Selasa, 10 Februari 2026

Coretan Rangkaian Faidah Daurah Mukatsafah STAI Ali bin Abi Tholib (ra) – Sesi ke-02*

✅ *Coretan Rangkaian Faidah Daurah Mukatsafah STAI Ali bin Abi Tholib (ra) – Sesi ke-02*

*Pemateri: Syaikh Dr. Muhammad Hisyam Thohiri*

*Liqo’ Pertama: Pembukaan daurah dan pengantar biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah*

Di antara faidah penting yang disampaikan terkait urgensi penyebutan biografi lengkap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam karya-karya beliau adalah sebagai berikut:

1. *Penjelasan waktu kelahiran dan wafat beliau*
- Penyebutan tanggal lahir dan wafat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bukan sekadar data historis, tetapi memiliki dimensi epistemologis dan metodologis.
- Tujuannya agar pembaca memahami konteks zaman yang beliau hadapi dan jalani.
- Dengan demikian, tidak muncul anggapan keliru bahwa beliau berfatwa atau berpendapat tanpa memahami realitas sosial, problematika umat, fitnah pemikiran, dan krisis yang berkembang pada masanya.
- Di antara realitas besar yang beliau hadapi adalah serangan bangsa Mongol terhadap negeri-negeri kaum Muslimin, yang sangat memengaruhi dinamika politik, sosial, dan keagamaan saat itu.

2. *Penjelasan lingkungan tempat beliau tumbuh*
- Lingkungan tempat seseorang tumbuh memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter, cara berpikir, dan arah kehidupan seseorang.
- Sebagaimana kaidah yang dikenal: إنَّ البيئةَ مُؤثِّرَةٌ (Sesungguhnya lingkungan itu sangat berpengaruh).
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah lahir dan besar dalam lingkungan yang sarat dengan ilmu, fikih, dan komitmen keagamaan.
- Jika ditelusuri silsilah keluarga beliau, para ayah dan kakeknya hingga ke atas adalah ulama yang memiliki kedudukan ilmiah.
- Lingkungan inilah yang menjadi faktor penting—dengan izin Allah—dalam membentuk kepribadian ilmiah Ibnu Taimiyah, hingga beliau tumbuh menjadi seorang ulama besar yang kokoh dalam ilmu, tegas dalam prinsip, dan luas dalam pandangan.

*Penutup*
Dengan memahami biografi dan lingkungan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, kita tidak hanya membaca pemikiran beliau secara tekstual, tetapi juga memahaminya secara kontekstual. Hal ini melahirkan sikap ilmiah yang adil, proporsional, dan jauh dari penilaian simplistis terhadap para ulama.
ustadz ibrahim maurinho suares