Selasa, 27 April 2021

Pilih teman yang baikAllah azza wa jalla mengabadikan penyebutan anjing ashabul Kahfi disebabkan karena anjing tersebut menemani orang-orang sholeh..

Pilih teman yang baik

Allah azza wa jalla mengabadikan penyebutan anjing ashabul Kahfi disebabkan karena anjing tersebut menemani orang-orang sholeh..

Teman yang Sholeh selain bermanfaat bagi anda di dunia (ketika melihat mereka rajin ibadah anda akan termotivasi untuk ikut rajin beribadah) ,, teman Sholeh -dengan izin Allah- bisa memberikan syafaat bagi anda di hari kiamat ...

Ingat,, sekali lagi pilih teman yang Sholeh (teman di dunia nyata dan di dunia Maya)

Diantara penyesalan penghuni neraka, mereka nggak punya teman yang baik..

فَمَا لَنَا مِن شَٰفِعِينَ * وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٍ

Maka kami tidak mempunyai pemberi syafa'at seorangpun,Dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, [QS. Asy-Syu’ara : 100-101]
Ustadz Budi Santoso 

Imam Syafi'i -rohimahulloh- mengatakan:"... akan tetapi Allah telah menyuruh Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dan semua makluk-Nya dengan perintah apapun yg Dia kehendaki melalui lisannya Nabi-Nya.Maka, tidak boleh baginya -siapapun orangnya-, untuk memasukkan kata "kenapa" dan "bagaimana" serta pendapat apapun ke dalam hadits yg datang dari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-.

Jangan katakan "kenapa" dan "bagaimana", bila Nabi -shollallohu alaihi wasallam- memerintahkannya atau melarangnya...

======

Imam Syafi'i -rohimahulloh- mengatakan:

"... akan tetapi Allah telah menyuruh Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dan semua makluk-Nya dengan perintah apapun yg Dia kehendaki melalui lisannya Nabi-Nya.

Maka, tidak boleh baginya -siapapun orangnya-, untuk memasukkan kata "kenapa" dan "bagaimana" serta pendapat apapun ke dalam hadits yg datang dari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-.

Begitu pula tidak boleh baginya untuk menolak hadits tersebut, bila datang dari orang yg terpercaya menurutnya, walaupun dia hanya satu orang".

[Kitab: Ikhtilaful Hadits, hal: 16].

---------

Sayangnya seringkali sebagian orang di zaman ini, ketika datang kepadanya Sunnah Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, baik itu perintah atau larangan, dengan mudahnya dia mengatakan: "kenapa perintahnya seperti itu", "kenapa dilarang"?!

Semoga perkataan Imam Syafi'i di atas, dapat menjadi masukan bagi mereka... dan itulah yg pantas bagi kita sebagai umatnya yg mengaku mencintai beliau. 

Cobalah bayangkan bila beliau masih hidup di depan kita, dan menyuruh atau melarang sesuatu kepada kita, pantaskah kita mengatakan "kenapa" atau "bagaimana", atau bahkan menolaknya mentah-mentah...?

Semoga bermanfaat....

Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny MA

Jangan Pernah Menyia-nyiakan Angan-Angan Orang Yang Telah Berada Di Alam Kubur.🎙 Al Imam Ibnu Rajab Al Hanbaly -rahimahullah- berkata :

🥀 Jangan Pernah Menyia-nyiakan Angan-Angan Orang Yang Telah Berada Di Alam Kubur.

🎙 Al Imam Ibnu Rajab Al Hanbaly -rahimahullah- berkata :

"Angan-angan tertinggi oleh orang-orang yang telah mati di dalam kubur mereka adalah ingin hidup sesaat yang dengannya mereka dapat mengejar segala hal yang telah luput dari mereka berupa taubat dan amalan saleh, sementara ahli dunia menyalahgunakan (kesempatan hidup tersebut) didalam kehidupan mereka, maka umur mereka berlalu begitu saja didalam kelalaian, bahkan diantara mereka ada yang menghabiskan kesempatan hidupnya dengan bermaksiat."

