Jujur saja, saya tidak memiliki emas digital dalam bentuk aplikasi konvensional. Tapi sebagai orang yang bergelut di dunia sistem, saya merasa terusik ketika sebuah teknologi dianggap "haram" atau "palsu" hanya karena alasan "barangnya tidak kelihatan di depan mata".
Kalau logikanya harus melihat barang secara fisik, maka kita semua terjebak dalam inkonsistensi yang akut:
Kita percaya saldo bank, padahal cuma angka digital.
Kita percaya ijazah, padahal cuma kertas hasil audit kampus.
Kita percaya hadis, padahal kita tidak mendengar langsung tapi melalui jalur "audit" perawi.
Bahkan bagi saya, Emas Blockchain adalah evolusi tertinggi dari kepercayaan ini. Di sana, transparansi bukan lagi sekadar janji manusia, tapi dikunci oleh algoritma dan smart contract. Ini adalah bentuk pencatatan yang paling jujur karena setiap gramnya terverifikasi oleh sistem yang tidak bisa dimanipulasi sepihak.
Pencerahannya begini: Tujuan emas digital atau emas blockchain itu satu: Likuiditas. Kita ingin aset kita aman, diaudit secara profesional, dan bisa cair kapan saja tanpa hambatan jarak. Kalau tujuannya mau dibawa pulang untuk dipajang, ya beli emas fisik saja, itu urusan selera. Tapi jangan salahkan teknologinya apalagi mengharamkannya hanya karena kita gagal paham cara kerja audit dan verifikasi.
Dunia sudah berpindah dari kepercayaan berbasis "melihat fisik" ke kepercayaan berbasis "sistem yang terverifikasi". Menolak sistem audit di era digital ini ibarat menolak oksigen di tengah atmosfer—kita tidak bisa hidup tanpa sistem kepercayaan pada pihak ketiga yang kredibel.
Mari lebih dewasa dalam berlogika. Jangan sampai ketidaktahuan kita terhadap sebuah sistem justru membuat kita mudah melabeli sesuatu dengan hukum yang berat.
Dah gitu saja.
Ustadz noor akhmad setiawan