Rabu, 07 Januari 2026

Kitab Al hawadits wal bida'

Kitab Al hawadits wal bida'
_____________________________________

Kitab ini karya Ath thurthusyi رحمه الله, di dalam kitab ini penulis mengulas bid'ah-bid'ah amaliah ( perbuatan ) serta sedikit menyebutkan bid'ah-bid'ah i'tiqodiyyah ( keyakinan ), dan ini adalah kitab yang berharga meskipun kecil, banyak orang-orang yang setelahnya dari para imam telah mengambil faidah darinya.

Kitab ini terdiri dari 24 fasal, pada sebagian fasalnya disebutkan sebagian bid'ah-bid'ah yang berkaitan dengan Al Qur'an, diantaranya :

1. Membaca Al Qur'an dengan irama-irama tertentu

2. Dan bid'ah-bid'ah dalam penulisannya, 

3. Menulis khot ayat di ( dinding... pent ) masjid 

4. Dan satu fasal tentang bid'ah-bid'ah ketika khatam Qur'an.

5. Bid'ah membaca Al Qur'an dengan cara idaroh ( diupah, di speaker .. ) dan selainnya.

Diterjemahkan oleh saudaramu La Ode Abu Hanafi dari kitab البدع العملية المتعلقة بالقران الكريم hal 45 karya Ahmad bin Abdullah bin Muhammad

Dilemahkannya hadis seorang rawi apabila ia meriwayatkan sesuatu yang menyelesihi pendapatnya

Diantara kaidah dalam ilmu 'ilal hadis yg disebutlan oleh Ibnu Rajab dalam syarh 'ilal at tirmidzi:
تضعيف حديث الراوي إذا روى ما يخالف رأيه
"Dilemahkannya hadis seorang rawi apabila ia meriwayatkan sesuatu yang menyelesihi pendapatnya".
Seperti hadis di gambar di atas, sebuah riwayat pada hadis Aisyah tentang Bariroh: "Bariroh diperintah menunggu masa iddah selama 3 kali haid". Dilemahkan oleh banyak ahli hadis; karena salah satu faktornya Aisyah berpendapat 3 Aqra" itu 3 athhar (3 kali suci).

✍https://t.me/irsyadhasan_bin_isaansori4

Ingin belajar hadis ? Prodi Ilmu Hadis STDI Imam Syafi'i Jember solusi yang patut diperhitungkan.
https://stdiis.ac.id/hea.../brosur-pmb-stdiis-t-a-2026-2027/

#irsyadhasan
#prodiilmuhaditsstdiis 
#litbangstdiis

Siapa yang memotong pembicaraanmu, maka tidak perlu engkau ulangi ucapanmu. Sebab hal itu menandakan miskinnya rasa cinta pada ilmu dan adab.”

Al-Imām Abū Ḥanīfah رحمه الله berkata:

“Siapa yang memotong pembicaraanmu, maka tidak perlu engkau ulangi ucapanmu. Sebab hal itu menandakan miskinnya rasa cinta pada ilmu dan adab.”

📝 al-Khayrāt al-Ḥisān
ustadz reza ibn nasrullah 

Di dalam madzhab Hanbali, tidak ada perbedaan antara istilah "Fasad" (rusak) dan "Buthlan" (batal) kecuali dalam dua hal saja:

Di dalam madzhab Hanbali, tidak ada perbedaan antara istilah "Fasad" (rusak) dan "Buthlan" (batal) kecuali dalam dua hal saja:

1. ​Haji: Disebut batal jika murtad, dan disebut fasad jika melakukan jima'.

2. ​Nikah: Istilah batal digunakan untuk pernikahan yang disepakati (ittifaq) ketidaksahannya oleh para ulama, sedangkan fasad untuk pernikahan yang masih diperselisihkan keabsahannya oleh para ulama'. 

Imam Al-Mardawi telah menyebutkan contoh-contoh lainnya dalam kitab Al-Tahbir Syarh Al-Tahrir.

📝 Faidhul Jalil 'ala Matn Dalil, 1/588
ustadz reza ibn nasrullah 

Setiap wilayah yang hukum-hukum Islam lebih dominan daripada hukum kekufuran disebut sebagai Darul Islam (Negeri Islam). Sebaliknya, setiap wilayah yang hukum-hukum kekufuran lebih dominan daripada hukum Islam disebut sebagai Darul Kufr (Negeri Kafir)

Al-Qadhi Abu Ya‘la al-Hanbali rahimahullah (w.458H) berkata:

Setiap wilayah yang hukum-hukum Islam lebih dominan daripada hukum kekufuran disebut sebagai Darul Islam (Negeri Islam). Sebaliknya, setiap wilayah yang hukum-hukum kekufuran lebih dominan daripada hukum Islam disebut sebagai Darul Kufr (Negeri Kafir).

Pendapat ini berbeda dengan pendapat sekte Qadariyyah yang menyatakan bahwa: “Setiap wilayah yang didominasi oleh orang-orang fasik, bukan oleh kaum muslimin (yang taat) dan bukan pula oleh orang-orang kafir, maka wilayah tersebut bukan Darul Kufr dan bukan pula Darul Islam, melainkan Darul Fisq (Negeri Kefasikan).”

Pendapat mereka (Qadariyah) tersebut dibangun di atas prinsip dasar yang mereka anut dalam masalah iman, yaitu konsep al-manzilah baina al-manzilatain (posisi di antara dua posisi). Padahal, dalil yang benar telah dijelaskan sebelumnya: bahwa setiap mukalaf (orang yang dibebani syariat) tidak keluar dari dua keadaan, kafir atau mukmin, baik imannya sempurna maupun tidak.

Jika sebagian manusia berstatus kafir dan sebagian lainnya mukmin, maka tidak mungkin ada seorang mukalaf yang berada pada posisi “bukan mukmin dan bukan pula kafir”. Demikian pula halnya dengan suatu wilayah; statusnya tidak akan lepas dari dua kemungkinan: Darul Islam atau Darul Kufr.

(Al-Mu‘tamid fi Ushuluddin: 276)
Al-Qadhi Abu Ya‘la al-Hanbali rahimahullah (w.458H) berkata:

ustadz reza ibn nasrullah 

Selasa, 06 Januari 2026

Poligami Sirri Dipidana?

Poligami Sirri Dipidana?

Lalu jahatnya dmn?  Polemik ini muncil kerena berlakunya UU nomor 1 tahun 2023 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana pada pasal 402 yang menyatakan: 

(1) Dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun 6 (enam) Bulan atau pidana denda paling banyak kategori IV, Setiap Orang yang:
a. melangsungkan perkawinan, padahal diketahui bahwa perkawinan yang ada menjadi penghalang yang sah untuk melangsungkan perkawinan tersebut.
Jika Setiap Orang sebagaimana dimaksud pada ayat (l) huruf a menyembunyikan kepada pihak yang lain bahwa perkawinan yang ada menjadi penghalang yang sah untuk melangsungkan perkawinan tersebut, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun atau pidana denda paling banyak kategori IV.

Siapa penghalang perkawinan yang ada menjadi penghalang yang sah untuk melangsungkan perkawinan tersebut? Menurut penjelasan undang-undang KUHP ini adalah perkawinan yang dapat digunakan sebagai alasan untuk mencegah atau membatalkan perkawinan berikutnya yang dilakukan oleh salah satu pihak yang terikat oleh perkawinan tersebut sebagaimara diatur dalam Undang-Undang mengenai perkawinan.

Menurut UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan pasal 9 menyatakan bahwa Pasal 9: Seorang yang terikat tali perkawinan dengan orang lain tidak dapat kawin lagi, kecuali 1) Dalam hal seorang suami akan beristri lebih dari seorang, maka ia wajib mengajukan permohonan ke Pengadilan di daerah tempat tinggalnya.
(2) Pengadilan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini hanya memberi izin kepada suami yang akan beristri lebih dari seorang apabila:
a. istri tidak dapat memnjalankan kewajibannya sebagai isteri;
b. istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan;
c. istri tidak dapat melahirkan keturunan.

Ini jelas bahwa perkawinan yang terhalang oleh orang lain menurut  Kitab Undang-undang Hukum Pidana multi tafsir, bisa saja bermakna karena sudah punya isteri yg belum mendapat izin atau karena memang tak cukup syarak rukun nikah lainnya. 
.
Sebaiknya pasal 402 ini  diberi petunjuk teknisnya, seperti apa petkawinan  yang dianggap pidana agar hukum bisa ditegakan dan pengaturan perkawinan lebih baik. Nikah lagi bagi suami yang sudah beristri tidak wajib mendapat izin istri atau pemerintah untuk sahnya sebuah pernikahan
.
Perkawinan jangan dibuat mainan tapi jangan juga dipersulit apalagi dipidanakan. Poligami itu bukan perintah tapi jalan keluar bagi yang membutukan. Janganlah memberi syarat sahnya pernikahan itu harus ada izin istri apalagi izin pengadilan. Izin istri atau izin pengadilan itu untuk memastikan orang yg berpoligami akan mampu berbuat adil. Poligami itu bukan kejahatan tapi memenuhi hajat kemanusiaan.
https://www.facebook.com/share/p/16zFcZHwMZ/
Ustadz chalil navis

FENOMENA IMAM SHALAT

FENOMENA IMAM SHALAT 

Ketika shalat Isya’ tadi, Al Faqir kaget dengan bacaan imam yang kalau dibilang belum sesuai kepantasan beliau ditunjuk menjadi imam shalat. Dan notabene si imam tersebut *guru tahfidz* di pondok yang bersebelahan dengan masjid yang Al Faqir shalat. Ketika itu beliau membaca surat Thaha. 

Dimana itu ketika si imam membaca terdapat banyak lahn jaliy maupun khofiy yang sangat banyak. Kesalahan tersebut ada pada surat Al Fatihah maupun surat Thaha itu sendiri. 

Mungkin Al Faqir akan sebutkan sedikit saja sebagai dalam bentuk faidah. 

1. Pada surat Al Fatihah pada ayat " اهدنا الصراط المستقيم " . Pada kalimat “Al Mustaqim” si imam tidak membaca dengan “ المستقيم " melainkan mengganti huruf Qof menjadi huruf kaf. Yang ini jelas Lahn Jaliy. Yang ini sudah jelas para ulama berfatwa bahwa tidak sah Shalat yang bacaan Al Fatihah nya keliru. 

2. Kesalahan pada surat Thaha : 

- Pada kalimat ( تَخْرُجْ بَيضَاء ) yang jelas itu pada huruf “Jim” ada Qolqolah sughro disitu malah tidak dipantulkan. 

- Pada kalimat (  اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي ) di huruf dal yang kedua pada kalimat tersebut si imam merubah dengan huruf ta’. Dan ini tidak diragukan lahn jali demikian.