💬Sebagian salaf berujar :
"Kalian telah berada pada angan-angan kebanyakan dari manusia yaitu seluruh orang-orang yang telah mati berangan-angan ingin hidup sesaat agar mereka bisa bertaubat (kepada Allah) didalam kehidupan tersebut, dan bersungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan, namun mereka tidak memiliki jalan tersebut."

[Lathaif Al Ma'arif, hal 422]

*✍🏻 قال الإمام ابن رجب رحمه الله :*

*《غاية أمنية الموتى في قبورهم حياة ساعة يستدركون فيها ما فاتهم من توبة وعمل صالح ، وأهل الدنيا يفرطون في حياتهم ، فتذهب أعمارهم في الغفلة ضياعاً ، ومنهم من يقطعها بالمعاصي .*
*- قال بعض السلف : أصبحتم في أمنية ناس كثير .*
*- يعني أن الموتى كلهم يتمنون حياة ساعة ليتوبوا فيها ويجتهدوا في الطاعة ، ولا سبيل لهم إلى ذلك .》*
*📚    لطائف المعارف   (٤٢٢)*

✏️ Alih Bahasa :
Abul Qasim Najieb Suhrawardi Al Bughisy -waffaqahullahu-

Kami hari ini berada di atas jalan yang benar, maka jika kalian melihat kami telah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jangan kalian ikuti kami

⏳ Ulama salaf mewasiatkan jangan ikuti  mereka jika menyimpang.

🖋️Berkata Al-Imam Sufyan Ats-Tsaury rahimahullah : 

Kami hari ini berada di atas jalan yang benar, maka jika kalian melihat kami telah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jangan kalian ikuti kami 

📚 Akhbar asy_Syuyukh, karya al-Marrudzy  99
RQ Zaid bin tsabit

SERIAL TANYA JAWAB SEPUTAR FIQH PUASA RAMADHAN.

4️⃣0️⃣ SERIAL TANYA JAWAB SEPUTAR FIQH PUASA RAMADHAN.

🗳️ Seseorang yang berpuasa menelan sisa dari makanan yang berada disela-sela giginya, apakah hal tersebut membatalkan puasanya? 

🔓 Jawabannya :

🎙 Ibnu Qudamah Al Maqdisy -rahimahullah- berkata :
"Barangsiapa yang disela-sela giginya terdapat makanan, ia tidak lepas dari dua keadaan :
👉🏻 Keadaan yang pertama :
"Sisa makanan tersebut sedikit, dan tidak memungkinkan baginya untuk mengeluarkannya kemudian ia menelannya, maka puasanya tidaklah batal karenanya, sebab hal tersebut sesuatu yang ia tidak  mampu untuk terhindar darinya. Karena sisa makanan yang sedikit itu serupa dengan air liur."

🍃Dan Ibnul Munzhir -rahimahullah- berkata terkait dengan hal ini :
"Para Ulama bersepakat terkait dengan hal tersebut bahwa tidak mengapa bagi seseorang yang berpuasa menelan sisa makanan dari yang berjalan bersama dengan air liur yang berada di sela-sela gigi yang mana seseorang tidak mampu untuk terhindar darinya."

👉🏻 Keadaan yang kedua :
"Sisa makanan tersebut banyak yang memungkinkan untuk dikeluarkan, maka jika ia mengeluarkannya tidak mengapa baginya dan jika ia menelannya dalam keadaan ia sengaja, maka puasanya batal menurut pendapat kebanyakan Ulama."

[Al Mughny, jilid 03, hal 126]

____________________________________
📖 Taqribus Shiyam Fi Sual Wa Jawab. 
(Karya Asy Syaikh Abu Amru Nuruddin As Suda'iy -hafizahullah) 

🎙 Berkata Asy Syaikh Shaleh Al 'Ushaimy -waffaqahullahu- :

"Wajib bagi seseorang yang ingin berpuasa untuk mempelajari terkait dengan hukum-hukum seputar puasa sebelum ia memasuki bulan Ramadhan agar ia tidak merusak ibadah puasanya sementara ia tidak menyadarinya, karena segala hal yang wajib untuk diamalkan maka mempelajarinya terlebih dahulu hukumnya adalah wajib."

