Prestasi Mahasiswa Indonesia di UIM
Alhamdulillah dengan izin Allah tahun ini menjadi tahun terbanyak Mahasiswa UIM asal diterima di jenjang Pascasarjana, baik di Diploma Aly, Magister & Doktoral, angkanya cukup fantastis sekali, mencapai angka 150 an orang. Ini belum terjadi di tahun tahun sebelumnya.
Kita harus tahu bahwa penerimaan Mahasiswa jenjang Pascasarjana hitung-hitungannya jelas, Yang pasti IPK Mumtaz, atau minimal Jayyid Jiddan (itupun jarang sekali kecuali masuk dijurusan yang baru atau masih minim persaingan).
Apakah pasti kualitas bagus? Ya tergantung masing-masing orangnya, intinya kita melihat hal yang tampak.
Ada kabar-kabar bahwa penerimaan Mahasiswa Baru turun drastis. Maka itu tidak benar, karena tidak sesuai dengan data.
Saya pribadi sejak 2022 hingga kini (2025) mengikuti/monitor proses keberangkatan Mahasiswa Baru. Alhamdulillah jumlahnya masih stabil hinggi kini, total yang sudah diberangkatkan sejak saat itu (Pasca Covid-19) sekitar 700 sehingga rata rata per tahun yang diterima 130-150 orang.
Kemudian ada juga slentingan bahwa angka Mahasiswa DO atau yang bermasalah jumlahnya signifikan, lagi-lagi kita katakan itu tidak benar dan tidak sesuai data.
Saya pribadi tau orang per orang yang DO atau yang bermasalah.
Namun prosentasenya masih 1-3% per angkatan. Banyak faktor temen temen tersebut di DO, ada sebagian karena sakit, faktor internal keluarga sehingga tidak fokus atau faktor lainnya (semisal sibuk di trevel).
Di setiap lembaga pendidikan yang berisi manusia pasti ada saja kekurangan, termasuk di Jamiah Islamiyah/UIM. Coba tunjukin apakah ada lembaga pendidikan yang 0 masalah, pasti tidak ada, karena lembaga itu isinya manusia bukan malaikat.
Masak iya kita tutup mata dengan 97% prestasi lalu hanya fokus pada 1-3%. Apakah itu adil? Ya tentu tidak.
Dan penerimaan UIM kedepan semakin ketat persaingan (Bisa dicek di IG saya lebih lengkapnya), sehingga para pendaftar harus berlomba-lomba memantaskan diri.
Semoga Allah memberkahi kita semua dimanapun berada
Kita menerima nasihat dari para senior, bahkan nasihat itu kami tunggu-tunggu. Namun baiknya sebelum menasehati observasi data dulu, sehingga tidak terkesan ngawur dan mengada-ngada. Terlebih di posting di Media sosial.
Abu Yusuf Akhmad Ja’far