Dan kesalahan-lainnya. 

Dari sini, Al Faqir menyimpulkan bahwa : 

1. Tidak selalu Hafidz Al Quran bacaan nya bagus. 
2. Tidak selalu hafidz Al Quran langsung disuru menjadi imam tanpa pembelajaran tajwid yang matang. 
3. Guru nya sendiri membaca keliru, apalagi muridnya. Karena murid adalah cerminan gurunya.

Semoga Allah istiqomahkan kita diatas Al Quran dan Allah mudahkan kita mengucapkan ayat-ayatnya dengan pelafalan yang baik dan benar. 

Sekian, semoga bermanfaat. 
Baarokallahufiikum 

✍️Muhammad Rafi Maesany
Tangerang Selatan

Syaikh Ahmad Samir Al-Azhari hafizhahullahu ta'ala mengatakan dalam Kitab Al-Lahn Fi Tilawatil Quranil Karim hlm. 224:

Faidah:

Syaikh Ahmad Samir Al-Azhari hafizhahullahu ta'ala mengatakan dalam Kitab Al-Lahn Fi Tilawatil Quranil Karim hlm. 224:

"Makhraj huruf itu tidak akan bisa terjaga dengan baik kecuali apabila engkau bisa merealisasikan timbangan-timbangan dan standar-standarnya, yaitu menyempurnakan sifat-sifatnya, baik sifat dzatiyah maupun sifat aradhiyah. Di antara sifat aradhiyah adalah harakat.

Engkau tidak akan bisa menjaga kesempurnaan harakat kecuali apabila engkau bisa menyempurnakan kesempurnaan bentuk mulutmu saat mengucapkannya.

Kemudian engkau tidak akan bisa menjaga semua itu kecuali apabila engkau bisa menjaga kesempurnaan suara huruf yang tepat baginya, apakah ia kuat atau lemah. Apakah ia tebal atau tipis.

Adapun penjagaan hukum-hukum tajwid sangat bergantung pada kemampuanmu menjaga kelima perkara yang telah disebutkan sebelumnya. Karena hukum-hukum tajwid itu lahir dari susunan kata atau kalimat.

Sedangkan kesempurnaan susunan kata atau kalimat tidak akan pernah tercapai kecuali dengan menjaga huruf saat ia sendirian, baik kesempurnaan dari sisi makhraj, sifat, harakat, bentuk mulut, dan suara. Karenanya, jagalah semua itu dalam tilawahmu, agar engkau bisa selamat, baik dari lahn jali ataupun khafi."

-----

Jadi, terdapat enam poin yang mesti dijaga secara beriringan satu dengan lainnya:

1. Menjaga makhraj,
2. Menjaga sifat,
3. Menjaga harakat,
4. Menjaga bentuk mulut / organ pelafalan,
5. Menjaga suara yang sesuai dengan huruf, dan
6. Menjaga hukum-hukum tajwid

Wallahu a'lam.

Faidah Daurah Kitab Al-Lahn Fi Tilawatil Quranil Karim bersama Syaikh Ahmad Samir Al-Azhari hafizhahullahu ta'ala

- Muhammad Laili Al-Fadhli -

Kelompok Yang Kecil Rasa Malunya

Kelompok Yang Kecil Rasa Malunya

Imam as-Sijzi -rahimahullah- dalam buku ba tahannya terhadap Asya'irah, menyebut seorang ulama Asya'irah sebagai seorang yang kurang ilmu dan tipis rasa malunya. 

Hal itu karena ia mengisyaratkan dalam buku-bukunya bahwa imam Ahmad -rahimahullah- juga mengetahui ilmu kalam dan tidak ada perbedaan antara pemahaman imam Abul Hasan al-Asy'ary -rahimahullah- dan imam Ahmad -rahimahullah-. 

Setelah menjelaskan hal itu beliau berkata:

هذا من رقة الدين و قلة الحياء

"Ini merupakan perbuatan yang menunjukkan kurangnya ilmu dan tipisnya rasa malu. " (Risalah as-Sijzi Ila Ahli Zabid: 126) 

Apa yang beliau sebutkan ini juga menimpa para Asya'irah zaman ini. Dimana mereka secara serampangan mengutip perkataan ulama sunnah dan mengatakan tidak ada perbedaan dengan keyakinan mereka guna mengecoh orang awam agar ikut berfaham layaknya mereka. 

Bahkan, imam As-Sijzi -rahimahullah- yang mengatakan hal ini pada mereka, juga dikutip perkataannya oleh para Asya'irah, pada perkara yang membantah Asya'irah, lalu mereka katakan ini sama dengan Asya'irah. 

Memang tipis urat malunya... Tapi pintar berdusta untuk menipu manusia. Wallahul musta'an.
ust abu said al munawy

Air Zamzam Ketika Dicampur Dengan Air Lain

Air Zamzam Ketika Dicampur Dengan Air Lain 

Jika air Zamzam dicampur dengan air lainnya apakah air tersebut berubah menjadi zamzam? Semisal air mineral 1 botol dicampur dengan 1 tetes air zamzam, apakah menjadi air 1 botol tersebut semua menjadi zamzam? 

Jawabannya: TIDAK DEMIKIAN. Demikianlah yang difatwakan para ulama. 

Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya: "Aku membawa air Zamzam, lalu aku mencampurnya dengan air biasa agar cukup untuk dibagikan kepada banyak orang. Apakah hal ini termasuk penipuan, atau tidak?". Beliau menjawab:

إذا قلت لهم: إنها كلها من زمزم، فهذا غلط كذب، أما إذا قلت: إني خلطت معها ماء من غير زمزم فلا بأس، وإلا فلا حاجة إلى هذا كله، الماء الذي معك تعطيه من تشاء، أو تشربه أنت، أو تستعمله أنت على بصيرة، ولا تكذب، والأمر في هذا سهل

"Jika anda mengatakan kepada mereka bahwa air itu seluruhnya adalah air Zamzam, maka itu adalah kesalahan dan kedustaan. Adapun jika engkau mengatakan bahwa engkau telah mencampur air Zamzam dengan air lainnya, maka tidak mengapa. Dan sebenarnya anda tidak perlu melakukan semua itu. Air Zamzam yang ada padamu boleh engkau berikan kepada siapa saja yang engkau kehendaki, atau engkau minum sendiri, atau engkau gunakan sendiri, tanpa harus berdusta. Ini perkara mudah"
(Fatawa Nurun 'alad Darbi, no.359, pertanyaan ke-10).

Air Zamzam ketika dicampur maka keutamaannya hanya sekadar Zamzam yang ada di dalam campuran tersebut.

Syaikh Abdullah bin Jibrin ditanya: "Jika air Zamzam dicampur dengan air biasa apakah berlaku padanya hukum-hukum air Zamzam?". Beliau menjawab:

الأفضل أن يُشرب ماء زمزم وحده ، فإن خُلط بغيره بقي له حُكم الفضل وجواز التداوي به ، وإن كان ذلك أنقص مما إذا كان خالصًا وحده

"Yang utama hendaknya meminum air Zamzam yang murni. Jika dicampur dengan air yang lain, maka masih ada keutamaannya dan boleh untuk mengobati. Namun keutamaannya berkurang dibandingkan jika air Zamzam tersebut murni" (dinukil dari fatwa IslamQA no.153234).

Syaikh Shalih al-Fauzan ditanya: "Sebagian penuntut ilmu mengatakan bahwa jika air Zamzam dicampur dengan air biasa maka ia akan mengubah air biasa tersebut menjadi Zamzam seluruhnya dan memiliki keberkahan Zamzam seluruhnya. Apakah ini benar?". Beliau menjawab:

لا ما هو بالصحيح, ما هو كله من زمزم. البركة ما هو له من زمزم وأما الماء غير زمزم ليس له حكم الزمزم

"Klaim ini tidak benar. Air tersebut tidak menjadi Zamzam semua. Keberkahan Zamzam sebatas kadar Zamzam yang ada padanya. Adapun air lain yang bukan Zamzam maka tidak berlaku hukum Zamzam" (Transkrip fatwa beliau di: https://s.id/onWlM). 

Namun air biasa yang dicampuri Zamzam tetap memiliki keutamaan lebih daripada air biasa yang tidak ada campuran Zamzamnya. Dewan fatwa Islamweb menjelaskan:

فماء زمزم إذا خلط بغيره من المياه فإن الجميع لا يكتسب فضل ماء زمزم وبركته، بل البركة والفضل هنا تكون بقدر ماء زمزم فقط لاختصاصه بهذه البركة، ولا يستوي هذا الماء مع غيره من المياه التي لم تختلط بماء زمزم ولو كان كمية ماء زمزم قليلة

“Air Zamzam apabila dicampur dengan air-air lain, tidaklah seluruh campuran itu memiliki keutamaan dan keberkahan air Zamzam. Bahkan keberkahan dan keutamaan dalam hal ini hanyalah sebanding dengan kadar air Zamzam di dalamnya saja. Karena air Zamzam memiliki kekhususan keberkahan tersebut. Oleh sebab itu, air campuran Zamzam ini tidaklah sama dengan air-air lain yang tidak dicampuri air Zamzam, meskipun kadar air Zamzamnya sedikit" (Fatwa Islamweb no.109696).

Wallahu a'lam.

Fawaid Kangaswad | Support Ma'had Online: trakteer.com/kangaswad/gift

KISAH PERPUSTAKAAN SYAIKH ALI AL-HALABI RAHIMAHULLAH

KISAH PERPUSTAKAAN SYAIKH ALI AL-HALABI RAHIMAHULLAH 

​Syaikh Ali al-Halabi—semoga Allah merahmatinya—wafat dalam keadaan menanggung utang antara 170 hingga 200 ribu dinar!

Fokus utama beliau selama hidupnya adalah mengenai perpustakaannya; bagaimana beliau bisa memberi manfaat kepada orang-orang melalui perpustakaan tersebut, dan bagaimana orang-orang tetap bisa mengambil manfaat darinya setelah beliau wafat.

​Beliau sangat ingin menjual perpustakaan tersebut agar dijadikan sebagai wakaf, sehingga para penuntut ilmu dapat mengambil manfaat darinya. Beliau pun selalu memilih cetakan-cetakan kualitas terbaik untuk koleksi perpustakaannya.

​Syaikh Sufyan 'Aisy menceritakan:
"Aku pernah melihat di kediaman beliau sebuah kitab yang sangat besar, jumlah jilidnya mencapai lebih dari 30 jilid dengan ukuran besar, dan kitab itu tidak berbahasa Arab!"