✏️ Alih Bahasa :
Abul Qasim Najieb Suhrawardi Al Bughisy -waffaqahullahu- 

⌛️Yuk ikut berpartisipasi dengan menklik link bergabung dibawah ini :
t.me/alqaasim

SERIAL TANYA JAWAB SEPUTAR FIQH PUASA RAMADHAN.

4️⃣2️⃣ SERIAL TANYA JAWAB SEPUTAR FIQH PUASA RAMADHAN.

🗳️ Jika seorang yang berpuasa menelan darah yang keluar dari gusinya, apakah membuat puasanya menjadi batal? 

🔓 Jawaban :

📌 "Jika seseorang melakukannya secara sengaja maka puasanya batal karena darah yang keluar dari gusi adalah sesuatu yang asing, ia bukanlah air liur, kemudian seseorang juga mampu untuk terhindar darinya dengan cara meludah."

____________________________________
📖 Taqribus Shiyam Fi Sual Wa Jawab. 
(Karya Asy Syaikh Abu Amru Nuruddin As Suda'iy -hafizahullah) 

🎙 Berkata Asy Syaikh Shaleh Al 'Ushaimy -waffaqahullahu- :

"Wajib bagi seseorang yang ingin berpuasa untuk mempelajari terkait dengan hukum-hukum seputar puasa sebelum ia memasuki bulan Ramadhan agar ia tidak merusak ibadah puasanya sementara ia tidak menyadarinya, karena segala hal yang wajib untuk diamalkan maka mempelajarinya terlebih dahulu hukumnya adalah wajib."

✏️ Alih Bahasa :
Abul Qasim Najieb Suhrawardi Al Bughisy -waffaqahullahu- 

⌛️Yuk ikut berpartisipasi dengan menklik link bergabung dibawah ini :
t.me/alqaasim

Faidah Quraniyah**TENTANG PERTANYAAN KUBUR, NIKMAT, DAN SIKSANYA*

بسم الله الرحمن الرحيم

🍃 *Faidah Quraniyah*

*TENTANG PERTANYAAN KUBUR, NIKMAT, DAN SIKSANYA*

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِ  ۚ وَيُضِلُّ اللّٰهُ الظّٰلِمِيْنَ  ۗ وَيَفْعَلُ اللّٰهُ مَا يَشَآءُ
"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki."
(QS. Ibrahim, ayat 27)

🔖 Dari Baro bin Azib radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda

المسلم إذا سئل في القبر ، شهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ، فذلك قوله : ( يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت في الحياة الدنيا وفي الآخرة )
*Seorang muslim apabila ditanya di dalam kubur maka dia bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, maka itulah firman Allah (yang artinya): Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang teguh di dalam kehidupan dunia dan di akhirat.* (Riwayat Bukhori dan Muslim)

🔖 Disebutkan  hadis yang panjang dengan sanad yang baik tentang pertanyaan, nikmat, dan siksa kubur:

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ [رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ] قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جِنَازَةِ رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَبْرِ ولَمَّا يُلْحَد. فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ كَأَنَّ عَلَى رُءُوسِنَا الطَّيْرَ، وَفِي يَدِهِ عُودٌ يَنْكُتُ بِهِ فِي الْأَرْضِ، فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: "اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ". مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ: "إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا، وَإِقْبَالٍ إِلَى الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مَلَائِكَةٌ مِنَ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ، كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الشَّمْسُ، مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ، وحَنُوط مِنْ حَنُوط الْجَنَّةِ، حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ بَصَرِهِ. ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ، حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ: أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ".

