📌 Tentang Klaim Rukyat di Tumair dan Data Astronomi
Dalam beberapa kasus, terdapat laporan kesaksian rukyat hilal dari Tumair (Saudi), sementara data astronomi pada waktu yang sama menunjukkan parameter yang sangat ekstrem:
Elongasi sekitar 1°
Ketinggian bulan hampir 0°
Illuminasi 0%
Fase sangat dekat konjungsi (ijtimak)
Secara astronomi modern, kondisi ini berada di bawah batas fisik pembentukan sabit tipis (Danjon limit ±7°). Dalam model visibilitas global seperti Yallop atau Odeh, parameter tersebut masuk kategori impossible visibility.
Artinya, secara sains, hilal pada kondisi tersebut hampir mustahil terlihat, bahkan dengan alat optik.
Namun dalam praktik fikih klasik, penetapan awal bulan bisa didasarkan pada kesaksian yang dianggap adil dan diterima oleh otoritas syar’i. Di sinilah terjadi perbedaan pendekatan epistemologis:
Astronomi → berbasis model fisik dan probabilitas optik, digunakan oleh pemahaman rukyat adalah ta'aquli seperti pengamal hisab murni tanpa rukyat.
Fikih klasik → berbasis syahadah (kesaksian manusia), digunakan oleh pemahaman rukyat adalah ta'abudi seperti KSA.
Pendekatan integratif → menerima kesaksian selama tidak bertentangan dengan hisab yang qath’i, digunakan oleh pemahaman kombinasi ta'abudi dan ta'aquli seperti NKRI.
Diskusi seperti ini bukan untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan untuk memahami bahwa perbedaan sering kali bukan pada dalil, tetapi pada cara memahami realitas (tashawwur) dan cara menetapkan kriteria kepastian.
Dalam konteks ilmu, klaim yang bertentangan dengan data fisik perlu diuji dan diverifikasi. Dalam konteks fikih, kehati-hatian dan integrasi ilmu menjadi sangat penting agar keputusan ibadah tetap kokoh secara syar’i dan rasional.
Perbedaan ini wajar dalam wilayah ijtihad. Yang tidak wajar adalah saling menuduh tanpa memahami fondasi metodologinya.
Wallahu a’lam.