​Lalu aku bertanya kepada Syaikh tentang kitab tersebut.
Beliau menjawab: "Ini adalah kitab Sejarah Dunia dalam bahasa Latin (sedangkan Syaikh Ali sendiri tidak menguasai bahasa Latin)."

​Aku bertanya lagi: "Lalu apa yang membuatmu membelinya?"

Beliau menjawab: "Wahai Sufyan, barangkali nanti akan datang seseorang ke perpustakaanku yang dapat mengambil manfaat darinya!"

​Koleksi perpustakaan tersebut telah diindeks oleh staf perpustakaan bernama Ahmad al-Halabi, yang menyortirnya berdasarkan judul dan memasukkan daftar indeksnya ke dalam komputer.

​Syaikh Ali pernah berupaya menjual seluruh koleksi perpustakaan tersebut kepada Syaikh Shalih Alu Syaikh, sehingga para pakar pun datang untuk memeriksanya. Syaikh Shalih Alu Syaikh sendiri adalah seorang kolektor buku yang luar biasa (kelas kakap) ; di samping keilmuannya, beliau dikenal sebagai "ensiklopedia" dalam hal koleksi buku, dan beliau adalah orang nomor satu di Mesir tempat orang-orang menawarkan buku-buku berharga!

​Syaikh Shalih sangat mencintai guru kami, Ali al-Halabi. Beliau sering mengunjungi Syaikh Ali atau mengirimkan visa haji untuknya, serta pernah mengundang Syaikh Ali ke Riyadh untuk bertemu langsung.

​Namun, Syaikh Ali wafat secara mendadak. Beliau meninggalkan anak-anak yang tidak begitu mengerti tentang seluk-beluk buku dan kualitas cetakan, sehingga mereka tidak sanggup mewujudkan cita-cita ayah mereka untuk menjadikan perpustakaan tersebut sebagai wakaf.

​Maka datanglah Syaikh Ali al-Kurdi—semoga Allah menjaganya—yang sangat mencintai Syaikh Ali al-Halabi dan merupakan seorang yang berkecukupan (kaya). Beliau membeli seluruh perpustakaan tersebut, termasuk buku-buku karya Syaikh Ali, kaset-kaset rekamannya, seluruh hak cipta, dan segala hal yang berkaitan dengan Syaikh Ali al-Halabi. Beliau membayar harganya, di mana hasil penjualan tersebut digunakan untuk melunasi utang-utang Syaikh Ali, dan sisanya dibagikan kepada para ahli waris.

​Saat ini, beliau (Syaikh Ali al-Kurdi) sedang berupaya mencari tempat yang layak agar perpustakaan tersebut menjadi wakaf yang bermanfaat bagi para penuntut ilmu. Beliau juga telah menugaskan orang untuk mentranskrip kaset-kaset dan pelajaran-pelajaran yang terekam agar dapat diterbitkan dalam bentuk cetak, insya Allah.

​(Disadur dari cuplikan ceramah Syaikh Sufyan 'Aisy)
Ustadz abu hilya asri

Pujian Ibnu Daqiq Al-'Ied Asy-Syafi'i kepada Ibnu Taimiyyah Al-Hanbali

Pujian Ibnu Daqiq Al-'Ied Asy-Syafi'i kepada Ibnu Taimiyyah Al-Hanbali

Tatkala Ibnu Daqiq Al-'led masuk menemui Ibnu Taimiyyah, beliau pun memuji Ibnu Taimiyyah. Dan di antara hal yang diucapkan oleh Ibnu Daqiq Al-'Ied kepada Ibnu Taimiyyah adalah ucapan, "Mā kuntu azhunnu annallāha baqiya yakhluqu mits-laka (Tidaklah aku punya pikiran bahwa Allah masih tetap menciptakan orang sepertimu)."

Maksud ucapan beliau itu adalah, "Tidaklah terbersit dalam pikiranku bahwa di kalangan manusia yang Allah ciptakan pada masa ini ada orang yang akan mencapai pencapaian yang kulihat pada dirimu)."

Dan bukanlah maksud ucapan beliau itu, "Dalam pikiranku, tidaklah Allah akan menciptakan orang sepertimu setelahmu -atau orang yang lebih besar darimu setelahmu." Barangsiapa yang memahami bahwa inilah yang dimaksud, maka ia telah keliru jauh.

(Syaikh Badr bin 'Ali Al-'Utaibi hafizhahullah) 

Al-Imām Ibnu Daqīq Al-'Ied Asy-Syafi'i (w. 702 H) rahimahullah mengungkapkan : 

لما اجْتمعت بِابْن تَيْمِية رَأَيْت رجلا الْعُلُوم كلهَا بَين عَيْنَيْهِ يَأْخُذ مِنْهَا مَا يُرِيد ويدع مَا يُرِيد

"Saat aku bersama dengan Ibnu Taimiyyah, aku melihat seorang yang seluruh ilmu seakan berada diantara kedua matanya, yang bisa ia ambil dan ia tinggalkan sesuai keinginannya."

(Ar-Raddul Al-Wāfir, Ibn Nashiriddin Ad-Dimasyqi, hal. 59)

ulama yg tawadhu


Ibnu Rasyiq adalah sosok yang sangat berjasa dalam menyalin dan merapikan karya-karya Ibnu Taimiyah sehingga bisa sampai ke tangan kita hari ini

Kata ibnu Katsir yang membuat tulisan gurunya susah dibaca adalah : itu menggambarkan betapa cepatnya Ibnu Taimiyah menulis. Saking cepatnya beliau menuangkan ide ke dalam kertas, bentuk huruf-hurufnya menjadi sangat rapat dan sulit dibaca oleh orang biasa.

Tulisan tangan Ibnu Taimiyah rahimahullah sangatlah menakjubkan (unik/sulit dibaca). Terkadang beliau sendiri merasa kesulitan membaca tulisannya, lalu muridnya yang bernama Ibnu Rasyiq al-Maliki membantunya membacakan tulisan tersebut untuknya. Ibnu Rasyiq adalah sahabat beliau yang paling mengenal (paling mahir membaca) tulisan tangan beliau.

Ibnu Rasyiq adalah sosok yang sangat berjasa dalam menyalin dan merapikan karya-karya Ibnu Taimiyah sehingga bisa sampai ke tangan kita hari ini.
Ustadz hilya asri
https://www.facebook.com/share/17LMH1cQcq/

Senin, 05 Januari 2026

Bab Udzur bil jahl adalah perkara khilafiyah ijtihadiyah.

Bab Udzur bil jahl adalah perkara khilafiyah ijtihadiyah.
___
Maka dari itu para imam justru membahasnya  di dalam kitab kitab kitab fiqih sebagai isyarat bahwa statusnya sama dengan masalah fiqih yang notabene ijtihadiyah.

___
Imam Ibnu Utsaimin
https://www.facebook.com/share/p/17s6irwghM/

kecelakaaan

Fatwa ulama tentang membuang air panas

Fatwa ulama tentang membuang air panas
___________________

1. Syaikh bin Baz ditanya : Wahai syaikh, apakah kita harus mengucapkan bismillah, tatkala menuang air panas, karena di khawatirkan ada jin di tempat air tersebut di tuang?

Jawaban : Ya, dia harus mengucapkan bismillah, yang seperti itu guna mengingatkan jika di sana ada jin. Kemudian Syaikh mengatakan : Pernah sesekali aku menghadiri majlis qiro'ah (ruqiyah) terhadap seseorang yang kesurupan. Maka yang meruqiyah bertanya kepada jin yang merasukinya : Mengapa engkau merasukinya? Maka ia pun menjawab : Dia telah menuangkan air panas kepada salah seorang dari anakku, sampai ia membunuhnya. Maka yang meruqiyah pun menimpalinya : Karena ia tidak tau, kalau anakmu ada di tempat itu. Maka jin itupun berkata : Mengapa tidak mengucapkan bismillah! sehingga ia bisa mengingatkannya.

*سئل شيخنا ابن باز;*

هل ياشيخ نقول بسم الله عند صبِّنا الماء الساخن وذلك خشية أن يكون هناك جني في المكان الذي صبَّ فيه الماء ؟

* الجواب :
قال الشيخ نعم يسمي الله وذلك ليُتنبه إن كان هناك  قال الشيخ : قد حضرت مرة جلسة قراءة على شخص مصاب بمس فقال الراقي مخاطباً الجني الملتبس بالإنسي لما تلبَّسْتَ به ، فقال: الجنِّي لقد صبَّ الماء الساخن على أحد أبنائي فقتله ، فقال :الراقي له لأنه لا يعرف أن أبنك في ذلك المكان ، فقال : الجنِّي لما لم يسمي الله فيَتَنبه له. انتهى ........ 
أو كما قال الشيخ حفظه الله.

*📚 وللمزيد الفائدة كلام الشيخ موجود في شرحه لرسالة الدعوة إلى الله وأخلاق الدعاة ( عشرة أشرطة) - لسماحة الشيخ عبدالعزيز بن باز رحمه الله .*

2. Syaikh Zaid Al-Madkhali rahimahullah ta’ala ditanya :

ﻫﻞ ﺻﺤﻴﺢ ﺃﻧﻪ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﻟﻨﺎ ﺃﻥ ﻧﻘﻮﻝ ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﺪ ﺻﺐّ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﺴﺎﺧﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﺎﺭﻱ ﺣﺘﻰ ﻻ ﻧﺤﺮﻕ ﺍﻟﺠﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﺎﺭﻱ ؟

Apakah benar, sebaiknya kita membaca basmalah ketika hendak membuang air panas di selokan, sehingga kita tidak membakar jin di selokan?

Jawaban:

ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺣﺎﻝ ﻻﻳﺼﺐ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﺤﺎﺭ ﻻﻓﻰ ﺍﻟﻤﺠﺎﺭﻱ ﻭﻻ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺭﺽ ﻻﻳﺼﺐ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﺤﺎﺭ؛ ﻻﻥ ﺍﻷﺭﺽ ﻣﻤﻠﻮﺀﺓ ﺑﺎﻟﺴﻜﺎﻥ ﻓﺮﺑﻤﺎ ﻳﻘﻊ ﻋﻠﻰ ﻋﺎﻟﻢ ﺍﻟﺠﻦ ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﺻﻐﺎﺭﻫﻢ ﻓﻴﺤﺼﻞ ﺍﻹﻧﺘﻘﺎﻡ ﻣﻨﻬﻢ ﻓﻴﺼﺮﻉ

Bagaimanapun, air panas tidak boleh dituangkan di selokan, tidak pula di tanah, tidak pula di air yang mengalir. Karena bumi ini penuh dengan penghuni, terkadang air panas tersebut mengenai alam jin atau anak-anak mereka, sehingga mereka membalas dendam lalu terjadi kesurupan.