قَالَ: "فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ، فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعوها فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، حَتَّى يَأْخُذُوهَا فَيَجْعَلُوهَا فِي ذَلِكَ الْكَفَنِ، وَفِي ذَلِكَ الْحَنُوطِ. وَيَخْرُجَ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ. فَيَصْعَدُونَ بِهَا فَلَا يَمُرُّونَ -يَعْنِي-بِهَا عَلَى مَلَأٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِلَّا قَالُوا: مَا هَذَا الرُّوحُ الطَّيِّبُ؟ فَيَقُولُونَ: فَلَانٌ بن فُلَانٍ، بِأَحْسَنِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانُوا يُسَمُّونَهُ بِهَا فِي الدُّنْيَا، حَتَّى يَنْتَهُوا بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَسْتَفْتِحُونَ لَهُ، فَيُفْتَحُ لَهُ، فَيُشَيِّعُهُ مِنْ كُلِّ سَمَاءٍ مُقَرَّبُوهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِي تَلِيهَا، حَتَّى يَنْتَهِيَ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، فَيَقُولُ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ: اكْتُبُوا كِتَابَ عَبْدِي فِي عِليِّين، وَأَعِيدُوهُ إِلَى الْأَرْضِ، فَإِنِّي مِنْهَا خَلَقْتُهُمْ، وَفِيهَا أُعِيدُهُمْ وَمِنْهَا أخرجهم تارة أخرى".

قَالَ: "فَتُعَادُ رُوحُهُ، فَيَأْتِيهِ مَلَكان فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ. فَيَقُولَانِ لَهُ مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: دِينِي الْإِسْلَامُ. فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَيَقُولَانِ لَهُ: وَمَا عِلْمُكَ؟ فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ. فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: أَنْ صَدَقَ عَبْدِي، فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ". "فَيَأْتِيهِ  مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا، وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدّ بَصَرِهِ".

قَالَ: "وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ، حَسَنُ الثِّيَابِ، طَيِّبُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يسُرك، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ لَهُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ. فَيَقُولُ: رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ، رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ، حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي".

قَالَ: "وَإِنَّ الْعَبْدَ الْكَافِرَ، إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مِنَ السَّمَاءِ مَلَائِكَةٌ سُودُ الْوُجُوهِ مَعَهُمُ الْمُسُوحُ، فَيَجْلِسُونَ مِنْهُ مَدّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَيَقُولُ: أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ، اخْرُجِي إِلَى سُخْطِ اللَّهِ وَغَضَبٍ". قَالَ: "فَتُفَرّق فِي جَسَدِهِ، فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّود مِنَ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ، فَيَأْخُذُهَا، فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوها فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَجْعَلُوهَا فِي تِلْكَ الْمُسُوحِ، وَيَخْرُجَ مِنْهَا كَأَنْتَنِ رِيحِ جِيفَةٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ. فَيَصْعَدُونَ بِهَا، فَلَا يَمُرُّونَ بِهَا عَلَى مَلَأٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِلَّا قَالُوا: مَا هَذَا الرُّوحُ الْخَبِيثُ؟ فَيَقُولُونَ: فَلَانٌ ابْنُ فُلَانٍ، بِأَقْبَحِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانَ يُسَمَّى بِهَا فِي الدُّنْيَا، حَتَّى يَنْتَهِيَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَسْتَفْتِحَ لَهُ، فَلَا يُفْتَحَ ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ} فَيَقُولَ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ: اكْتُبُوا كِتَابَهُ فِي سِجِّينٍ فِي الْأَرْضِ السُّفْلَى. فَتُطْرَحَ رُوحُهُ طَرْحًا". ثُمَّ قَرَأَ: {وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ} [الْحَجِّ:31] "فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ. وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ! لَا أَدْرِي. فَيَقُولَانِ مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ! لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ! لَا أَدْرِي. فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: أَنْ كَذَبَ، فَأَفْرِشُوهُ مِنَ النَّارِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ. فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرّها وَسُمُومِهَا، ويُضيق عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ، وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ، قَبِيحُ الثِّيَابِ، مُنْتِنُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوؤُكَ؛ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ. فَيَقُولُ: رَبِّ لَا تقم الساعة"

Dari Al-Barro ibnu Azib yang mengatakan: Kami berangkat bersama Rasulullah untuk mengantarkan jenazah seorang lelaki dari kalangan Ansar. 

Ketika kami sampai di kuburan dan jenazah sudah dilianglahadkan, maka Rasulullah duduk; kami pun duduk pula di sekitarnya seakan-akan di atas kepala kami ada burung, sedangkan di tangan Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam terdapat setangkai kayu yang ia ketuk-ketukkan ke tanah. Lalu beliau mengangkat kepalanya dan bersabda: *Mohon perlindunganlah kalian kepada Allah dari azab kubur!* Ucapan ini dikatakannya sebanyak tiga.

