Senin, 16 Februari 2026

Sering muncul anggapan bahwa pembiayaan bank syariah di Indonesia lebih mahal dibanding konvensional

Sering muncul anggapan bahwa pembiayaan bank syariah di Indonesia lebih mahal dibanding konvensional. Perlu dipahami, persoalannya bukan pada akadnya, tetapi pada struktur industri.
Penjelasan ini pernah saya dapatkan langsung saat presentasi dari pihak Bank Syariah Indonesia dalam kegiatan sertifikasi dai Majelis Ulama Indonesia.
Beberapa poin pentingnya:
1️⃣ Akad berbeda.
Murabahah adalah jual beli dengan harga tetap yang disepakati di awal, bukan bunga atas utang. Secara tampilan total bisa terlihat lebih besar, tetapi strukturnya berbeda secara fiqh.
2️⃣ Skala dan dana murah belum sebesar bank konvensional.
Bank syariah belum sebesar Bank Mandiri atau BCA.
Dana murah (giro/tabungan) yang dominan di bank besar membuat biaya dana mereka lebih rendah.
3️⃣ Masih dalam sistem moneter berbasis suku bunga.
Selama acuan nasional ditetapkan oleh Bank Indonesia, pricing bank syariah sulit sepenuhnya terlepas dari dinamika tersebut.
📌 Jika skala, efisiensi, dan risiko sama, margin pembiayaan syariah bisa setara — bahkan kompetitif.
Karena itu, mahal atau murah bukan ditentukan oleh label “syariah” atau “konvensional”, melainkan oleh struktur biaya, skala usaha, dan efisiensi.
Ustad noor akhmad setiawan