ﻟﺬﺍ ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﻥ ﻳﺼﺐ ﺍﻻﻧﺴﺎﻥ ﻣﺎﺀﺍً ﺣﺎﺭﺍً ﻓﻠﻴﺒﺮﺩﻩ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ ﺣﺘﻰ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺎﺭﺩﺍً ﻻﻳﺆﺫﻯ ﻭﻳﺼﺒﻪ ﺳﻮﺍﺀﺍً ﻓﻰ ﺍﻟﻤﺠﺎﺭﻯ ﺃﻭ ﻓﻲ ﻏﻴﺮﻫﺎ .

Oleh karena itu jika seorang insan hendak menuangkan air panas, hendaknya ia mendinginkan dulu dengan (dicampur) air sampai dingin dan tidak menyakiti lalu ia membuangnya, apakah di selokan ataukah selainnya.

3. Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin rahimahullah ditanya : Sebagian orang berkata: jangan menuangkan air yang panas di atas tanah kecuali dengan tasmiyyah (mengucapkan Bismillah) karena khawatir dimasuki jin?

Jawaban : Tidak mengapa jika dia menuangkan air panas tanpa tasmiyyah.

Al Kanzu ats Tsamin Fii Sualat Ibni Sanid Libni 'Utsaimin (162)

 28_ صب الماء الساخن على الأرض بدون تسمية
سئل فضيلة الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله :بعضهم يقول لا تصب الماء الحار على الأرض إلا بتسمية خشية دخول الجن؟

فأجاب بقوله:مافيه شيء لو صب الماء بدون تسمية.

الكنز الثمين في سؤلات ابن سنيد لابن عثيمين(162)

4. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: "Merasuknya jin ke dalam tubuh manusia memiliki tiga penyebab:

1⃣. Terkadang jin tersebut menyukai orang yang dirasukinya, maka ia merasukinya guna bersenang-senang dengannya. Dan kerasukan jenis ini lebih ringan dan lebih mudah ketimbang jenis yang lainnya.

2⃣. Terkadang ada manusia yang mengganggunya, seperti bila manusia tersebut mengencinginya atau menuangkan air panas kepadanya. Atau terkadang manusia tersebut sampai membunuh sebagian dari mereka, atau selain itu dari berbagai macam gangguan. Ini adalah jenis kerasukan yang paling berat, sering terjadi mereka sampai membunuh orang yang dirasukinya.

3⃣. Terkadang jin itu hanya iseng / usil sebagaimana usilnya orang-orang bodoh kepada orang-orang yang melintas di jalan."

📚 Majmu'ul Fatawa (13/82)
di upload oleh ustadz ekky pradana
di share oleh ustadz asmon nurijal 

"Kemaksiatan itu merusak akal. Karena sesungguhnya akal itu memiliki cahaya, dan maksiat itu pasti akan memadamkan cahaya akal tersebut. Jika cahayanya telah padam, maka akal akan menjadi lemah dan berkurang (kualitasnya)."

​Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:

"Kemaksiatan itu merusak akal. Karena sesungguhnya akal itu memiliki cahaya, dan maksiat itu pasti akan memadamkan cahaya akal tersebut. Jika cahayanya telah padam, maka akal akan menjadi lemah dan berkurang (kualitasnya)."

Kitab Ad-Da' wa Ad-Dawa', hal. 147


Aku tidak yakin bahwa ada seorang yang Salafi dalam aqidah dan perilakunya mungkin mengadopsi -manut- manhaj Ikhwanul Muslimin

#REALITANYA...

Syaikh Al Albani رحمه الله berkata:
"Aku tidak yakin bahwa ada seorang yang Salafi dalam aqidah dan perilakunya mungkin mengadopsi -manut- manhaj Ikhwanul Muslimin". [Silsilah Al Huda wan Nur no. 609]
ustadz muhammad alif el qibty

Hadits Tentang Vegan

Hadits Tentang Vegan 

Dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu, ia berkata:

أنَّ نَفَرًا مِن أَصْحَابِ النبيِّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ سَأَلُوا أَزْوَاجَ النبيِّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ عن عَمَلِهِ في السِّرِّ؟ فَقالَ بَعْضُهُمْ: لا أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، وَقالَ بَعْضُهُمْ: لا آكُلُ اللَّحْمَ، وَقالَ بَعْضُهُمْ: لا أَنَامُ علَى فِرَاشٍ، فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عليه. فَقالَ: ما بَالُ أَقْوَامٍ قالوا كَذَا وَكَذَا؟ لَكِنِّي أُصَلِّي وَأَنَامُ، وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فمَن رَغِبَ عن سُنَّتي فليسَ مِنِّي

"Ada sekelompok orang dari sahabat Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bertanya kepada istri-istri Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam tentang amalan Nabi yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi di rumah. Maka sebagian dari sahabat tersebut berkata: "Aku tidak akan menikahi perempuan". Sebagian yang lain berkata: "Aku TIDAK AKAN MAKAN DAGING". Dan sebagian yang lain berkata: "Aku tidak akan tidur di atas kasur".

Maka (esok harinya) Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian bersabda: "Mengapa ada orang yang mengatakan begini dan begitu? Padahal aku shalat namun aku juga tidur, aku berpuasa namun aku juga berbuka, dan aku menikahi wanita. Maka barang siapa membenci sunnahku, ia bukan termasuk golonganku"”

(HR. Muslim no.1401).

Dalam hadits ini Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam mengingkari orang-orang yang bertekad untuk tidak akan makan daging selama-lamanya. 

Asy-Syaikh Dr. Salim ath-Thawil hafizhahullah menjelaskan:
"Ada sekelompok orang yang mereka mengajak untuk memakan tumbuhan saja dan tidak memakan daging hewan. Mereka klaim ini adalah bentuk toleransi kepada hewan dan kasih sayang kepada hewan. Akidah ini awalnya berasal dari orang Budha atau Hindu. Kemudian diadopsi oleh orang-orang secara umum, dan menyebar juga di tengah kaum Muslimin. 

Terkadang mereka datang dengan membawa klaim bahwa memakan tumbuhan itu lebih sehat dan lebih bermanfaat daripada memakan daging hewan. Kemudian setan menyeretnya selangkah demi selangkah, sehingga akhirnya mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan. Ini adalah dosa besar! Allah jalla wa 'ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu)” (QS. Al-A’raf:33).

Siapa yang mengharamkan daging hewan? Apakah Allah mengharamkannya? Jawabannya: tidak! Bahkan Allah menghalalkannya. 

Maka melanggar batasan Allah dalam mengharamkan apa yang Allah halalkan sama persis seperti menghalalkan apa yang Allah haramkan. Orang-orang sudah paham bahwa tidak boleh menghalalkan apa yang Allah haramkan. Tapi banyak mereka lupa bahwa tidak boleh juga mengharamkan apa yang Allah halalkan. 

Orang-orang itu berkata: "Kami vegan", "Jangan makan daging hewan", mereka membuka restoran vegan, ini semua adalah akidah yang batil. Mengharamkan nikmat yang telah Allah halalkan.

Allah halalkan al-an'am (binatang ternak) bahkan ada surat Al-An'am. Allah ta'ala juga berfirman:

عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

"... terhadap rezeki yang kami berikan kepada kalian berupa binatang ternak. Maka makanlah hewan ternak tersebut dan berikanlah kepada orang-orang membutuhkan dan miskin" (QS. Al Hajj: 28).

Ada syariat udhiyah (kurban), ada syariat hadyu dalam haji, ada akikah untuk anak laki-laki 2 ekor kambing dan anak perempuan 1 ekor kambing, Allah ta’ala juga berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

"Maka shalatlah untuk Rabb-mu dan menyembelihlah untuk Rabb-mu" (QS. Al-Kautsar: 2).

Maka bagaimana mungkin anda mengharamkan daging hewan?

Jika anda tidak suka suatu daging, silakan makan makanan yang lain. Anda bisa makan daging ayam, daging ikan atau lainnya. Adapun mengatakan ini semua haram, lalu mengklaim diri sebagai vegan, maka ini adalah dosa yang besar. 

Bahkan terkadang bisa mencapai derajat kesyirikan. Mengapa? Karena hak untuk mengharamkan dan menghalalkan adalah hak Allah. Allah berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَٰٓؤُا۟ شَرَعُوا۟ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ

"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?" (QS. Asy Syura: 21).

Termasuk syirik terhadap Allah ketika anda menjadikan diri anda sebagai hakim atas hukum-hukum Allah. Dengan anda menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan" (Transkrip ceramah beliau di link berikut: https://s.id/GOVtk ).

Wallahu a'lam.

Fawaid Kangaswad | Support Ma'had Online: trakteer.com/kangaswad

Dalam Beragama, Salafy Mengikuti Metode Pemahaman Siapa?

Dalam Beragama, Salafy Mengikuti Metode Pemahaman Siapa?

Syaikh Ahmad an-Najmi rahimahullah berkata:

أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ ﷺ هُمْ أَسَاسُ الْمَنْهَجِ السَّلَفِيِّ الَّذِي يَسِيرُ عَلَيْهِ أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ

“Para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dasar utama (dalam memahami dan menjalankan) manhaj salaf. Di atas pemahaman merekalah Ahlussunnah wal Jamaah meniti jalan agamanya.”

(Syaikh Ahmad an-Najmi rahimahullah dalam Irsyad as-Sari, hal 38)
ustadz muadz mukhadasin

Minggu, 04 Januari 2026

Seorang itu semakin mendalami Tauhid, semakin banyak istighfarnya. Dan Tauhid itu Bahrun laa saahila lahu (lautan tak bertepi)".

Nasehat wejangan yang begitu luar biasa dari Ustadz Khidir bin Muhammad Sanusi saat berkesempatan emas bertatap muka dengan beliau dan duduk bareng:

"Seorang itu semakin mendalami Tauhid, semakin banyak istighfarnya. Dan Tauhid itu Bahrun laa saahila lahu (lautan tak bertepi)".

Dalem banget nilai ucapan beliau, sampai pada ungkapan beliau:

"Seorang itu semakin menyelami kitab tauhid, justru semakin ingin mengulangi mempelajari lagi dan menemukan perihal faedah baru".

Baru kali ini bener bener mengena di hati akan dalamnya pelajaran Tauhid.

Langsa - Aceh

Disebutkan dalam Syarh Riyadhussholihin Ibnu Utsaimin Rahimahullah bahwa ada : 4 tingkatan sikap seorang menghadapi musibah/ujian:

Disebutkan dalam Syarh Riyadhussholihin Ibnu Utsaimin Rahimahullah bahwa ada : 
4 tingkatan sikap seorang menghadapi musibah/ujian:

1. Marah/Murka
2. Sabar
3. Ridho
4. Bersyukur

Jadi teringat kajian yang pernah dibawakan oleh Ustadz Abdullah Zaen, MA Hafidzahullah Ta’ala, konon diceritakan ada seorang raja dan penasehat pribadinya. 

