Syaikh bin Baz pernah ditanya tentang seseorang yg membuang sesuatu ke sampah, padahal padanya terdapat nama Allah.
Saya beri permisalan. Antum namanya Abdullah, yg mana di nama antum terdapat lafaz jalalah Allah. Maka ketika antum memgirim paket dan antum tulislkan nama antum di bungkus paketnya, maka penerima paket tidak boleh membuang bungkus paket itu ke tempat sampah dan kotoran.
Beliau syaikh bin Baz mengatakan
الإثم على من رماها في النفايات، والقمامات، كل شيء فيه ذكر الله من قصاصات الجرائد، أو الرسائل، أو إعلانات، أو غير ذلك، يجب أن يكرم، ويصان، أو يدفن في أرض طيبة، أو يحرق، أو يسحق بمكائن التي تسحقه حتى لا يبقى له أثر.
“Dosa bagi orang yang membuangnya ke tempat sampah dan kotoran. Setiap sesuatu yang terdapat padanya nama Allah, baik berupa potongan koran, surat, pengumuman, atau lainnya, wajib dimuliakan dan dijaga, atau ia harus dikubur di tanah yang baik, atau dibakar, atau dihancurkan dengan mesin penghancur hingga tidak tersisa lagi bentuknya.
أما أن يلقى في النفايات، والمزابل هذا لا يجوز، والإثم على من ألقاه، لا على من كتبه، الإثم على من ألقاه؛ لأن الناس يضطرون إلى أن يكتبوا في رسائلهم، وفي بضائعهم التي ينوهون عنها، ويعلنون عنها أنهم مضطرون إلى اسم عبدالله، أو عبدالعزيز، أو في الرسائل إلى التسمية، وغير ذلك، وهكذا في الصحف يكون فيها مقالات، ويكون فيها آيات.
Adapun membuangnya ke tempat sampah dan pembuangan kotoran, maka hal itu tidak diperbolehkan. Dan dosa ada pada orang yang membuangnya, bukan pada orang yang menuliskannya. Dosa itu pada yang membuang, karena orang-orang terkadang terpaksa mencantumkan nama ‘Abdullah, ‘Abdul Aziz, dan semisalnya dalam surat-surat, atau dalam barang-barang yang mereka promosikan dan iklankan. Mereka terpaksa menyebutkannya. Begitu pula dalam koran yang terdapat artikel disitu disebutkam ayat-ayat (Al-Qur’an).
Maka tidak boleh dibuang sembarangan
Ustadz kukuh abu yumna