Dahulu di Desa Marda, Baitul Maqdis, terdapat sebuah tradisi yang unik sekaligus sarat makna. Ketika keluarga mengantar mempelai wanita ke rumah suaminya, mereka turut membawa serta kitab Al-Inshaf karya Imam Al-Mardawi rahimahullah, salah satu ulama besar mazhab Hanbali.
Kitab itu bukan sekadar bawaan. Ia adalah simbol. Simbol bahwa putri mereka tumbuh dalam lingkungan ilmu, terdidik dengan literatur fiqih tingkat tinggi, dan dibesarkan dalam tradisi keilmuan yang kokoh.
Kisah ini dinukil dari penuturan lisan yang diwariskan turun-temurun.
-selesai-
Pelajaran Penting dari Tradisi Ini:
1. Standar Literasi yang Tinggi
Al-Inshaf bukan kitab ringkas untuk pemula. Ia adalah kitab tashih dan tarjih dalam mazhab Hanbali, membahas perbandingan riwayat serta penetapan pendapat yang mu’tamad. Membawanya sebagai simbol menunjukkan bahwa seorang wanita dihargai bukan hanya karena nasabnya, tetapi karena kedalaman ilmunya.
2. Muru’ah dan Perlindungan bagi Istri
Ada pesan halus yang tersimpan di balik tradisi ini:
“Istri yang engkau nikahi adalah wanita yang paham agama dan tahu hak-haknya.”
Ini bukan ancaman, melainkan penjagaan muru’ah. Keluarga menunjukkan bahwa mereka adalah Ahlul Ilmi, sehingga perlakuan terhadap putri mereka harus selaras dengan syariat dan adab.
3. Identitas dan Loyalitas Mazhab
Sebagai masyarakat Marda, daerah asal Imam Al-Mardawi. Membawa karya ulama mereka sendiri adalah bentuk izzah ilmiah. Ia menegaskan kesinambungan transmisi mazhab Hanbali sekaligus kebanggaan terhadap warisan keilmuan lokal.
Allahu a'lam
______________________
سابقًا في مردا ببيت المقدس
كانت العروس إذا زفها أهلها إلى بيت زوجها حملوا معها كتاب الإنصاف للمرداوي الحنبلي ليظهروا أن ابنتهم متعلمة.
وننقل هذا من الأخبار المسموعة
Credits Omar Zahde