Senin, 05 Oktober 2020

PINTU DARIPADA PINTU-PINTU SYURGA

PINTU DARIPADA PINTU-PINTU SYURGA

Dari Rifa'ah bin 'Iyas beliau berkata, “aku melihat Al Haris Al Akali menangisi jenazah ibunya, maka dikatakan padanya, “kau menangis?”

Beliau menjawab, “bagaimana mungkin aku tidak menangis, telah tertutup salah satu pintu dari pintu-pintu syurgaku”

Birrul Walidain, Ibnul Jauziy 1/4

ilmu dulu atau adab ?

Penyebab futur dlm menuntut ilmu>Di sadur dari perkataan syaikh ibnu utsaimin ‎رحمه الله تعالى :

بسم الله الرحمن الرحيم 
<Penyebab futur dlm menuntut ilmu>
Di sadur dari perkataan syaikh ibnu utsaimin رحمه الله تعالى :

1). Lemah niat dan keinginan dlm meraih ilmu.
Penuntut ilmu adalah pemburu ilmu, bergelut dgn ilmu, orang yg haus, cinta dan tamak terhadap ilmu, tak kenal lelah dan letih, banting tulang untuk mendapatkan ilmu.
Kesenangan dan kegembiraan nya adalah ketika mendapatkan tambahan ilmu.
Sebagaimana para pedagang, gembira ketika keuntungan dagangan nya bertambah, tak kenal lelah dlm bisnis nya, banting tulang untuk meraih nya.

2). Disana ada setan yg menghalangi.
Setan tdk suka kita menuntut ilmu, krn menuntut ilmu adlh jalan menuju surga, dan itu bertentangan dgn misi & visi mereka, oleh sebab itu mrk akan mengerahkan segala macam cara agar kita lemah dlm menuntut ilmu, di buat kita sibuk dan terlena dgn dunia, dan menggembosi dgn bisikan bisikan agar kita putus asa :
" Disana sdh ada para ustadz berdakwah untuk apa lagi kamu susah payah belajar "
" Kamu sdh tua, sdh terlambat "
Dan lain lain nya.

Olehnya itu maka sadar dan waspada lah selalu wahai saudara ku.

3). Berteman dan bergaul dgn orang yg buruk dan pemalas menuntut ilmu.
Yg ini tidak di ragukan lagi akan pengaruh buruk nya.

4). Tidak merasa bahwa usaha ia dlm menuntut ilmu adalah ibadah, adalah sprti jihad fi sabilillah...
Dia menganggap menuntut ilmu hanyalah pengisi waktu yg lowong.
Di jaman skrg menuntut ilmu lebih afdhol dari jihad.
Krn dgn ilmu agama akan terjaga dan menyebar.
Krn di jaman kita ini mengamalkan sunnah adalah sprti mengenggam bara api.
Subhanallah...!

Demikian semoga bermanfaat.
Wallohu a'lam.

🌹أسباب الفتور في طلب العلم🌹

السُّؤال:
ما أسباب الفتور في طلب العلم

الجواب:

أسباب الفتور في طلب العلم أو غيره من فعل الطاعات:
#أولاً: ضعفُ الهمَّةِ والعزيمة؛ وإلاَّ فالإنسان ينبغي كلما ازداد في طلب العلم أنْ يزداد نشاطاً؛ لأنه يجد زيادة في معلوماته؛ فيَفرح كما يفرح التاجر إذا ربح في سلعة فتجده ينشط. فإذا ربح في نوع من السلع ربحًا كثيرًا تجده يحرص على أن يحصُل على كمية كبيرة من هذا النوع.
كذلك طالب العلم ما دام جادًّا في طلبه الصَّادق؛ فإنَّه كلما اكتسب مسألة ازداد رغبة في العلم.
أمَّا الإنسان الذي لا يطلب العلم إلا ليقضي وقته فقط؛ فهذا يلحقه الفتور والكسل.

#ثانيًا: أنَّ الشَّيطان يُيئِّس طالب العلم؛ يقول: "المدى بعيد, ولا يمكن أن تدرك ما أدرك العلماء"؛ فيكْسَل 

#ثالثًا: مصاحبة الأشقياء؛ فإنَّ الصحبة لها تأثيرٌ على الإنسان, 

#رابعًا: التَّلهي عنه بالمغريات, وإضاعة الوقت, مرة يخرج يتمشَّى, وبعض الناس يكون مفتونًا بمشاهدة ألعاب الكرة، وما أشبه ذلك.

