Minggu, 21 Desember 2025

Dampak Aqidah Irja' Atas Fatwa Diperbolehkannya Merayakan Perayaan Orang Kuffar

~Dampak Aqidah Irja' Atas Fatwa Diperbolehkannya Merayakan Perayaan Orang Kuffar 

📝Salah satu faktor yang mendorong beberapa tokoh ahlul kalam kontemporer membolehkan perayaan atau ucapan selamat natal/tahun baru adalah konsekuensi dari aqidah mereka dalam bab iman (bab al-asma' wal ahkam). 

📚Sebagimana kita tahu bahwa ahlul kalam seperti Asya'irah merupakan Murji'ah di dalam bab Iman. Jumhur mereka mengatakan bahwa iman cukup dengan tashdiq (kepercayaan). Adapun amalan anggota badan lainnya tidak dikategorikan sebagai keimanan, ia hanya penyempurna untuk menghukumi zhahir seseorang di dunia. Mereka juga mengatakan iman adalah sebuah kesatuan yang tidak bisa dibagi-bagi. Jadi tidak ada perbedaan antara iman seorang mukmin atas mukmin lainnya. 

✒️Konsekuensi dari aqidah mereka dalam bab iman ini bahwa melakukan dosa besar sama sekali tidak berpengaruh terhadap iman seseorang. Jadi sah-sah saja seorang merayakan atau mengucapkan selamat natal/tahun baru selagi ia masih menyimpan keimanan di dalam hatinya. Mereka buat berbagai syubhat seperti dalih toleransi, senang terhadap kelahiran Nabi Isa, tanpa harus dibarengi keyakinan atau ritual-ritual kekufuran. 

📷Kitab al-Mawaqif fi Ilmil Kalam karya al-Iji, salah satu ulama besar Asya'irah. Di sini ia mengatakan selagi seseorang mukmin dengan hatinya walaupun sujud kepada Matahari pada hakikatnya ia masih dikatakan sebagai mukmin. Namun kita menghukumi kekufurannya secara zhahir saja di dunia akibat perbuatan yang ia lakukan. Adapun antara hamba tersebut dengan Allah maka ia masih dianggap beriman.
Ustadz muhammad taufiq