Kemudian beliau  bersabda: Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin apabila ajalnya di dunia sudah habis dan akan menghadap ke akhirat, maka turunlah kepadanya para malaikat yang semua wajahnya putih seakan-akan seperti matahari. Mereka turun dengan membawa kain kafan dari surga dan wewangian pengawet jenazah dari surga, hingga mereka semua duduk di dekatnya sampai sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut dan duduk di dekat kepalanya, lalu malaikat maut berkata, "Hai jiwa yang tenang, keluarlah menuju kepada ampunan dan rida Allah!" Nabi melanjutkan sabdanya: Maka keluarlah rohnya, mengucur sebagaimana mengucurnya tetesan air dari mulut (lubang) wadah penyiram. 

Kemudian malaikat maut memegangnya; dan apabila malaikat maut telah memegangnya, maka tidak dibiarkan pada tangannya barang sekejap pun. melainkan ia langsung mencabutnya, mengafankan, serta mewangikannya dengan kafan dan wewangian yang dibawanya Sedangkan dari roh itu tercium bau wewangian minyak kesturi yang paling harum di muka bumi. 

Lalu mereka membawanya naik ke langit. Maka tidak sekali-kali mereka yang membawanya melewati sejumlah malaikat, melainkan mereka bertanya, "Siapakah roh yang harum ini?” Mereka menjawab, "Si Fulan, " yakni dengan menyebutkan nama terbaiknya yang biasa dipakai untuk memanggilnya ketika di dunia Hingga sampailah mereka ke langit yang paling rendah, lalu mereka memintakan izin masuk untuknya, dan pintu langit dibukakan untuknya. Maka ia diiringi oleh semua malaikat penghuni setiap lapis langit untuk mengantarkannya sampai kepada lapis langit yang lainnya, hingga sampai kepada langit yang ketujuh. 

Maka Allah Subhanahu wata'ala berfirman, "Catatkanlah di dalam kitab {catatan amal) hamba-Ku ini bahwa dia termasuk orang-orang yang menghuni surga yang tinggi; dan kembalikanlah ia ke bumi, karena sesungguhnya Aku telah menciptakan mereka dari tanah, dan kepadanya Aku kembalikan mereka, serta darinya Aku keluarkan mereka di kesempatan yang lain.” 

Nabi melanjutkan sabdanya: Maka rohnya dikembalikan, lalu datanglah kepadanya dua malaikat, dan kedua malaikat itu mempersilakannya duduk. Keduanya bertanya kepadanya.”Siapakah Tuhanmu?” Maka ia menjawab, "Tuhanku adalah Allah.” Keduanya menanyainya lagi, "Apakah agamamu?” Ia menjawab, "Agamaku Islam.” Keduanya bertanya kepadanya, "Siapakah lelaki ini yang diutus di antara kalian?” Ia menjawab, "Dia adalah utusan Allah." Kedua malaikat bertanya lagi kepadanya, "Apakah amal perbuatanmu?” Ia menjawab, "Saya membaca Kitabullah, maka saya beriman dan membenarkannya.” 

Maka ada suara yang menyerukan dari langit, "Benarlah apa yang dikatakan oleh hamba-Ku. Maka hamparkanlah baginya hamparan dari surga, berilah ia pakaian dari surga, dan bukakanlah baginya suatu pintu yang menghubungkan ke surga.” Maka kesegaran dan wewangian dari surga datang kepadanya serta dilapangkan baginya kuburnya hingga sejauh mata memandang. 

Nabi melanjutkan kisahnya: Dan datanglah kepadanya seorang lelaki yang berwajah tampan, berpakaian indah lagi harum baunya, lalu lelaki itu berkata, "Bergembiralah engkau dengan berita yang akan membuatmu bahagia. Inilah hari yang pernah dijanjikan kepadamu.” Ia bertanya kepada lelaki itu.”Siapakah engkau ini? Penampilanmu merupakan penampilan orang yang membawa kebaikan.”Lelaki itu menjawab, "Saya adalah amal salehmu.” Maka ia berkata.”Ya Tuhanku, segerakanlah kiamat. Ya Tuhanku, segerakanlah kiamat agar aku dapat berkumpul kembali dengan keluarga dan harta bendaku.” 

