Senin, 14 Januari 2019

aqidah imam al muzani murid imam as safii

dalam kitab syarhu sunnah imam al muzani terdapat nukilan perkataan imam at tirmidzi
tidak benar ke tauhidan se seorang sampai bahwasanya meyakini Allah berada diatas arsy

Sabtu, 08 Desember 2018

Surat surat cinta

Persaudaraan dan percintaan yg didasari ikhlas karena Allah ibarat pohon yg menjulang tinggi ke langit dan akarnya menghunjam kebumi 
Pohon tersebut tumbuh di hati hati yg suci 
Pohon tersebut disirami dengan ilmu terasa manis dengan kejujuran dan menjadi besar dengan baik sangka  buahnya mimbar dari cahaya di hari kiamat apakah kita siap bernaung dibawah pohon tersebut ? Apakah kita siap melaksanakan hak hak persahabatan?
Ketika dunia menjadi gelap disekitar kita ketika kita merasakan kesepian dalam kesendirian kita mengingat cahaya persaudaraan yg tulus ikhlas karena Allah disaat yg seperti itu kita dapat tersenyum menyadari bahwa kita tidak sendirian mereka dekat dengan kita dilubuk hati kita dilubuk yg paling dalam
Tibalah pagi dan bangunlah jiwa jiwa manusia hati yg ikhlas mulai mengirimkan doa kepada orang yg dicintainya semoga Allah menjadikanmu sebagai hamba hambanya yg dicintaiNya orang orang yg paling dekat kedudukannya dengan nabi Nya dan memberikan mu minum dari air telagaNya
Tulisan diatas diceritakan oleh ustadz fariq gasim anuz hafidzahullah  dr perkenalan beliau dengan Abdullah al faraj  tulisan diatas dr abdullah al faraj sendiri dan ahli ilmu dan sebagian lagi dr  Ibnu qoyim al jauziyah rahimahullah dalam bukunya qoshidah nuniyah

Senin, 03 Desember 2018

wakil wakil iblis : mereka yang menghalang halangi manusia dari menuntut ilmu

Berkata Al-’Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah :
نواب ابليس في الارض وهم الذي يثبطون الناس عن طلب العلم والتفقه في الدين فهؤلاء أضر عليهم من شياطين الجن فانهم يحولون بين القلوب وبين هدى الله وطريقه
“Wakil-wakil iblis di muka bumi, adalah mereka yang menghalang-halangi manusia dari menuntut ilmu dan usaha memahami agama. Maka mereka itu lebih berbahaya bagi manusia, dari setan-setan jin, karena mereka memalingkan hati-hati manusia dari petunjuk Allah dan jalan-Nya.” [Miftah Daris Sa’adah, 1/160]

Minggu, 28 Oktober 2018

berhati hatilah terhadap 5 sifat wanita ini

berhati hatilah terhadap 5 sifat wanita hendaknya jangan kau nikahi

1, an nanah sifat yang suka mengeluh dan mengadu tidak ridho dengan satu hal
   tidak tertarik dengan satu hal hampir hampir tidak merasa nyaman bersama
   suaminya wanita ini tidak baik bagimu hidup bersamanya sejak suami datang
   hingga  tidur dan sampai pergi lagi ia terus mengeluh
2, hananah sifat yang membanggakan suami milik orang lain mengungkit ungkit
   masa lalu serta selalu apa yang sudah kudapatkan darimu aku harusnya dapat
   suami yang seperti fulanah, setiap melihat suaminya apes nya diriku
3, hadaqah matanya memandang segala yang ia lihat dan ingin sekali memilikinya
   jika ia pulang ke rumah ia acuh tak acuh terhadap suaminya lalu berkata
   masyaAllah si fulanah memiliki ini dan itu, sedangkan saya miskin
   bila ia pergi ke pasar semua ingin di beli olehnya
4, baraqah ia adalah yang sibuk dengan dirinya sendiri tidak peduli dengan
   suaminya dan rumahnya tidak mementingkan kecuali hanya dirinya sendiri
   perhiasan dan keadaan pribadinya tidak peduli terhadap suaminya dan juga
   tidak peduli dengan rumahnya bisa kita katakan pd hari ini dengan nama a
   ananiyah (egoisme)
5, sadaqah adalah wanita yg banyak bicara ia banyak ngomong sedikit sifat
   diamnya

nasehat disampaikan oleh syaikh sulaiman ar ruhaili
guru besar university islamic madinah

Senin, 01 Oktober 2018

Mayoritas sunnah dan kebenaran bertentangan dengan pendapat pribadi

Di dalam kitab Shahih-nya, imam Bukhari membuka salah satu bab kitab ash-Shaum dengan perkataan Abu az-Zinad,

إن السنن ووجوه الحق لتأتي كثيرًا على خلاف الرأي

Sesungguhnya mayoritas sunnah dan kebenaran bertentangan dengan pendapat pribadi” [HR. Bukhari].

