Jumat, 06 Februari 2026

JIKA HANYA PENGUASA YANG SHALEH SEMENTARA RAKYAT RUSAK, PENGUASA TIDAK AKAN MAMPU MEMPERBAIKI RAKYAT

JIKA HANYA PENGUASA YANG SHALEH SEMENTARA RAKYAT RUSAK, PENGUASA TIDAK AKAN MAMPU MEMPERBAIKI RAKYAT

Faidah dari penjelasan Syaikh Abdul Aziz Ar Rayyis hafidzahullahu

Manhaj Salaf dalam bab perbaikan umat bukanlah dengan menyibukkan diri mengurusi penguasa. Sesungguhnya Salaf dalam bab perbaikan menyibukkan diri dengan memperbaiki kondisi rakyat. Inilah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan diikuti oleh generasi setelahnya. Fokus asalnya adalah pada rakyat; jika rakyat shaleh, maka penguasa akan menjadi shaleh.

Adapun jika penguasa menjadi shaleh sendirian tanpa rakyatnya, maka penguasa tersebut tidak akan mampu memperbaiki rakyatnya. Bukti paling nyata dan dalil yang sangat kuat mengenai hal ini adalah 𝗞𝗶𝘀𝗮𝗵 𝗥𝗮𝗷𝗮 𝗡𝗮𝗷𝗮𝘀𝘆𝗶.

𝟭. 𝗣𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗞𝗶𝘀𝗮𝗵 𝗡𝗮𝗷𝗮𝘀𝘆𝗶

Najasyi rahimahullahu masuk Islam, padahal sebelumnya ia adalah seorang penguasa Nasrani yang adil. Ia kemudian masuk Islam dan tetap melanjutkan kekuasaannya memimpin kaum Nasrani. Namun, apa yang terjadi? Ia tidak mampu menampakkan keislamannya secara utuh di hadapan rakyatnya yang belum shaleh.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata dalam kitab Minhajus Sunnah, disebutkan bahwa Najasyi bahkan tidak bisa melaksanakan shalat karena takut kepada kaumnya, padahal statusnya adalah seorang penguasa yang Muslim.

Ketika Najasyi wafat, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam keluar bersama para Sahabat dan memerintahkan mereka membuat saf untuk menyalatkannya. Beliau bersabda: "Sesungguhnya saudara kalian, Najasyi, telah wafat," lalu beliau melakukan shalat ghaib untuknya. (HR. Bukhari & Muslim). 

Pelaksanaan shalat ghaib ini menunjukkan bahwa di negerinya, tidak ada yang menyalatkannya secara Islam.

𝗜𝗻𝘁𝗶 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗽𝗲𝗿𝗺𝗶𝘀𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗶𝗻𝗶 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵: Najasyi adalah seorang penguasa Muslim, namun ia tidak mampu mengubah kaumnya. Hal ini membuktikan bahwa perbaikan itu harus dimulai dari rakyat. Jika rakyat baik, barulah penguasa akan baik. Sebaliknya, kesalehan penguasa saja tidak cukup untuk memperbaiki rakyat yang rusak.

𝟮. 𝗗𝗮𝗹𝗶𝗹 𝗣𝗲𝗻𝗱𝘂𝗸𝘂𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗦𝗶𝗿𝗮𝗵 𝗡𝗮𝗯𝗶

Hal ini sejalan dengan sikap Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di awal dakwah. Telah Shahih dalam Sirah Ibnu Ishaq yang dinilai hasan atau jayyid oleh Al-Albani rahimahullahu, bahwa orang-orang kafir Quraisy pernah datang menawarkan harta dan kekuasaan kepada Nabi: "Jika engkau menginginkan kerajaan (kekuasaan), kami angkat engkau menjadi raja atas kami."

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menoleh kepada tawaran tersebut. Beliau mengetahui bahwa perbaikan harus dimulai dari rakyat (bawah). Jika beliau menerima menjadi raja sementara rakyatnya masih rusak, beliau tidak akan mampu memperbaiki mereka, sebagaimana yang dialami Najashi.

𝟯. 𝗞𝗮𝗶𝗱𝗮𝗵 𝗦𝘆𝗮𝗿’𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗻𝗻𝗮𝘁𝘂𝗹𝗹𝗮𝗵

Prinsip ini dikuatkan oleh firman Allah Azza wa Jalla:

"Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang dzolim itu memimpin sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan." (QS. Al-An'am: 129).

Mafhum mukholafah dari ayat ini adalah jika rakyat dzolim, mereka akan dipimpin oleh penguasa dzolim. Sebaliknya, jika mereka shaleh, Allah akan memberikan penguasa yang shaleh.

Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam kitab Miftah Daris Sa'adah menegaskan kaidah ini dengan kalimat yang agung:

"Amal-amal kalian adalah (cerminan) penguasa kalian. Jika amal perbuatan kalian baik, maka penguasa kalian akan baik. Jika amal kalian rusak, maka rusak pula penguasa kalian."

𝟰. 𝗞𝗲𝘀𝗶𝗺𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻

Oleh karena itu, tidak sepatutnya menyibukkan diri dengan menuntut penguasa sementara rakyat dibiarkan. Kaum Salafiyyin harus menyibukkan diri dengan yang lebih penting, yaitu memperbaiki rakyat dengan dakwah Tauhid dan memperingatkan dari bid'ah.

Secara akal pun, akses kepada rakyat jauh lebih mudah daripada akses kepada penguasa. Kesesatan, kesyirikan, dan bid'ah banyak tersebar di tengah rakyat dan kita hidup bersama mereka. Maka, perbaikan harus dimulai dari yang mampu kita jangkau, yaitu rakyat.

Faidah diambil dari video yang berjudul "سلسلة اللقاءات الحوارية (21) شبهة الاستدلال ببعض الآثار على غيبة الحكام" pada klip video yang berjudul " شبهة الاستدلال ببعض الآثار على غيبة الحكام" pada menit 00:00
https://www.facebook.com/share/p/1Kfe4DVjQ2/