Nabi melanjutkan kisahnya: Sesungguhnya seorang hamba yang kafir apabila ajalnya sudah habis di dunia ini dan hendak menghadap ke alam akhirat, maka turunlah kepadanya para malaikat yang berwajah hitam dengan membawa karung, lalu mereka duduk sejauh mata memandang darinya. Kemudian datanglah malaikat maut yang langsung duduk di dekat kepalanya. Lalu malaikat maut berkata, "Hai jiwa yang jahat, keluarlah engkau menuju kepada kemurkaan dan marah Allah" 

Nabi Shalallahu alaihi wasalam melanjutkan kisahnya: Maka rohnya bercerai-berai keseluruh tubuhnya (bersembunyi), kemudian malaikat maut mencabutnya sebagaimana seseorang mencabut besi pemanggang daging dari kain wol yang basah. Malaikat maut mencabut rohnya; dan apabila ia telah mencabutnya, maka mereka tidak membiarkan roh itu berada di tangan malaikat maut barang sekejap pun, melainkan langsung mereka masukkan ke dalam karung tersebut, dan tercium darinya bau bangkai yang paling busuk di muka bumi ini. Kemudian mereka membawanya naik, dan tidak sekali-kali mereka yang membawanya bersua dengan segolongan malaikat, melainkan mereka mengatakan, "Siapakah yang memiliki roh yang buruk ini?” Mereka menjawab, "Si Fulan bin Fulan, " dengan menyebut nama panggilan terburuknya ketika di dunia, hingga sampailah roh itu ke langit yang paling bawah. 

Kemudian dimintakan izin untuk naik, tetapi pintu langit tidak dibukakan untuknya. Kemudian Rasulullah membacakan firman-Nya:  sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. (Al-A'raf: 40) Maka Allah berfirman, "Catatkanlah pada kitab catatan amalnya bahwa dia dimasukkan ke dalam Sijjin bagian bumi yang paling dasar!" Lalu rohnya dicampakkan dengan kasar (ke tempat tersebut). Kemudian Rasulullah membacakan firman-Nya: *Dan barang siapa mempersekutukan Allah dengan sesuatu, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh*. (Al-Hajj: 31) 

Maka dikembalikanlah rohnya ke dalam jasadnya dan datang kepadanya dua malaikat yang langsung mendudukkannya. Kedua malaikat itu bertanya kepadanya, "Siapakah Tuhanmu?” Ia hanya mengatakan, "Ha, ha, tidak tahu.” Keduanya bertanya kepadanya, "Apakah agamamu?” Ia menjawab, "Ha, ha, tidak tahu." Kedua malaikat bertanya kepadanya, "Siapakah lelaki yang diutus di kalangan kalian ini?” Ia menjawab, "Ha, ha, tidak tahu.” 

Maka terdengarlah suara dari langit menyerukan, "Hamba-Ku telah berdusta, maka hamparkanlah untuknya hamparan dari neraka, dan bukakanlah baginya sebuah pintu yang menuju ke neraka." Lalu panas neraka dan anginnya yang membakar datang kepadanya, serta kuburan tempat tinggalnya disempitkan sehingga tulang-tulang iganya berantakan. 

Kemudian datanglah seorang lelaki yang buruk rupanya, buruk pakaiannya lagi busuk baunya seraya berkata, "Rasakanlah apa yang akan membuatmu tersiksa. Hari ini adalah hari yang pernah dijanjikan kepadamu.” Maka ia bertanya, "Siapakah kamu? Penampilanmu merupakan penampilan orang yang membawa kejahatan.” Lelaki itu menjawab, "Saya adalah amal burukmu.” Maka ia berkata, "Ya Tuhan, janganlah Engkau jadikan hari kiamat."
(Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Baihaqi)

Wallohu a'lam

Rujukan
📙 Tafsir Ibnu Katsir rahimahullohu ta'ala

🖊️ Sunardi bin Kuwat
13 Ramadhan 1442 H