#خامسًا: أنَّ الإنسان لا يُشعِر نفسه بأنَّه حال طلبِهِ للعلم؛ كالمجاهد في سبيل الله؛ بل أبلغ؛ أي: أنَّ طلب العلم من حيث هو أفضل من الجهاد في سبيل الله, لا شكَّ في هذا؛ لأنَّ طالب العلم يحفظ الشريعة ويُعلِّمُها النَّاس, والمجاهد غاية ما فيه أنَّه يصدُّ واحدًا من الكفَّار عن التأثير في الدِّين الإسلامي؛ لكن هذا ينفع الأمَّة كلها.
صحيح أننا قد نقول لهذا الشخص: الجهاد أفضل لك؛ لأنَّه أجدر به, ونقول للآخر: طلب العلم أفضل لك؛ لكن قصدي أنَّ طلب العلم من حيث هو أفضل من الجهاد في سبيل الله؛ وقد قال الله -تعالى-: ﴿وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ﴾[1]؛ أي: وقعد طائفة؛ ﴿لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ﴾[2]؛ أي: القاعدون؛ ﴿وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ﴾[3].
هذا ما حضرنا -الآن- من أسباب الفتور في طلب العلم؛ فعليك أيُّها الطَّالب أن تكون ذا همَّةٍ عالية, وأن تترقَّب المستقبل, وأنَّك بإخلاصك النيِّة لله قد تكون إمامًا في الإسلام.

📙لقاء الباب المفتوح (206/ 16). 
منقول من موقع الآجري رحمه الله. 
__________________

Ust Ilham 
kaning 

_Dari mana datangnya kesedihan..?_

📖 _Dari mana datangnya kesedihan..?_

Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata 

_"Adapun kesedihan, kegalauan dan kebimbangan di dapati dari dua perkara :_

_- Terlalu Ambisi dan semangat dalam meraih dunia_

_- Kurangnya dalam beramal kebaikan dan ketaatan"_

📚 Iddatus shobirin (256)
Ust Muhammad badar bajri

KAJIAN_DAN_KBM#DIBALIK_HIJAB/SITAR

#KAJIAN_DAN_KBM
#DIBALIK_HIJAB/SITAR

Diantara fatawa ulama kita adalah berikut ini ana nukilkan dari fatawa Syaikhu Masyayikhina As Syaikh Al 'Allamah Muqbli bin Hadi Al Wadi'iy rahimahullah dibeberapa kitabnya,.

1. Dalam kitabnya (Qam'ul Mu'anid hal. 374-376) -secara ringkas- beliau berkata : 
Jika aman dari fitnah (bagi dirinya dan wanita) maka boleh dalam hal memberi wejangan/nasehat, adapun tadris/ta'lim (KBM) yang durasi waktunya panjang maka tidak ada jaminan selamat dari fitnah. karena syaithan lihai dalam mebisiki manusia sedangkan iman kadang kuat kadang lemah.

dalil bolehnya memberi wejangan dan nasehat tanpa hijab/sitar adalah ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam memberi wejangan kepada kaum wanita pada hari ied, sedangkan pada saat itu Nabi bersama Jabir, Ibnu Abbas dan Bilal, maka jika aman dari fitnah dibolehkan.

adapun tadris/ta'lim (KBM) maka kami nasehatkan saudara-saudara kami hendaknya cukup menggunakan pengeras suara, dibalik hijab/sitar agar tidak menimbulkan fitnah dan untuk menjaga hati karena Allah firman untuk para istri Nabi -sedangkan mereka adalah wanita-wanita yang suci- :

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

"Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka". (Qs. Al Ahzab : 53).

Jika demikian, maka kita lebih utama ketika mengajar untuk dibalik hijab/sitar,. 