Baca selengkapnya. Klik https://muslim.or.id/8067-introspeksi-diri-akhlak-yang-terlupa.html

Sabtu, 29 September 2018

Infak Mulailah dari dirimu

Mulailah dari dirimu! Lalu orang yang menjadi tanggunganmu. Berinfak untuk dirimu lebih utama daripada berinfak untuk selainnya, sebagaimana dalam hadits, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اِبْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ

Mulailah dari dirimu, bersedekahlah untuknya, jika ada sisa, maka untuk keluargamu[6]

Read more https://almanhaj.or.id/4123-tangan-di-atas-lebih-baik-dari-tangan-di-bawah.html

Kamis, 27 September 2018

Menyikapi rekomendasi ulama

MENYIKAPI REKOMENDASI ULAMA

Syaikh Abdul Aziz Ar-Rayyis –hafizhahullahu- berkata: Pujian ulama terhadap seseorang serta pemberian rekomendasi kepadanya tidak secara mutlak menunjukkan bahwa orang tersebut terpuji atau baik, terlebih lagi setelah berlalunya waktu. Walaupun jika orang tersebut memiliki kebaikan-kebaikan, tidaklah mencegah (orang alim/dai) untuk membicarakan (kesalahan atau kesesatannya) dan sekaligus memperingatkan (umat) darinya. Walaupun (jika ada orang yang beralasan) dia telah mendapat tazkiyah atau rekomendasi dari para ulama atau dengan alasan orang tersebut juga memiliki kebaikan-kebaikan atau jasa. Contoh yang paling menonjol (dalam hal ini) adalah oknum Khawarij yang membunuh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yaitu Abdurrahman bin Muljam al-Muradi. Orang ini telah mendapatkan pujian dari Sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Saya akan menyampaikan kepada anda ucapan Imam Adz-Dzahabi rahimahullahu dan juga ucapan Ibnu Hajar rahimahullahu tentang Abdurrahman bin Muljam.

Imam Adz-Dzahabi rahimahullahu berkata dalam kitabnya al-Mizan: Dia (Abdurrahman bin Muljam) adalah seorang ahli ibadah, taat kepada Allah, akan tetapi akhir hayatnya ditutup dengan kejelekan. Dialah yang membunuh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah menurut prasangkanya. Namun tetap orang ini dipotong kedua tangan dan kakinya serta lisannya dan dicungkil kedua matanya lalu dibakar. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita keselamatan dan kebaikan[1]. 

Lihatlah, orang ini memiliki kebaikan akan tetapi ketika ia melakukan kejahatan (seperti di atas) maka tidak bisa dimaafkan dengan alasan: (dia kan punya kebaikan!!)

Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: Diceritakan, bahwasanya 'Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhu  meminta kepada Abdurrahman bin Muljam untuk selalu dekat dengannya karena dia termasuk ahli dalam al-Qur’an serta fiqih dan dia termasuk pemberani diantara kaumnya di Mesir. Dia juga pernah belajar kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu dan dia termasuk ahli ibadah[2].

Walau begitu banyaknya kebaikan orang ini, tapi (semua itu) tidak bisa menutupi kesalahan dan kejahatannya yang besar ketika membunuh Ali radhiyallahu ‘anhu.

Kemudian Ibnu Hajar rahimahullahu berkata setelah itu: Diceritakan pula bahwa 'Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhu  mengutus Shabigh bin ‘Asl kepada Umar radhiyallahu ‘anhu untuk menanyakan kepada beliau tentang al-Qur’an. Dan diceritakan bahwa Umar memerintahkan 'Amru bin Ash untuk menjadikan rumah Abdurrrahman bin Muljam dekat dengan masjid supaya dapat mengajari manusia al-Qur’an dan fiqih dan memerintahkan untuk memperluas rumahnya, hingga rumahnya berada di samping Ibnu Udaisy. Dialah pembunuh Ali bin Abi Thalib yang dulunya merupakan pengikut setia beliau.

Oleh karena itu, perhatikanlah –wahai saudaraku- jika ada orang membicarakan (kesesatan-pent) seseorang, serta memperingatkan (manusia) darinya lalu datang orang ketiga sambil berkata: Kenapa anda mempersoalkan orang itu, padahal dia punya kebaikan-kebaikan dan dia telah diberi rekomendasi oleh para ulama?! Maka ketahuilah –wahai saudaraku-, bahwa rekomendasi ataupun kebaikan yang ia miliki bukanlah jaminan ataupun pencegah dari membicarakan (kesesatannya) setelah berlalunya waktu. Sesungguhnya ukuran semua ini adalah kenyataan dan fakta yang ada, jika dia dalam keadaan jelek (sesat) maka berhak untuk dibicarakan sesuai dengan ketentuan syariat yang sudah dikenal oleh para ulama”.[3]

------------------------------------------

[1] Mizanul I’tidal 4/320 oleh Imam Adz-Dzahabi cet Darul kutub Ilmiyah. (pent)

[2] Lisanul Mizan 4/321-323 oleh Ibnu Hajar al-Asqalani cet . Darul Ihyaturats Islami – Beirut. (pent)

[3] Ditranskip dari kaset ceramah beliau yang berjudul Tanaaqudhaat rumuuzu ash-shahwah yang telah kami terjemahkan dalam majalah Adz-Dzakhirah edisi 12 dengan judul "Menyingkap hakekat dan jati diri dai-dai kondang".

Ustadz abdurahman thoyib lc hafidzahullah

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1143862389109569&substory_index=0&id=605034452992368