Pensehat pribadi ini seorang yang bijak dan mempunyai ciri khas dalam nasihatnya, yaitu selalu menyampaikan rasa syukur atas kejadian yang dialami. Karena takdir dari Allah bagi orang yang beriman itu pasti berbuah kebaikan.

Suatu ketika sang raja ini kecelakaan sehingga harus kehilangan beberapa jarinya (putus), maka sang raja minta nasihat kepada penasehatnya; “Bersyukurlah, karena itu akan membawa kebaikan.” Ucap sang penasehat.

Sang rajapun marah, dalam kondisi kesakitan dan kehilangan jari masak iya disuruh bersyukur. Menurutnya ini adalah hal konyol.

Akhirnya karena sang raja marah, penasehatnya pun dipenjara. Akhirnya diganti dengan penasehat yang lain.

Ketika situasi sudah membaik, sang raja yang sejak lama punya hobi berburu mengajak penasehat yang baru dan beberapa temannya untuk berburu di hutan.

Ternyata ia terlalu dalam masuk ke hutannya. Di dalam hutan tersebut ada manusia primitif yang suka menumbalkan manusia, sang rajapun ditangkap dan beberapa yang ikut serta. Merekapun disandra terlebih dahulu.

Syarat untuk bisa menjadi tumbal adalah sempurna, tidak boleh cacat. Karena sang raja cacat (jari-jarinya putus) maka ia pun selamat, sedangkan yang lain tidak selamat.

Dan ia teringat nasihat dari penasehatnya, bahwa aku harus bersyukur karena jari-ku putus. Ternyata memang benar itu bisa menyelamatkanku dari maut.

Akhirnya sang raja menemui penasehatnya itu seraya berterima kasih, akhirnya penasehatnya bebas dari penjara.

Sang rajapun bertanya penasaran, “Kamu kan kemaren saya penjara lalu kamu bersyukur atas itu, memang apa hikmahnya?” 

Sang penasehat raja mengatakan, “Kalau aku tidak dipenjara maka aku akan ikut kamu ke hutan dan aku akan mati jadi tumbal manusia primitif. Alhamdulillah karena saya dipenjara jadi saya tidak ikut dan saya selamat”.

Oh ya juga ya. 

Rasulullah salallahu alaihissalam bersabda :

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا 

“Semua urusan orang yang beriman itu mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya." HR Muslim

Abu Yusuf Akhmad Ja’far

Kasus muamalah di sebuah kota di jawa:

Kasus muamalah di sebuah kota di jawa: 
Seorang investor bekerja sama dengan kontraktor untuk mengerjakan proyek renovasi kantor walikota. Saat proyek dijalankan, Waktu kerja para tukang dan tenaga sangat dibatasi: hanya bisa dikerjakan malam, kalua ada rapat, kerja harus dihentikan. 
Anehnya: kondisi semacam ini baru diberitahu pihak kantor wali kota setelah pemenangan proyek ditanda tangani. Sehingga kontraktor baru tahu kondisi pembatasan jam kerja itu. 
Akibatnya biaya tenaga membengkak dan kotraktor mengalami kerugian cukup serius. 

Menurut anda, siapa yang harus menanggung resiko kerugian itu?
a. Pihak kantor walikota
b. Investor
c. Kontraktor
d. Ditanggung Bersama

Bagaimana jika pihak kantor walikota tidak mau bertanggung jawab sama sekali? 
Apakah investor juga bertanggung jawab? 
a. Tidak ikut tanggung jawab, sehingga modal harus dikembalikan utuh
b. Ikut bertanggung jawab

Catatan: 
Jika dapat proyek dari pemerintah, pelajari dengan detail..

Safana binti Hatim Ath-Tha'i

في تاريخ العرب قلما تجد اسماً يرتبط بالكرم والجود كما ارتبط اسم "حاتم الطائي" الرجل الذي صار مضرب الأمثال حتى قيل "أجود من حاتم". لكن هذا البيت الكريم لم ينجب الرجال فقط بل أنجب امرأة ورثت عن أبيها شمائله وفصاحة لسانه وعزة نفسه لتصبح صحابية جليلة لها في السيرة النبوية موقف خالد. إنها سفانة بنت حاتم الطائي.

🔍 النشأة في "بيت الكرم"

نشأت سفانة في مضارب قبيلة طيء، في بيت كان محط رحال الضيوف وملجأ المحتاجين. تشربت منذ صغرها قيم المروءة وإغاثة الملهوف من أبيها حاتم الذي كان يذبح إبله لقرى الضيف ويبيت طاوياً.

ورثت سفانة هذه الخصال فكانت من أجود نساء العرب في عصرها حتى روي أن أخاها الصحابي عدي بن حاتم كان يخشى عليها من شدة إسرافها في العطاء فكان يقاسمها المال ويعطيها القليل خوفاً من أن تنفقه كله في سبيل الله فتقول له: "يا أخي إنما ورثنا هذه الخلال عن آبائنا" فيدعها وشأنها.

⚔️ المحنة: الأسيرة الكريمة بين يدي الرسول ﷺ

بعد ظهور الإسلام تأخر إسلام قبيلة طيء وفي إحدى السرايا التي أرسلها النبي ﷺ في العام التاسع للهجرة (وقيل العاشر) بقيادة علي بن أبي طالب رضي الله عنه انتصر المسلمون وهرب عدي بن حاتم (رئيس القبيلة آنذاك) إلى الشام بينما وقعت أخته سفانة في الأسر مع عدد من نساء قومها وسيقوا إلى المدينة المنورة.

وهنا في هذا الموقف العصيب تجلت شخصية سفانة الفذة وفصاحتها المذهلة.

✨ الموقف الخالد: "خلّوا عنها، فإن أباها كان يحب مكارم الأخلاق"

عندما رآها النبي ﷺ قامت إليه في ثقة واعتزاز لم تذلها الأسر، وقالت بلسان فصيح وبلاغة مؤثرة:


يا رسول الله هلك الوالد (تقصد حاتماً) وغاب الوافد (تقصد أخاها عدياً) فامنن عليَّ منَّ الله عليك. أنا ابنة سيد قومه كان يفك العاني (الأسير) ويحمي الذمار ويقري الضيف ويشبع الجائع ويفرج عن المكروب ويطعم الطعام ويفشي السلام ولم يرد طالب حاجة قط. أنا ابنة حاتم الطائي".


لقد عرضت سفانة سيرة أبيها الأخلاقية العطرة كشفيع لها عند نبي الرحمة. لم تذكر مالاً ولا جاهاً، بل ذكرت "مكارم الأخلاق".

فكان رد النبي ﷺ درساً في الوفاء وتقدير الفضيلة أينما وجدت فقال لها: هذه صفة المؤمنين خلوا عنها فإن أباها كان يحب مكارم الأخلاق والله يحب مكارم الأخلاق".


(وفي رواية أخرى أنه قال: "ارحموا عزيز قوم ذل، وغني قوم افتقر وعالماً ضاع بين جهال").

لم يكتفِ النبي ﷺ بإطلاق سراحها إكراماً لسيرة أبيها بل كساها أحسن الثياب وأعطاها نفقة وحملها على دابة وأرسلها معززة مكرمة إلى مأمنها في الشام حيث أخوها.

🌉 إسلامها ودورها في إسلام أخيها عدي

كان هذا الموقف النبوي الكريم سبباً مباشراً في إسلام سفانة فقد رأت بأم عينها أن هذا الدين جاء ليتمم مكارم الأخلاق التي عاش عليها أبوها.

لم يتوقف دورها هنا بل كانت السبب الرئيسي في إسلام أخيها عدي بن حاتم. فعندما وصلت إليه في الشام سألها عن رأيها في النبي ﷺ فقالت له بحكمة بالغة:


أرى أن تلحق به سريعاً فإن يكن الرجل نبياً فللسابق إليه فضل وإن يكن ملكاً فلن تذل في عز اليمن وأنت أنت"


فسمع عدي نصيحتها وقدم على النبي ﷺ وأسلم وحسن إسلامه ليصبح من كبار الصحابة وكل ذلك بفضل حكمة سفانة وموقف النبي الكريم معها.

📚 و قد ذكرت حكايتها في أمهات كتب السيرة والتاريخ، ومن أبرزها:

• "سيرة ابن هشام": التي أوردت تفاصيل قصتها وحوارها مع النبي ﷺ.

• "الإصابة في تمييز الصحابة" لابن حجر العسقلاني.

• "أسد الغابة في معرفة الصحابة" لابن الأثير.

• "البداية والنهاية" لابن كثير.


📌 وقفة للتأمل والارتقاء..

قصة سفانة بنت حاتم الطائي ليست مجرد سرد تاريخي لواقعة أسر بل هي مدرسة في "دبلوماسية الأخلاق" وعظمة التقدير النبوي للقيم الإنسانية. حين قال النبي ﷺ: "ارحموا عزيز قوم ذل" ثم أمر بإطلاق سراحها لأن أباها "كان يحب مكارم الأخلاق" وضع لنا دستوراً في كيفية التعامل مع ذوي الفضل والمروءة حتى وإن اختلفنا معهم في المعتقد.

لقد كانت سفانة "سفيرة" لأخلاق أهلها واستطاعت بفصاحتها وحكمتها أن تنقذ نفسها وقومها بل وتكون سبباً في هداية أخيها عدي بن حاتم.

💬 شاركونا في التعليقات:

1. ما أكثر ما استوقفك في خطاب سفانة بين يدي النبي ﷺ؟ هل هو ثباتها في محنتها أم اعتزازها بقيم أبيها؟

2. برأيكم كيف يمكننا اليوم أن نطبق هذا المبدأ النبوي في "تقدير المعروف وأهل الفضل" في حياتنا اليومية، حتى مع من نختلف معهم؟

3. هل كنت تعلم أن "بنت أجود العرب" هي التي كانت السبب خلف إسلام أخيها عدي، أحد كبار قادة الفتوحات لاحقاً؟

#الستات_حكايات

#زينب_الباز

#تاريخ

#مصر 

#اليمن

Diunggah oleh ustadz arif fathul ulum 

Dalam sejarah Arab, jarang sekali kita menemukan nama yang begitu erat kaitannya dengan kemurahan hati dan kedermawanan seperti nama "Hatim Ath-Tha'i". Pria yang menjadi simbol kemuliaan hingga muncul pepatah "Lebih dermawan daripada Hatim". Namun, rumah tangga yang mulia ini tidak hanya melahirkan pria-pria hebat, tetapi juga seorang wanita yang mewarisi sifat mulia, kefasihan lidah, dan harga diri ayahnya, hingga ia menjadi seorang sahabiyah yang agung dengan kedudukan abadi dalam Sirah Nabawiyah. Dialah Safana binti Hatim Ath-Tha'i.

