Jika kita lepaskan dari konstruksi penanggalan internasional (International Date Line) dan kembali pada hakikat kalender hijriyah, maka dasarnya adalah rukyah atau wujud hilal — bukan tanggal sipil global.
Kalender hijriyah berbasis pada peristiwa langit: kemunculan hilal setelah ijtimak. Ia mengikuti rotasi bumi, bukan mengikuti pembagian tanggal administratif modern.
Karena bumi berputar, malam datang bergiliran. Secara astronomis sangat mungkin:
Satu wilayah sudah masuk 1 Ramadhan,
wilayah lain belum,
dan wilayah paling barat bahkan baru mengalami ijtimak beberapa jam kemudian.
Secara ontologis — dan juga secara historis — 1 Ramadhan memang tidak harus simultan secara global.
Perasaan “harus seragam” muncul karena kita hidup dalam sistem kalender internasional yang menuntut satu tanggal global yang rapi. Padahal dalam fikih klasik, pembahasan tentang ikhtilaf al-mathali’ sudah mengakui kemungkinan perbedaan awal bulan antarwilayah, dan itu tidak dianggap cacat.
Dengan kata lain:
Kalender Masehi dibangun untuk keseragaman administrasi global.
Kalender Hijriyah dibangun atas observasi langit yang mengikuti rotasi bumi.
Maka jika menggunakan rukyah, terutama dengan pendekatan lokal atau regional, perbedaan awal Ramadhan adalah sesuatu yang wajar.
Keseragaman global adalah pilihan metodologis modern, bukan keniscayaan ontologis kalender hijriyah itu sendiri.
Pada titik ini, diskusinya menjadi lebih filosofis:
apakah yang kita inginkan adalah kesatuan tanggal administratif, atau mengikuti dinamika astronomi sebagaimana adanya?
Itu soal pendekatan — bukan semata soal benar atau salah.
Ustadz noor akhmad setiawan