2. Dalam kitabnya (Gharatu Al Asyrithah 1/173)  beliau berkata : 
Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda :

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ

"Tidaklah aku tinggalkan suatu fitnah setelahku yang lebih dahsyat bagi kaum laki-laki melebihi fitnah wanita". (HR. Bukhari no. 5086 dan Muslim no. 2470)

dan juga bersabda :

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

"Aku tidak melihat orang-orang yang kurang akal dan agama namun mampu menghilangkan akal yang sempurna seorang lelaki yang kuat dibanding kalian (wahai para wanita)". (HR. Bukhari no. 304 dan Muslim no. 80) 

dan Allah telah berfirman :

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ 

"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka". (Qs. An Nur : 30)

Kadang Nabi shallallahu alaihi wasallam memberi wejangan kepada wanita disebagian waktu. 

Iman kadang bertambah dan berkurang, jika seseorang (merasa) dirinya aman dari fitnah, dan para wanita aman dari fitnah (guru) maka boleh untuk memberi nasehat/wejangan meski tanpa sitar/hijab. tetapi menjaga hati lebih didahulukan daripada memperbaiki orang lain.

Alhamdulillah, Allah telah mudahkan dengan berbagai sarana, bisa saja engkau memberi nasehat/wejangan kepada wanita dari jarak jauh dengan perantara pengeras suara, dan aku nasehatkan saudara-saudara untuk tidak bermain-main dengan hati dan menjaganya dari kerusakan,.

3. Juga dalam kitabnya (Ijabatu As Saail hal. 618-619) -secara ringkas- beliau berkata :
Wejangan yang disampaikan lelaki kepada wanita tanpa hijab/sitar jika aman dari fitnah maka tidak mengapa, jika para wanita memakai pakaian hijab syar'i islami maka tidak mengapa.

tetapi iman itu kadang bertambah dan kadang berkurang, pada sebagian waktu kadang seseorang begitu semangat -dalam wejangannya- sampai tidak terfikir maksiat, tapi kadang sebagian waktu syaithan membisikinya sehingga ia tunduk kepada keburukan.

📚WaAllahu A'lam,.________
Demikian ringkasan fatwa As Syaikh Al 'Allamah Muqbil bin Hadi Al Wadi'iy rahimahullah,.

وفقني الله وإياكم لكل خير وعصمني وإياكم من كل فتن،.
Ustadz Muhammad Alif lc 

Minggu, 04 Oktober 2020

Siapakah Yang Harus Mengucapkan Salam?, Orang Yang Nelpon atau Yang Ditelpon?- Syaikh Abu Islam hafidzahullah pernah berujar:

#Siapakah Yang Harus Mengucapkan Salam?, Orang Yang Nelpon atau Yang Ditelpon?

- Syaikh Abu Islam hafidzahullah pernah berujar:

" Aku pernah berkata kepada Syaikh Al-Bani: "...Yang kami ketahui dalam perkara ini, orang yang ditelpon cukup mengucapkan " Hallo/Iya", sedangkan yang menelpon lah, yang mengucapkan salam, yang ditelpon lalu menjawab salamnya, dan tidak perlu ia memulai salam.."

" Syaikh Al-Bani lalu berkata: " Itulah yang benar yang kami ketahui, KARENA ORANG YANG MENELPON SAMA SEPERTI ORANG YANG MENGETUK PINTU, tidak ada bedanya...."

Kitab Al-Aqidah Awwalan (1/20)
Ust Rudi abu aisyah 

Sabtu, 03 Oktober 2020

"Saya menasehati siapa saja yang hendak menuntut ilmu agar ia memilih guru yang dipercaya ilmunya, dipercaya keagamaannya, selamat Aqidahnya, selamat Manhajnya, dan lurus arah (fikrah)nya".

"Saya menasehati siapa saja yang hendak menuntut ilmu agar ia memilih guru yang dipercaya ilmunya, dipercaya keagamaannya, selamat Aqidahnya, selamat Manhajnya, dan lurus arah (fikrah)nya".

- Ibnu Utsaimin Rahimahullah - 

-----

"ثم إني أنصـح مـن أراد طلـب العلـم أن يختـار له شـيخاً: موثوقًـا في علمه،وموثوقًا  في دينـه، وسـليم العقيـدة، وسـليم المنهـج، ومسـتقيم الاتجاه"

📚[ مجموع الفتاوى ابن عثيمين رحمه الله :٦٢/٠٤].
Ust musamulyadi luqman