FILSAFAT HARAM?
☆☆☆
Syaikh Hasan al-‘Atthar, Grand Sheikh al-Azhar pada masanya, berkata dalam Hasyiyah-nya terhadap as-Sullam (hlm. 98–99):
والقول بتحريم النظر في الفلسفة على الإطلاق مجازفة، فإن الفلسفة اسم لعدة علوم، إذ تنقسم أولًا إلى علمية وعملية، والأولى تنقسم إلى إلهيات ورياضيات وطبيعيات.
فأما الطبيعيات فمنها الطب والتشريح وغيرهما، ولم يقل أحد بتحريم هذه العلوم، بل هي واجبة وجوبًا كفائيًا، حتى قيل: إن علم الأبدان مقدم على علم الأديان، وقد بينت وجه ذلك في شرح النزهة الطبية.
وأما الرياضيات كالحساب والهندسة والمساحة والهيئة وغيرها فكذلك، ونفعها لا ينكر.
فلم يبق إلا الإلهيات، وهي محل ضلالهم وشبههم وكفرهم.
فالقول بتحريم الفلسفة على الإطلاق قول من لا يعرف حقيقتها، كما بين ذلك حجة الإسلام الغزالي في كتاب تهافت الفلاسفة.
ومعلومٌ أن المنطق ليس فيه من مسائل العلم الإلهي الذي يتقى الخوض فيه إلا من رسخت قدمه في العلوم الشرعية، وربما وقع على سبيل الندرة بعض مسائل منه في كتب المتقدمين، فلذلك خص الخلاف بكتبهم.
“Pendapat yang menyatakan haramnya belajar filsafat secara mutlak adalah klaim yang gegabah. Sebab filsafat merupakan nama bagi beberapa cabang ilmu. Pertama-tama, ia terbagi menjadi ilmu teoritis dan praktis. Ilmu teoritis terbagi lagi menjadi ilahiyyat (ketuhanan, metafisika), matematika, dan ilmu-ilmu alam.
Pada ilmu-ilmu alam terdapat kedokteran, anatomi, dan selainnya. Tiada seorang pun yang mengatakan haramnya ilmu-ilmu tersebut. Itu bahkan termasuk kewajiban kolektif (fardhu kifayah). Bahkan sampai dikatakan bahwa ilmu tentang jasad lebih didahulukan dibandingkan ilmu tentang agama. Saya telah menjelaskan alasannya dalam syarah saya terhadap an-Nuzhah ath-Thibbiyyah.
Adapun ilmu matematika seperti ilmu hitung, perteknikan, astronomi dan semisalnya, maka hukumnya juga demikian. Manfaatnya tidak dapat diingkari.
Jadi yang tersisa hanyalah tentang ilahiyyat (ketuhanan, metafisika), yang di sanalah letak kesesatan, syubhat, dan kekufuran mereka (para filsuf).
Oleh karenanya, pendapat yang mengharamkan filsafat secara mutlak adalah pendapat orang yang tidak mengetahui hakikat filsafat itu sendiri, sebagaimana telah dijelaskan oleh Hujjatul Islam al-Ghazzali dalam Tahafut al-Falasifah.
Selanjutnya, telah diketahui bahwa ilmu Manthiq (logika formal klasik) tidak mengandung persoalan-persoalan ilmu ketuhanan—yang pembahasannya perlu diwaspadai kecuali oleh orang yang telah kokoh pijakannya dalam ilmu-ilmu syariat—kecuali bahwa pada sebagian kecil dan jarang, beberapa persoalan tersebut muncul dalam kitab-kitab ulama terdahulu. Oleh karena itu, terdapat khilaf secara khusus pada kitab-kitab mereka.”
Sumber: Status FB Ust. Muhammad Bara` Yasin
Alih Bahasa: Adni Kurniawan
https://www.facebook.com/share/p/1DJMsHEQnW/