Culture shock Sayyiduna Umar ketika sampai di Madinah, beliau menyampaikan,
"Kami orang-orang Quraisy adalah kaum yg mendominasi (mengatur) para wanita (istri). Namun, ketika kami datang ke kaum Anshar (di Madinah), ternyata mereka adalah kaum yg diatur oleh istri-istri mereka"
Masyarakat Quraisy itu budaya patriarkinya cukup kuat, laki-laki memegang kendali penuh, sedangkan kaum Anshar, para wanitanya dikenal lebih berani dan vokal.
Lanjut perkataan Sayyiduna Umar, "setelah tinggal di Madinah, para wanita Muhajirin mulai tertular keberanian wanita Anshar". 😁
Ini bisa kita lihat bagaimana vokalnya istri Sayyiduna Umar dan beberapa sahabat yg lain, bahkan Nabi sendiri beberapa kali "didebat" oleh istri-istri beliau.
Islam datang di tengah dua budaya ini untuk memberikan keseimbangan. Nabi Muhammad ﷺ sendiri menunjukkan keteladanan dengan memperlakukan istri-istrinya dengan penuh hormat, mendengarkan pendapat mereka, dan tidak bersikap otoriter, meskipun budaya Mekkah saat itu sangat keras.
__
Sebagai faidah, dari sekian istri-istri Nabi ﷺ, tidak ada di antara mereka dari kaum Anshar, Nabi tidak menikahi perempuan Anshar, karena kata beliau ﷺ,
إن فيهن غيرة شديدة وأنا صاحب ضرائر، وأكره أن أسوء قومهن فيهن
"Sesungguhnya dalam diri perempuan Anshar itu ada sifat kecemburuan yg besar, sedangkan saya memiliki banyak istri, saya tidak suka berbuat buruk kepada kaum mereka (Anshar) melalui (kesan buruk) di mereka"
[دولة الرسول في المدينة، ٢٦]