A Jinn, A Conjurer, and the House of Death.
Teacher of Shaykh Abdul Qadir al Jilani, Ibn Aqil Hanbali narrated about himself, saying:
“There was, among us in al-Ẓafariyyah, a house such that whenever people lived in it, they would be found dead by morning. One time, a man who was a Qur’an reciter came and rented it, and he was pleased with it. He spent the night there and woke up safe and sound. The neighbours were astonished. He stayed there for a period of time, then moved away. He was asked about it, and he said:
‘When I spent the night there, I prayed the ʿIshāʾ prayer and recited Quran/Adhkaar. Suddenly, a young jinn came up from the well and greeted me. I was stunned, so he said: “There is no harm upon you. Teach me something from the Qur’an.”
So I began teaching him. Then I said, “What is the story of this house?”
He replied, “We are Muslim jinn. We recite and we pray. This house is only rented by immoral people, who gather here over wine, so we strangle them.”
I said, “At night I fear you, so come during the daytime.”
He said, “Yes.”
So he used to come up from the well during the day, and I became accustomed to him. While he was reciting one time, suddenly a conjurer on the road was saying, 'The one who casts spells against poison, the evil eye, and jinn.'
The jinni asked, 'What is this?' I said, 'A conjurer.' He said, 'Call him.'
So I stood up and brought him in. Then the jinn turned into a snake on the ceiling. The man performed his incantations, and the snake kept lowering itself until it fell into the middle of the cloth. The man stood up to take it and put it into the basket, but I stopped him.
He said, “Are you preventing me from my prey?!”
So I gave him a dinar and he left. The snake convulsed, and the jinn emerged, having become weak, pale, and wasted away. I said, “What is the matter with you?”
He said, “This man has killed me with these names, and I do not think I will survive. So be mindful tonight: when you hear screaming from the well, flee.”
He said: ‘That night I heard the wailing, so I fled.’
Ibn ʿAqīl said: “After that, no one dared to reside in that house.”
Siyar A'lam an-Nubala 19/450, Mir’aat al-Zamaan: 8 / 53, 54
ایک جن، ایک جادوگر، اور موت کا گھر
شیخ عبدالقادر الجیلانیؒ کے استاد، ابنِ عقیل حنبلیؒ اپنے بارے میں بیان کرتے ہیں:
“ہمارے ہاں ظفریہ میں ایک ایسا گھر تھا کہ جب بھی لوگ اس میں رہائش اختیار کرتے، وہ صبح مردہ پائے جاتے۔ ایک مرتبہ ایک شخص آیا جو قرآن کا قاری تھا۔ اس نے وہ گھر کرائے پر لیا اور اس سے مطمئن تھا۔ اس نے وہاں رات گزاری اور صبح صحیح سلامت اٹھا۔ پڑوسی حیران رہ گئے۔ وہ کچھ عرصہ وہاں رہا، پھر وہاں سے منتقل ہو گیا۔ جب اس سے اس بارے میں پوچھا گیا تو اس نے کہا:
‘جب میں نے وہاں رات گزاری تو میں نے عشاء کی نماز ادا کی اور کچھ تلاوت کی۔ اچانک کنویں سے ایک نوجوان جن نکلا اور اس نے مجھے سلام کیا۔ میں گھبرا گیا، تو اس نے کہا: “کوئی خوف نہیں، مجھے قرآن سے کچھ سکھاؤ۔”
چنانچہ میں نے اسے سکھانا شروع کیا۔ پھر میں نے کہا: “اس گھر کی کیا حقیقت ہے؟”
اس نے جواب دیا: “ہم مسلمان جن ہیں۔ ہم تلاوت کرتے ہیں اور نماز پڑھتے ہیں۔ یہ گھر صرف بدکار لوگوں کو کرائے پر دیا جاتا ہے جو یہاں شراب نوشی کے لیے جمع ہوتے ہیں، اس لیے ہم ان کا گلا گھونٹ دیتے ہیں۔”
میں نے کہا: “رات کے وقت مجھے تم سے خوف آتا ہے، اس لیے دن کے وقت آیا کرو۔”
اس نے کہا: “ہاں۔”
چنانچہ وہ دن کے وقت کنویں سے نکل کر آتا رہا اور میں اس سے مانوس ہو گیا۔ ایک دن جب وہ تلاوت کر رہا تھا تو اچانک راستے میں ایک جادوگر یہ کہتا ہوا سنائی دیا:
‘زہر، نظرِ بد اور جنات کے خلاف منتر پڑھنے والا!’
اس جن نے پوچھا: “یہ کیا ہے؟”
میں نے کہا: “ایک جادوگر ہے۔”
اس نے کہا: “اسے بلاؤ۔”
چنانچہ میں اٹھا اور اسے اندر لے آیا۔ پھر وہ جن چھت پر سانپ کی شکل میں تبدیل ہو گیا۔ اس آدمی نے اپنے منتر پڑھے، اور سانپ آہستہ آہستہ نیچے اترتا رہا یہاں تک کہ کپڑے کے بیچ میں آ گرا۔ وہ آدمی اسے اٹھا کر ٹوکری میں ڈالنے کے لیے کھڑا ہوا، مگر میں نے اسے روک دیا۔
اس نے کہا: “کیا تم مجھے میرے شکار سے روک رہے ہو؟!”