🔍 Tumbuh di "Rumah Kedermawanan"

Safana tumbuh di lingkungan suku Thayyi, di sebuah rumah yang menjadi tempat persinggahan para tamu dan pelindung bagi mereka yang membutuhkan. Sejak kecil, ia menyerap nilai-nilai kesatriaan dan pertolongan bagi orang yang kesusahan dari ayahnya, Hatim, yang rela menyembelih untanya demi menjamu tamu meskipun dirinya sendiri kelaparan.

Safana mewarisi sifat-sifat ini hingga ia menjadi salah satu wanita Arab paling dermawan pada zamannya. Diriwayatkan bahwa saudaranya, sahabat Adi bin Hatim, merasa khawatir akan kedermawanannya yang luar biasa dalam memberi. Adi sering membagi harta dan memberinya sedikit saja karena takut Safana akan menafkahkan semuanya di jalan Allah. Namun Safana menjawab: "Wahai saudaraku, sesungguhnya kita mewarisi sifat-sifat ini dari nenek moyang kita," hingga Adi pun membiarkannya.

⚔️ Ujian: Tawanan yang Mulia di Hadapan Rasulullah ﷺ

Setelah kemunculan Islam, suku Thayyi terlambat memeluk Islam. Dalam sebuah ekspedisi militer yang dikirim Nabi ﷺ pada tahun ke-9 Hijriah (ada yang menyebut tahun ke-10) di bawah komando Ali bin Abi Thalib ra., kaum Muslimin menang. Adi bin Hatim (pemimpin suku saat itu) melarikan diri ke Syam, sementara saudara perempuannya, Safana, jatuh ke dalam penawanan bersama sejumlah wanita kaumnya dan dibawa ke Madinah.

Di saat yang sulit inilah, kepribadian Safana yang luar biasa dan kefasihan bicaranya yang memukau terlihat nyata.

✨ Momen Abadi: "Bebaskan dia, karena ayahnya mencintai akhlak mulia"

Ketika melihat Nabi ﷺ, Safana berdiri dengan penuh percaya diri dan martabat, tanpa merasa rendah karena status tawanannya. Ia berkata dengan lisan yang fasih dan retorika yang menyentuh hati:

"Wahai Rasulullah, ayahku telah tiada, dan pelindungku (saudaraku) menghilang. Maka berilah aku kemurahan hati, niscaya Allah akan memberimu kemurahan hati. Aku adalah putri dari pemimpin kaumnya; ia biasa membebaskan tawanan, melindungi kehormatan, menjamu tamu, mengenyangkan yang lapar, meringankan beban orang yang kesulitan, memberi makan, menyebarkan salam, dan tidak pernah menolak orang yang memiliki hajat. Aku adalah putri Hatim Ath-Tha'i."

Safana menyajikan sejarah akhlak ayahnya yang harum sebagai pembela di hadapan Nabi yang penuh rahmat. Ia tidak menyebutkan harta atau kedudukan, melainkan menyebutkan "akhlak mulia".

Maka Nabi ﷺ menjawab dengan sebuah pelajaran tentang kesetiaan dan penghargaan terhadap kebajikan di mana pun berada: "Ini adalah sifat orang-orang beriman. Lepaskan dia, karena ayahnya mencintai akhlak mulia, dan Allah mencintai akhlak mulia."

(Dalam riwayat lain, Nabi bersabda: "Kasihanilah orang mulia yang terhina, orang kaya yang jatuh miskin, dan orang berilmu yang tersia-sia di antara orang bodoh.")

Nabi ﷺ tidak hanya membebaskannya demi menghormati sejarah ayahnya, tetapi juga memberinya pakaian terbaik, nafkah, tunggangan, dan mengirimnya pulang dengan penuh kehormatan ke tempat aman di Syam, tempat saudaranya berada.

🌉 Keislamannya dan Perannya dalam Islamnya Adi bin Hatim

Sikap mulia Nabi ini menjadi alasan langsung Safana memeluk Islam. Ia melihat dengan matanya sendiri bahwa agama ini datang untuk menyempurnakan akhlak mulia yang dijalani oleh ayahnya.

Perannya tidak berhenti di situ; ia adalah sebab utama saudaranya, Adi bin Hatim, memeluk Islam. Ketika ia sampai di Syam, Adi bertanya tentang pendapatnya mengenai Nabi ﷺ. Safana menjawab dengan bijaksana:

"Menurutku, segeralah bergabung dengannya. Jika ia seorang Nabi, maka orang yang mendahuluinya akan memiliki keutamaan. Dan jika ia seorang raja, engkau tidak akan terhina di dalam kemuliaan Yaman, dan engkau tetaplah engkau (pemimpin)."

Adi mendengarkan nasihatnya, mendatangi Nabi ﷺ, memeluk Islam, dan menjadi salah satu sahabat besar. Semua itu berkat hikmah Safana dan sikap mulia Nabi terhadapnya.

📚 Referensi Kisahnya

Kisah Safana disebutkan dalam kitab-kitab utama Sirah dan Sejarah, di antaranya:

  • Sirah Ibnu Hisyam: Menguraikan detail kisahnya dan dialognya dengan Nabi ﷺ.

  • Al-Ishabah fi Tamyiz al-Sahabah karya Ibnu Hajar Al-Asqalani.

  • Usud al-Ghabah fi Ma'rifat al-Sahabah karya Ibnu al-Athir.

  • Al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir.

📌 Renungan untuk Kita..

Kisah Safana binti Hatim Ath-Tha'i bukan sekadar narasi sejarah tentang penawanan, melainkan sekolah dalam "diplomasi akhlak" dan keagungan penghargaan Nabi terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Pernyataan Nabi ﷺ: "Kasihanilah orang mulia yang terhina" dan perintah membebaskannya karena ayahnya "mencintai akhlak mulia" menetapkan pedoman tentang bagaimana berinteraksi dengan orang-orang yang berjasa dan bermartabat, meskipun kita berbeda keyakinan dengan mereka.

Safana adalah "duta besar" bagi akhlak keluarganya. Dengan kefasihan dan hikmahnya, ia berhasil menyelamatkan dirinya, kaumnya, dan menjadi sebab hidayah bagi saudaranya, Adi bin Hatim, salah satu pemimpin besar dalam penaklukan Islam di kemudian hari.

💬 Mari Berdiskusi di Kolom Komentar:

  1. Apa yang paling menarik perhatian Anda dalam pidato Safana di hadapan Nabi ﷺ? Apakah keteguhannya saat diuji atau kebanggaannya terhadap nilai-nilai ayahnya?

  2. Menurut Anda, bagaimana kita bisa menerapkan prinsip Nabawi dalam "menghargai jasa dan orang-orang baik" dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dengan mereka yang berbeda pendapat dengan kita?

  3. Apakah Anda baru mengetahui bahwa "putri orang paling dermawan se-Arab" inilah yang menjadi sosok di balik masuk Islamnya Adi bin Hatim, salah satu komandan penaklukan besar nantinya?

#KisahWanita #ZainabAlBaz #Sejarah #Mesir #Yaman

amnesti dengan syarat menghafal Al-Qur’an” menunjukkan bahwa angka pengulangan tindak kejahatan (residivisme) adalah 0%!

Sebuah penelitian di Kerajaan Arab Saudi terhadap sekelompok narapidana yang mendapatkan manfaat dari sistem “amnesti dengan syarat menghafal Al-Qur’an” menunjukkan bahwa angka pengulangan tindak kejahatan (residivisme) adalah 0%!

Al-Qur’an bukan sekadar ayat-ayat yang kita baca untuk beribadah kepada Allah, tetapi ia adalah program pembinaan dan perbaikan yang nyata, serta sistem kehidupan yang utuh dan sempurna.

 #بالقرآن نحيا
ustadz didik hariyanto 

Adab yang sering dilupakan oleh santri

Adab yang sering dilupakan oleh santri...

Belajar kepada seorang guru haruslah penuh dengan penghormatan dan pemuliaan agar berhasil memperoleh ilmu yang bermanfaat dan penuh keberkahan.

Diantara bentuk penghormatan dan pemuliaan tersebut adalah mendaokan kebaikan untuk ustadznya,serta berkhidmad dan membantu keperluannya.

Dan juga bentuk penghormatan dan pemuliaan itu adalah menjadikan guru itu sebagai seorang yang lebih diutamakan daripada yang lain.

Kata Imam Al Ghazali -rahimahullah-:
فإذا فعل ذلك ضيع ما حصله منه
"Jika si murid mengerjakan demikian (tidak berkhid,malah enggan membantunya,serta justru mengutamakan orang lain daripada gurunya) maka dia telah menyia-nyiakan ilmu yang telah dia peroleh."
(Minhajul Muta'allim,hal. 100, Maktabah At Taqwa)

Saat mereka menyelesaikan pendidikan di pesantren bahkan lupa dengan guru-guru yang pernah mengajarinya. Saat bertemu di jalan, bukannya nyamperin,mengucapkan salam, tapi malah tancap gas, seakan gak ada orang perlu dia hiraukan.

Ya....
Kacang lupa kulitnya...

Waffaqanallah
ustadz ahmad muzaqi

Gak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri

Gak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri.
Seseorang yang berada dalam keburukan selama puluhan tahun, kemudian dia perbaiki diri dengan sungguh-sungguh, qodarullah baru beberapa waktu datang kematian. Maka yang Allah anggap itu ketika dia sedang perbaiki diri. Diapun akan wafat dalam keadaan Husnul khatimah.

Namun perlu kita tahu, perbaikan diri yang benar (dalam Islam disebut taubat nasuha), ada beberapa syarat:
1. Dilakukan dengan ikhlas karena Allah.
2. Menyesal dengan keburukan yang dilakukan.
3. Melepaskan keburukan tersebut dengan total.
4. Bertekad untuk tidak mengulanginya di masa mendatang.

Semoga Allah mudahkan kita untuk taubat & istighfar.
ustadz amrullah akhadinta

Intisari Pemikiran Ibnu Taimiyyah tentang Akar Kesyirikan

Intisari Pemikiran Ibnu Taimiyyah tentang Akar Kesyirikan

Ibnu Taimiyyah menegaskan satu kaidah penting bahwa meminta syafaat kepada orang yang sudah mati termasuk salah satu akar kesyirikan yang telah diperingatkan oleh para Rasul.

