Kamis, 19 Februari 2026

HISAB terkait FIQIH

HISAB terkait FIQIH

Tahun 2020 Muhammadiyah dan Persis sama-sama menghisab, tetapi kenapa hasilnya berbeda?

Karena beda JENIS. Yang satu menghisab urutan tenggelam (kerap disebut "wujudul hilal"), yang satunya lagi menghisab visibilitas ("imkan ru'yah").

Tahun 2021 Persis dan Pemerintah sama-sama menghisab, dengan jenis yang sama (hisab imkan ru'yah), tetapi kenapa hasilnya berbeda?

Karena beda KRITERIA. Yang satu menggunakan 2-3-4 (Old-MABIMS), yang satunya lagi menggunakan Kriteria LAPAN (yang kemudian menjadi Neo-MABIMS 364).

Tahun 2023 Persis dan Pemerintah sama-sama menggunakan Hisab, dengan jenis yang sama, bahkan dengan kriteria yang sudah sama (malahan sudah diselaraskan lagi rinciannya di Bali), tetapi kenapa waktu pengumumannya berbeda?

Karena beda FUNGSI. Yang satu menggunakannya untuk menetapkan (itsbat--terlepas soal SK Ulil Amri), yang satunya lagi menggunakannya untuk verifikasi (menafikan).

Sistem hisab Muhammadiyah yang tahun lalu dengan yang tahun sekarang sama-sama adalah hisab, dan sama-sama difungsikan hisabnya untuk penetapan bukan hanya verifikasi, tetapi kenapa hasilnya untuk Ramadan 1447 H ini berbeda?

Karena beda jenis. Satunya hisab urutan tenggelam, satunya hisab imkan ru'yah.

Juga karena beda CAKUPAN (orang kadang menyebutnya markaz atau bahkan mathla'). Yang satu menghisab keadaan di satu kawasan (yaitu Jogja), yang satunya lagi menghisab keadaan di seluruh dunia.

Sekarang: Muhammadiyah dan Turkiye sama-sama menghisab, dengan jenis yang sama (Imkanurru'yah), difungsikan secara sama (untuk Itsbat kts), dan cakupannya pun sama (sedunia termasuk Amerika, secara unifikasi bukan dwizonal), bahkan menggunakan IDL yang sama, tetapi kenapa hasilnya berbeda?

Bahkan yang lebih Timur (PPMU) malah duluan dibanding yang lebih barat (Diyanet)?

Karena beda patokan. Yang satu pakai standar geosentrik, yang satunya lagi standar toposentrik. Toposentrik itu sendiri ada yang airless dan ada yang dengan pertimbangan dib & refraksi atmosfer (membuat penampakan benda langit menjadi lebih tinggi dari kondisi objektifnya).

[Ini belum lagi kalau ditambah dengan urusan patokan waktu Subuh. Apakah Subuh di New Zealand itu dengan standar 18, 20, ataukah 13 derajat. Kemudian urusan daratan, kepulauan, dan lautannya. Kemudian detail faktor koreksi pada data perhitungannya.]

Semua penggunaan HISAB ini menghasilkan keputusan awal bulan yang berbeda. Padahal sama-sama Kalkulasi Astronomis yang versinya sering disebut "Kontemporer" atau Tahqiqi Tadqiqi (semacam "La Syiyata Fiha"). Angka hasil hisabnya pun, walau tidak persis 100% seiring perbedaan aplikasi, nyaris mendekati identik.

Kenapa bisa begini?

Karena Hisab itu tidak bisa berdiri sendiri. Hisab itu hanya menghitung, maka hasilnya ya hanya informasi angka-angka posisi benda langit (bulan dan matahari). Adapun mau dipakai apa angka-angka ini (dan bagaimana serta dari dan untuk siapa), itu adalah ranahnya Fiqih.

Pandangan Fiqih-lah yang menentukan objek yang dihisab itu apanya. Kemudian kriterianya menggunakan kriteria yang mana. Kemudian cakupan hisabnya ke mana saja. Kemudian difungsikannya sebagai apa.

Jadi, Hisab (sesuai tabiatnya) tidak bisa secara langsung menentukan apakah masuk bulan baru ataukah tidak (apakah besok wajib puasa/berbuka ataukah tidak). Yang menentukan itu adalah pandangan Fiqih, sebab memang berkaitan dengan Hukum Wad'i (sabab-musabbab) dan juga hukum taklifi (wajib-boleh).

Lalu sudah maklum bahwa yang namanya Fiqih ya basisnya Dalil. Lemah atau tidaknya berpulang ke sana.

Maka jangan terlalu kuatir. Apalagi ekstra bimbang dan ketar-ketir. :)

WA BS
Ustadz nidlol mas'ud 
Babanya sofia