Minggu, 15 Februari 2026

ANTARA NORMATIVITAS DAKWAH DAN REALITAS SOSIAL JAMA’AH

[ANTARA NORMATIVITAS DAKWAH DAN REALITAS SOSIAL JAMA’AH]

Ada sebagian penceramah yang menyerukan:
“Fokus ibadah di bulan Ramadan, jangan sibuk dunia, jangan hubbuddunya.”

Secara normatif, seruan ini tentu benar 👍
Ramadan memang momentum tazkiyatun nafs, bulan peningkatan kualitas ibadah dan kedekatan kepada Allah.
Namun persoalan muncul ketika nasihat tersebut disampaikan secara umum tanpa melihat kondisi sosial-ekonomi jamaah yang beragam.
Dalam metodologi dakwah, ada prinsip penting:

  فهم الواقع قبل تنزيل الحكم                                                                              
“Memahami realitas sebelum menurunkan hukum”.

Tidak semua kesibukan ekonomi di bulan Ramadan lahir dari cinta dunia.
Sebagian justru lahir dari kebutuhan dasar.
Ada jamaah yang sepanjang tahun kesulitan pemasukan, dan hanya di bulan Ramadan mereka punya peluang tambahan: jualan takjil, kurma, pakaian muslim, kue lebaran, dan lain-lain. Bagi mereka, Ramadan bukan hanya bulan spiritual, tapi juga bulan “bertahan hidup” 
Kalau dagangannya laris, itu bukan otomatis hubbuddunya (cinta dunia) tapi itu namanya hubbul ‘iyal (cinta kepada keluarga)😊.

Islam sendiri tidak pernah memisahkan ibadah dari kerja. Mencari nafkah halal untuk keluarga adalah kewajiban. Bahkan dalam banyak penjelasan ulama, memberi nafkah kepada istri dan anak termasuk amal berpahala dan bagian dari tanggung jawab syar’i.

Di sini perlu ditegaskan:
Justru seseorang yang meninggalkan pekerjaan atau meliburkan dagangannya dengan alasan ingin fokus ibadah Ramadan, tetapi akibatnya ia melalaikan kewajiban menafkahi keluarga hingga keluarganya tidak hidup layak di bulan Ramadan dan hari raya maka ia berdosa karena melalaikan kewajiban nafkah.

Sebab kewajiban tidak gugur oleh kesunnahan.
Ibadah sunnah tidak boleh menabrak kewajiban.
Tidak tepat jika seseorang rajin i’tikaf, tetapi anaknya tidak punya pakaian layak untuk Idul Fitri. Tidak proporsional jika seseorang khusyuk tarawih, tetapi keluarganya kekurangan makan karena ia sengaja menghentikan sumber nafkahnya.

Kalau ukuran kesalehan Ramadan adalah berhenti kerja total, lalu dapur di rumah berhenti berasap… jangan-jangan yang berasap justru emosi istri di rumah 😅

Lebih jauh lagi, hendaknya seorang dai memahami konteks dan tidak memukul rata bahwa semua orang yang bekerja atau berusaha lebih keras di bulan Ramadan adalah pecinta dunia.

Berbicara tentang ekonomi tidak sesederhana berbicara keutamaan bulan Ramadan dari mimbar ke mimbar. 
Realitas ekonomi itu kompleks, penuh variabel, dan terkait kebutuhan dasar manusia. Ia membutuhkan perincian, pendalaman, serta sensitivitas sosial bukan generalisasi.
Dakwah yang baik bukan hanya normatif, tetapi juga kontekstual dan paham lapangan.

Seorang dai tidak cukup membawa dalil, tetapi juga harus membawa empati, demikian pula, perlu ada konsistensi moral.
Seorang ustadz yang menyuruh jamaah untuk meninggalkan “kesibukan dunia” di bulan Ramadan, sementara dirinya sendiri menerima undangan ceramah sana sini di bulan Ramadan, menerima amplop besar dari panitia setiap kali ceramah, hendaknya juga melakukan refleksi diri (ngaca).

Menerima honor ceramah bukanlah dosa. Itu bagian dari hak profesional dan bentuk penghargaan atas ilmu. 
Namun jika aktivitas ekonomi jamaah dicurigai sebagai hubbuddunya, sementara pemasukan pribadi dianggap wajar tanpa standar yang sama, di situlah muncul ketimpangan cara pandang.

Kalau dunia yang masuk ke kantong jamaah disebut cinta dunia,
maka dunia yang masuk ke amplop ustadz juga perlu diberi definisi yang adil 😄

Kalau semua yang dapat pemasukan tambahan di Ramadan dianggap hubbuddunya, maka jadwal ceramah yang padat juga bisa disebut hubbuddunya, hubbulmaal, hubburriaasah, hubbussyuhroh.

Ramadan adalah bulan ibadah… itu benar.
Tapi ia bukan bulan mengabaikan tanggung jawab.
Yang tercela bukan bekerja di bulan Ramadan.
Yang tercela adalah ketika dunia melalaikan kewajiban, atau ketika ibadah dijadikan alasan untuk menelantarkan amanah kewajiban menafkahi keluarga.
Karena dalam Islam, bekerja dan beribadah bisa dilakukan tanpa dipertentangkan.

Dunia bukan untuk diprioritaskan, tapi juga bukan untuk ditinggalkan.
Ia ditundukkan agar menjadi wasilah jalan menuju akhirat.

Keterangan gambar :
Dahulu saya ketika berprofesi sebagai tukang sol sendal sepatu, saya tetap bekerja seharian penuh di bulan Ramadan sampai menjelang magrib, dan malamnya jadi imam terawih di masjid kadang setengah juz kadang satu juz tergantung  request panitia dan DKM.
Dulu ketika beranjak dari rumah menuju kantor sol sepatu di pinggir jalan dekat pasar KM 4 Perawang saya bersumpah gak akan maafin diri sendiri jika keluarga saya gak makan atau gak bisa makan layak walau satu hari saja.
Ustadz ayahnya mualim