Inilah pangkal kesyirikan yang menimpa anak cucu Adam; setiap kali mereka memohon syafaat kepada orang mati, maka mereka telah terjatuh ke dalam kesyirikan.
Beliau mencontohkan hal ini dengan perbuatan kaum Nasrani yang memohon ampunan dan rahmat kepada Maryam, dengan keyakinan bahwa ia akan memberikan syafaat kepada putranya (‘Isa عليه السلام).

Praktik ini pada hakikatnya merupakan bentuk penuhanan terhadap Maryam, sebagaimana ungkapan mereka:
“Wahai Ibunda Tuhan, berilah kami syafaat di hadapan Tuhan.”

Dari sebab inilah dan yang semisalnya, kesyirikan muncul, baik pada masa terdahulu maupun masa kini; dan dengan pola inilah kaum Nasrani serta kelompok-kelompok yang menyerupai mereka terjerumus ke dalam praktik kesyirikan.

📝 Al-Jawāb ash-Shaḥīḥ liman Baddala Dīn al-Masīḥ (1/343–344, 2/617, 722, 766–767)
https://www.facebook.com/share/1H3TaQJgXN/
Sumber rujukan:
https://www.facebook.com/share/p/1FQs5PvkGQ/

Tidak Ada Amalan Membadalkan Atau Mengqadha Shalat Orang Lain

Tidak Ada Amalan Membadalkan Atau Mengqadha Shalat Orang Lain 

Ibnu Abdil Barr rahimahullah menjelaskan:

أمَّا الصَّلاة، فإجماعٌ من العلماء أنَّه لا يُصلِّي أحدٌ عن أحد فرضًا عليه من الصَّلاةِ، ولا سُنَّةً، ولا تطوُّعًا، لا عن حيٍّ ولا عن ميِّت، وكذلك الصيامُ عن الحيِّ لا يُجزِئُ صَومُ أحدٍ في حياتِه عن أحدٍ، وهذا كلُّه إجماعٌ لا خلاف فيها

“Adapun shalat, maka ulama telah sepakat bahwa shalat seseorang tidak bisa digantikan oleh orang lain, baik shalat fardhu, ataupun shalat sunnah, atau shalat tathawwu, baik orang lain tersebut masih hidup ataupun sudah mati. 

Demikian juga menggantikan puasa orang lain yang masih hidup tidak sah hukumnya.

Semua ini adalah ijma ulama tidak ada khilaf di dalamnya”
(Al-Istidzkar, 3/340).

Fawaid Kangaswad | Support Ma’had Fawaid : trakteer.com/kangaswad

Qadhi Abu Yusuf dan abu hanifah

Qadhi Abu Yusuf berkata, "Ketika aku berjalan dengan Abu Hanifah, aku mendengar seorang laki-laki berkata kepada temannya: "Ini adalah Abu Hanifah yang tidak pernah tidur di malam hari." Abu Hanifah kemudian berkata, "Demi Allah, jangan pernah engkau mengatakan sesuatu tentang diriku yang tidak pernah aku lakukan." Padahal Abu Hanifah memang selalu menghidupkan malam dengan shalat, merendahkan diri di hadapan Allah dan berdoa. Bahkan diriwayatkan dari Asad bin Amr, Abu Hanifah mengerjakan shalat Isya dan Shubuh dengan satu wudhu selama 40 tahun (!)

(Nuzhatul Fudhala Tahdzib Siyar A'lam Nubala, hal. 437).

-------------------

Demikianlah salah satu kisah ketawadhu'an Imam Abu Hanifah. Tak heran beliau menjadi salah satu imam madzhab yang masih banyak pengikutnya sampai sekarang, karena tidaklah seseorang merendahkan diri kepada Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya. Adapun kita, jika dipuji semisal Abu Hanifah tadi mungkin kita akan tertawa bangga sambil menyambungnya dengan menceritakan sederet kegiatan yang pernah dilakukan dalam rangka memperjuangkan agama. Pantasan level kita begini-gini saja dari dulu. Siapa yang senang memuji diri sendiri baik terang-terangan maupun tersirat, perkataannya tidak akan membekas di hati manusia.
Ustadz al mizzi

dzikir masuk pasar

Hadits ini dikeluarkan oleh Ath Thabrani dalam kitab Ad Du'a: Haddatsana Ubaid bin Ghanim dan Al Hadhrami haddatsana Abu Bakr bin Abi Syaibah haddatsana Abu Khalid Al Ahmar dari Al Muhajir (yang benar Al Muhashir) bin Habib mendengar dari Salim mendengar dari ibnu Umar mendengar dari Umar bin Khathab mendengar dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi Wasallam..
Ini adalah sanad yang hasan. 

Mereka yang mendhoifkan hadits alasannya tiga: 
Pertama: Al Muhashir bin Habib dhoif.
Jawab: ia dianggap tsiqoh oleh ibnu Hibban, Al Ijli dan Al Haitsami. Abi Hatim berkata : La basa bihi. Ini adalah ungkapan hasan menurut Abu Hatim. 

Kedua: Adanya riwayat lain yaitu riwayat Abdullah bin Ahmad yang meriwayatkan hadits ini tanpa menyebutkan Salim dan Umar.
Jawab: Abdullah bin Ahmad diselisihi dua perawi yang tsiqoh yaitu Ubaid bin Ghanim dan Al Hadhrami. Tentunya periwayatan dua perawi tsiqoh lebih dikedepankan dari pada periwayatan satu orang. 

Ketiga: Abu Khalid Al Ahmar dhoif hafalannya. Ibnu Hajar berkata: Shoduq yukhti.
Jawab: Ia dianggap tsiqoh oleh mayoritas Ahli hadits. Bahkan Al Bukhari dan Muslim berhujjah dengan periwayatannya dalam shahihnya. Oleh karena itu imam Adz Dzahabi berkata dalam kitab Al Kasyif: Shoduq imam. 

Dan hadits ini memiliki jalan jalan lain yang menguatkannya walaupun tak lepas dari kelemahan namun dapat menjadikannya shahih lighairihi.

(Diringkas dari kitab silsilah hadits shahih Syaikh Al Bani no 7/381-390. Silakan dibaca secara lengkap bantahan beliau terhadap pendapat yang mendhoifkannya secara panjang lebar di buku tsb)
ustadz abu yahya badrusalam 

menegakkan hujjah atasnya, sampai hakekat menjadi terang baginya, dan syubhat yang menjadi penyebab penyimpangannya dari Al-Haq hilang darinya..."

As-Syaikh Al-Albâniy rahimahullâh berkata:

"Tidak setiap orang yang terjatuh ke dalam kekufuran, maka jatuh kekafiran atasnya, tetapi jika kita ingin mengatakan bahwasanya ia kâfir, murtad keluar dari Islâm, maka haruslah menegakkan hujjah atasnya, sampai hakekat menjadi terang baginya, dan syubhat yang menjadi penyebab penyimpangannya dari Al-Haq hilang darinya..."
ustadz dihyah 

Sabtu, 03 Januari 2026

101 referensi yang ditulis oleh Ustadz Dony Arif Wibowo terkait ulama yang berpendapat adanya Udzur bil jahl

Hanya sekedar share 101 referensi yang ditulis oleh Ustadz Dony Arif Wibowo terkait ulama yang berpendapat adanya Udzur bil jahl. Beliau berpendapat masalah ini dari dulu memang ada khilaf. 

1. Asy-Syaikh 'Abdurrahmaan bin Naashir As-Sa'diy rahimahullah

 Buku kumpulan fatwa beliau berjudul : Al-Fataawaa As-Sa'diyyah, hal. 579-580.

2. Asy-Syaikh ‘Abdurrahmaan bin Yahyaa Al-Mu'allimiy Al-Yamaaniy rahimahullah.

 Buku beliau berjudul : Raf'ul-Isytibaah [3/826, 924-925].

3. Asy-Syaikh Haafidh bin Ahmad Al-Hakamiy rahimahullah.

 Buku beliau berjudul Ma’aarijul-Qabuul [3/1228-1229].

4. Asy-Syaikh Muhammad Naashiruddin Al-Albaaniy rahimahullah.

a. Silsilatul-Hudaa wan-Nuur, kaset nomor 861 – dikutip dari buku Mausuu’ah Al-‘Allamah Al-Imaam Al-Mujaddid Al-‘Ashr Muhammad Naashiruddiin Al-Albaaniy oleh Dr. Syaadiy bin Muhammad Aalu Nu’maan [hal 735-737, pertanyaan no. 722]
b. Muhadlarah beliau : https://youtu.be/BjfpEm1T9L8 

5. Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-'Utsaimiin rahimahullah.

a. Buku Syarh Kasyfisy-Syubuhaat [hal. 46-62].
b. Buku Asy-Syarhul-Mumtii’ [6/192-194].
c. Buku Al-Qaulul-Mufiid ‘alaa Kitaabit-Tauhiid [1/52].
d. Buku Tafsiir Al-Qur’aan Al-Kariim Surah Al-An’aam [hal. 39], dll.

6. Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadii'iy rahimahullah.

a. Buku Ghaaratul-Asyrithah [2/447-448]
b. Fatwa beliau dalam situs muqbel.net berjudul (قضية العذر بالجهل) - https://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=3403 
c. Fatwa beliau dalam situs muqbel.net berjudul (العذر بالجهل) - https://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=2338
d. Fatwa beliau dalam situs muqbel.net berjudul (من أدلة العذر بالجهل) - https://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=4311 
e. Fatwa beliau dalam situs muqbel.net berjudul (جماعة التكفير يستدلون على أن الحجة قامت على الناس ؟) - https://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=4501 

7. Asy-Syaikh Dr. Muhammad Amaan Al-Jaamiy rahimahullah.

 Muhadlarah beliau : https://www.youtube.com/watch?v=N_EL5CShgJ0

8. Asy-Syaikh 'Abdurazzaaq 'Afiifiy rahimahullah.

 Buku kumpulan fatwa beliau berjudul : Fataawaa wa Rasaail Samaahatisy-Syaikh ‘Abdirrazzaaq ‘Afiifiy [hal. 371].

9. Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Jaarillah bin Ibraahiim Aali Jaarullah rahimahullah.

 Buku beliau berjudul : Ithaaful-Khalq bi-Ma'rifatil-Khaaliq [hal. 57-58 – dengan menukil fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Ibraahiim Aalusy-Syaikh rahimahullah].

10. Asy-Syaikh Abu Bakr Jaabir Al-Jazaairiy rahimahullah (kibar ulama Saudi Arabia)

 Buku beliau berjudul Rasaailul-Jazaairiy (4/350-356, 363-366].

