mudawamah), berdasarkan kesederhanaannya (iqtishad), berdasarkan manfaat yang meluas (ta'addi), atau berdasarkan si pelakunya?'
Mereka jawab: 'Tidak tahu.'
​Saya katakan: 'Baik, kita pindah ke hal yang lebih mudah. Saya tanya padamu, apa doa yang kamu baca ketika ingin tidur?'
Demi Allah, dia tidak sanggup menyebutkannya, malah membawakan hadits palsu (maudhu'), lalu hadits lainnya, dan dia tidak sanggup menyempurnakannya.
Saya katakan: 'Bagaimana kalian mengajak pada sesuatu yang kalian sendiri tidak kuasai?'

​Maka ini adalah pengalaman pribadi saya bersama mereka.

Pernah juga datang seorang pria menemui saya dan berkata: 'Demi Allah, saya sudah ikut mereka (Jama'ah Tabligh) selama bertahun-tahun, tapi demi Allah sampai sekarang saya tidak bisa membaca Al-Fatihah dengan benar.'
​Dakwah macam apa ini? Seseorang keluar untuk dakwah bertahun-tahun tapi sampai sekarang shalat saja tidak bisa dan tidak bisa membaca Al-Fatihah? Ini adalah suatu kesia-siaan.

Hendaknya saudara-saudara kita waspada terhadap mereka, jangan menjerumuskan anak-anak mereka bersama kelompok ini, karena mereka adalah orang-orang jahil, dan orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan bisa memberikannya (faqidus syai’ la yu’thi). Padahal mereka membanggakan diri dengan berkata: 'Kami bahkan sudah masuk sampai ke Israel.'"  Padahal Israel tidak akan membiarkan da'i yang membawa kebenaran masuk, mereka membiarkan kalian masuk karena mereka tahu kalian itu merusak dan tidak membangun di atas ilmu."
https://youtu.be/flUuvPqZzjw?si=KBGyBpdT7Al-MZ3j