~~Hati-hati syubhat ahlul bida' ketika memasukkan ikhtilaf aqidah (ushuluddin) ke dalam ranah ikhtilaf furu' yang diperbolehkan ijtihad dan toleransi di dalamnya.
📝Kita harus tahu sebuah kaedah mengenai perbedaan ikhtilaf ijtihadi dalam ranah fiqih dan ikhtilaf (dinamai iftiraq) tercela yang disebutkan di dalam hadits iftiraq ummah:
ليس كل اختلاف يوجب الافتراق، ولكن الافتراق لا يكون إلا عن الاختلاف
Sebuah kaedah penting yang masih ghaib dari benak sebagian orang, sehingga masih mencampur adukkan antara kedua lafazh ini.
🔎Contoh berbeda pendapat: Si A suka warna biru, sedangkan si B suka warna merah, si A suka sate Madura sedangkan si B suka sate Padang.
Para shahabat terkadang berbeda pendapat dalam fatwa sebagian masa'il fiqih, juga para ulama hadits terkadang berbeda pendapat dalam men-jarh & men-ta'dil perawi hadits.
📙Adapun ikhtilaf tercela yang disebutkan di dalam Kitab dan Sunnah, maka ikhtilaf tersebut merupakan ikhtilaf yang menyebabkan perpecahan di antara kaum muslimin.
📚Ranah khilaf fiqih: keabsahan suatu dalil serta dilalah dari dalil tersebut.
📚Ranah khilaf aqidah: sumber rujukan serta manhaj (metode) dalam berdalil. Contoh: sebagian firqah mengedepankan akal atas nash, dan tidak berdalil dengan hadits ahad dalam bab aqidah.
✒️Perbedaan di kedua ranah di atas sangat jelas di beberapa keadaan:
1) Para imam fiqih yang empat berpegang dengan pendapat salaf, khabar ahad, serta mengembalikan nash yg mutasyabih kepada nash yg muhkam.
Sedangkan ahlul ahwa' & bida' jauh dari perkataan dan pemahaman salaf, serta pandangan mereka sangat berbeda terhadap khabar ahad dan nash-nash yang muhkam & mutasyabih.
2) Khilaf aqidah mendatangkan perpecahan, sedangkan khilaf fiqih tidak mendatangkan perpecahan -sebagaimana yang terjadi pada ijtihad shahabat- kecuali di situ ada orang yang kaku atau fanatik sehingga memusuhi ijtihad di luar pendapat madzhabnya.
📷Pict: Kaedah ikhtilaf yang ditaqrir oleh Imam asy-Syathibi rahimahullah di dalam kitab beliau al-I'tisham. Hal yang sama juga ditaqrir oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam Majmu' al-Fatawa dan Iqtidha' ash-Shirath al-Mustaqim.