چنانچہ میں نے اسے ایک دینار دیا اور وہ چلا گیا۔ سانپ تڑپنے لگا، پھر جن ظاہر ہوا، جو کمزور، زرد رنگ اور نہایت نڈھال ہو چکا تھا۔ میں نے کہا: “تمہیں کیا ہو گیا ہے؟”
اس نے کہا: “اس آدمی نے ان ناموں کے ذریعے مجھے مار ڈالا ہے، اور مجھے نہیں لگتا کہ میں بچ سکوں گا۔ اس لیے آج رات ہوشیار رہنا: جب کنویں سے چیخنے کی آواز سنو تو بھاگ جانا۔”
وہ کہتے ہیں:
‘اسی رات میں نے وہ چیخ و پکار سنی، چنانچہ میں بھاگ گیا۔’
ابنِ عقیلؒ کہتے ہیں:
“اس کے بعد کسی نے اس گھر میں رہنے کی جرأت نہ کی۔”
حوالہ:
سیر أعلام النبلاء 19/450، مرآۃ الزمان 8/53–54
https://www.facebook.com/share/p/1Ds2vebAb9/
Jin, Sang Penyihir, dan Rumah Kematian
Kisah ini diceritakan oleh Ibnu Aqil al-Hanbali, seorang ulama besar sekaligus guru dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
Beliau menceritakan sebuah peristiwa misterius yang terjadi di daerah al-Zafariyyah.
Dahulu, di daerah al-Zafariyyah, ada sebuah rumah yang sangat angker. Siapa pun yang mencoba tinggal di sana pasti akan ditemukan tak bernyawa saat fajar menyingsing.
Suatu hari, datanglah seorang pria ahli Al-Qur'an. Karena merasa cocok dengan rumah itu, ia memutuskan untuk menyewanya.
Keesokan paginya, ia terbangun dalam keadaan segar bugar. Para tetangga pun terperangah melihatnya masih hidup. Ia tinggal di sana selama beberapa waktu sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah.
Ketika orang-orang bertanya tentang rahasia rumah itu, ia bercerita:
"Malam itu, setelah menunaikan salat Isya, aku duduk berzikir dan membaca Al-Qur'an. Tiba-tiba, sesosok jin muda muncul dari dalam sumur dan menyapaku. Tentu saja aku terkejut bukan main, namun ia segera menenangkan aku: 'Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin kau mengajariku ayat-ayat Al-Qur'an.'
Maka, mulailah aku mengajarinya. Di sela-sela itu, aku memberanikan diri bertanya, 'Sebenarnya, apa yang terjadi dengan rumah ini? Mengapa banyak orang mati di sini?'
Jin itu menjawab, 'Kami adalah golongan jin Muslim. Kami di sini beribadah dan mengaji. Masalahnya, rumah ini sering disewa oleh orang-orang fasik yang menjadikannya tempat mabuk-mabukan. Karena kesal, kami mencekik mereka hingga tewas.'
Aku pun berkata kepadanya, 'Aku merasa sedikit takut jika kau muncul di malam hari, datanglah saat siang saja.' Ia setuju.
Sejak saat itu, ia rutin muncul dari sumur di siang hari untuk belajar. Aku pun mulai terbiasa dengan kehadirannya. Hingga suatu hari, saat kami sedang mengaji, terdengar suara seorang tukang sihir (pawang) dari jalanan berteriak, 'Siapa yang butuh jimat penawar racun, penangkal mata jahat, atau pengusir jin?'
Jin itu bertanya, 'Suara apa itu?' Aku menjawab, 'Itu seorang tukang sihir.' Ia lalu berkata, 'Panggil dia masuk.'
Aku pun memanggil si tukang sihir itu. Seketika, si jin mengubah wujudnya menjadi seekor ular yang menempel di langit-langit rumah. Si tukang sihir mulai merapal mantra-mantra saktinya.
Anehnya, ular itu perlahan-lahan lemas dan merosot turun hingga jatuh tepat di atas kain si tukang sihir.
Saat si penyihir hendak menangkap dan memasukkannya ke dalam keranjang, aku segera mencegahnya.
'Mengapa kau menghalangiku mengambil mangsaku?!' protes si penyihir. Aku pun memberinya satu dinar agar ia mau pergi dan melepaskan ular itu.
Setelah si penyihir pergi, ular itu tampak kejang-kejang. Sosok jin tadi pun muncul kembali, namun kondisinya sangat mengenaskan; wajahnya pucat pasi dan tubuhnya lemas tak berdaya. Aku bertanya dengan cemas, 'Apa yang terjadi denganmu?'
Ia menjawab lirih, 'Laki-laki tadi telah membunuhku dengan mantra yang ia baca. Aku merasa ajalku sudah dekat. Malam ini, perhatikanlah baik-baik: jika kau mendengar suara teriakan dari dalam sumur, segeralah lari menyelamatkan diri.'
Malam itu, benar saja, terdengar suara ratapan dan tangisan memilukan dari dalam sumur (kemungkinan besar berasal dari keluarga atau kaum jin lainnya yang juga menghuni sumur tersebut, yang meratapi kematian kerabatnya, dan bisa jadi berniat membalas dendam)
Aku pun segera pergi meninggalkan rumah itu."
Ibnu Aqil menutup kisahnya dengan mengatakan:
"Setelah kejadian itu, tidak ada satu orang pun yang berani menginjakkan kaki atau tinggal di rumah tersebut."
(Siyar A'lam an-Nubala 19/450, Mir’aat al-Zamaan: 8 / 53-54)
Ustadz reza