11. Asy-Syaikh Ahmad bin Hajar Aalu Buuthaamiy rahimahullah (ulama salafi dan mufti negeri Qathar di zamannya).

 Buku beliau berjudul : Al-‘Aqaaidus-Salafiyyah bi-Adillatihan-Naqliyyah wal-‘Aqliyyah [1/57-58].

12. Asy-Syaikh Sa’d bin ‘Abdirrahmaan Al-Hushayyin rahimahullah (kibar ulama Ahlis-Sunnah).

 Tulisan beliau di situs islamancient.com berjudul (لا أحد أحب إليه العذر من الله) - https://bit.ly/3bvoREY.

13. Asy-Syaikh Dr. Sa’iid bin ‘Aliy bin Wahf Al-Qahthaaniy rahimahullah (kibar ulama Saudi Arabia).

 Buku beliau berjudul : Qadliyyatut-Takfiir Baina Ahlis-Sunnah wa Firaqidl-Dlalaal (versi word – Pasal keempat, Mawaani’ut-Takfiir : Al-Jahl).

14. Asy-Syaikh ‘Aashim bin ‘Abdillah Al-Qaryuutiy hafidhahullah (kibar ulama, guru besar hadits Universitas Muhammad bin Su’uud).

 Buku beliau berjudul Wasaailu ‘’Ilaaji Dhaahiratit-Takfiir [hal. 20 – yang diantaranya memuji dan merekomendasikan buku At-Takfiir wa Dlawaabithuhu karya Asy-Syaikh Dr. Muhammad bin ‘Umar Bazmuul, At-Takfiir wa Dlawaabithuhu karya Asy-Syaikh Dr. Ibraahiim Ar-Ruhailiy, dan Al-‘Awaashimi minal-Fitan Al-Qawaashim karya Asy-Syaikh Dr. Faayiz bin Husain Ash-Shalaah hafidhahumullah].

15. Asy-Syaikh Abu Uwais Muhammad bin Al-Amiin Buukhubzah rahimahullah (kibar ulama Maroko).

 Dalam percakapan yang terekam di Youtube berjudul (دردشة في مسألة العذر بالجهل بين الشيخين بوخبزة و الحدوشي) - https://youtu.be/DsVz6oxo-to. 

16. Asy-Syaikh Rabii' bin Hadiy Al-Madkhaliy hafidhahullah.

a. Tulisan beliau di situs sahab.net (tidak aktif) dan forum tasfiatarbia.org yang berjudul (أئمة الدعوة يصرحون بالعذر بالجهل واشتراط إقامة الحجة) - https://bit.ly/2QPu1DV 
b. Tulisan beliau dalam buku berjudul : Al-Fataawaa [1/309-312] - https://bit.ly/2QNbYye 
c. Fatwa beliau di situs rabee.net berjudul (ما هو ضابط العذر بالجهل؟) - https://bit.ly/2JnvwFs. 

17. Asy-Syaikh 'Ubaid Al-Jaabiriy hafidhahullah (ulama kibar Saudi Arabia).

a. Fatwa beliau yang terekam di Youtube berjudul (هل هناك عذر بالجهل ؟) - https://bit.ly/2UDdbJv 
b. Fatwa beliau yang terekam di Youtube berjudul (أجوبة العلامة عبيد الجابري أسئلة حول مسألة العذر بالجهل) - https://bit.ly/3bv1knQ
c. Fatwa beliau yang terekam di Youtube berjudul (تفصيل بديع في ضوابط العذر بالجهل) - https://bit.ly/3dxUT5c. 

18. Asy-Syaikh 'Abdul-Kariim Al-Khudlair hafidhahullah

 Fatwa beliau dalam situs shkhudheir.com berjudul [ما حكم العذر بالجهل ؟] :  https://shkhudheir.com/fatawa/1800102298 

19. Asy-Syaikh Muhammad bin Jamiil Zainuu hafidhahullah.

  Buku beliau berjudul : At-Tahdziir min Fitnatil-Kufr wat-Takfiir [hal. 93].

20. Asy-Syaikh 'Aliy bin Hasan Al-Halabiy hafidhahullah (murid Asy-Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah).

a. Daurah beliau yang berjudul (العذر بالجهل في مسائل التكفير) : https://bit.ly/2WIZhIq (1), https://bit.ly/2QI09cH (2), https://bit.ly/2y35dlh (3), dan https://bit.ly/2Uj0Prc (4).
b. Buku beliau berjudul : Shaihatun Nadziirun bi-Khatharit-Takfiir [hal. 50-55].

21. Asy-Syaikh Masyhuur bin Hasan Aalu Salmaan hafidhahullah (murid Asy-Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah).

a. Fatwa beliau dalam situs meshhoor.com berjudul (السؤال الثاني عشر نريد بيانا في مسألة تكفير العذر بالجهل فقد ظهرت بوضوح في) - https://bit.ly/2WKoiDb 
b. Fatwa beliau dalam youtube berjudul (نريد بياناً في تكفير العاذر بالجهل فقد ظهرت بوضوح في هذا الزمان وما هو ضابط العذر بالجهل) - https://bit.ly/2Jgyr2H 

22. Asy-Syaikh Ahmad bin Jazaa’ Ar-Radlaimaan hafidhahullah (guru besar ‘aqidah Universitas Haail, Saudi Arabia)

 Buku Manhaj Al-Imaam Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab fii Mas-alatit-Takfiir (disertasi).

23. Asy-Syaikh Naashir bin 'Abdil-Kariim Al-'Aql hafidhahullah (guru besar ‘aqidah Universitas Islam Muhammad bin Su’uud

 Buku Manhaj Al-Imaam Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab fii Mas-alatit-Takfiir yang ditulis oleh Asy-Syaikh Ahmad bin Jazaa’ Ar-Radlaimaan hafidhahullah – sebagai pembimbing disertasi.

24. Asy-Syaikh 'Abdurrahmaan bin Naashir Al-Barraak hafidhahullah (kibar ulama Saudi Arabia).

a. Buku Al-Jahl bi-Masaailil-I’tiqaad wa Hukmuhu yang ditulis oleh Asy-Syaikh ‘Abdurrazzaaq bin Thaahir Ma’aasy hafidhahullah – sebagai pembimbing tesis.
b. Fatwa beliau dalam situs sh-albarrak.com berjudul (هل الجهلُ بنواقض التَّوحيد دون الوقوع فيها يُعتبرُ كفرًا؟) - https://sh-albarrak.com/article/17150
c. Fatwa beliau dalam situs sh-albarrak.com berjudul (العذرُ بالجهل عند الشَّيخ محمد بن عبد الوهاب) - https://sh-albarrak.com/article/12644 

25. Asy-Syaikh ‘Abdurrazzaaq bin Thaahir Ma’aasy hafidhahullah.

 Buku beliau berjudul : Al-Jahl bi-Masaailil-I’tiqaad wa Hukmuhu (tesis S2).

26. Asy-Syaikh Dr. Ahmad Fariid hafidhahullah (ulama salafi Mesir)

a. Buku beliau berjudul : Al-‘Udzr bil-Jahl war-Radd ‘alaa Bid’atit-Takfiir.
b. Muhadlarah beliau berjudul Al-‘Udzr bil-Jahl (yang mensyarah Buku di atas) - https://bit.ly/2Je8kcF 

27. Asy-Syaikh Wahiid bin ‘Abdis-Salaam Baaliy hafidhahullah (ulama salafi Mesir).

 Jawaban beliau atas pertanyaan yang terekam di Youtube berjudul (سؤال توضيح حكم العذر بالجهل) - https://youtu.be/OvWEJvhWoUw 

28. Asy-Syaikh Dr. Sulaimaan bin Saliimillah Ar-Ruhailiy hafidhahullah.

a. Buku Al-Ifaadatu wal-I’laamu bi-Qawaa’idi Risaalati Nawaaqidlil-Islaam [hal. 51-53]
b. Fatwa beliau yang membahas ‘udzur kejahilan - https://bit.ly/2WN52Vt 

29. Asy-Syaikh Dr. ‘Aliy bin ‘Abdil-‘Aziiz Asy-Syibl hafidhahullah

 Buku beliau berjudul : Atsarut-Takfiir fii ‘Aqiidati wa Mustaqbalil-Islaam [hal. 24-31].

30. Asy-Syaikh Dr. Sa’d bin Turkiy Al-Khatslaan hafidhahullah (eks anggota kibar ulama Saudi Arabia) 

 Dars beliau di situ saadalkhathlan.com berjudul (شرح متن عمدة الفقه : باب حد المحاربين) - http://saadalkhathlan.com/3344.

31. Asy-Syaikh Khaalid bin ‘Aliy bin Muhammad Al-Musyaiqih hafidhahullah

 Buku beliau berjudul : Athaayibuz-Zahri Syarh Nawaaqidlil-Islaam Al-‘Asyri [hal. 124-130].

32. Asy-Syaikh Sulaimaan bin ‘Abdillah bin Naashir Al-Maajid hafidhahullah (ulama Saudi, hakim pengadilan Riyaadl, eks anggota majelis Syura Saudi).

  Fatwa beliau di situs salmajed.com berjudul (العذر بالجهل في أصول الدين) - http://www.salmajed.com/node/16249.

33. Asy-Syaikh Abu ‘Abdillah Fathiy bin ‘Abdillah Al-Maushiliy hafidhahullah (ulama salafi Bahrain).

 Dalam Tulisan beliau yang menerangkan kaidah udzur kejahilan berjudul (الثلاثينية في أصول وقواعد وضوابط في مسألة ( العذر بالجهل)) - https://bit.ly/3aoWrwr atau https://bit.ly/2JipOo3 

34. Asy-Syaikh Dr. Muhamad bin Hisyaam Ath-Thaahiriy hafidhahullah

a. Buku Taqriiraatu Aimmatid-Da’wah fii Mukhaalafati Madzhabil-Khawaariji wa Ibthaalihi – penulis disertasi [hal. 453-499].
b. Atau yang tertulis bahasannya di : https://bit.ly/2WTGuds.

35. Asy-Syaikh Ahmad bin ‘Athiyyah Al-Ghaamidiy rahimahullah [guru besar ilmu ‘aqidah Universitas Islam Madinah]

 Buku Taqriiraatu Aimmatid-Da’wah fii Mukhaalafati Madzhabil-Khawaariji wa Ibthaalihi yang ditulis oleh Asy-Syaikh Dr. Muhamad bin Hisyaam Ath-Thaahiriy – sebagai pembimbing disertasi [hal. 453-499]

36. Asy-Syaikh ‘Abdul-Muhsin bin ‘Abdillah Az-Zaamil hafidhahullah.

a. Fatwa beliau yang terekam di situs islamway.net berjudul (ما توضيحكم لمسألة ”العذر بالجهل”؟) - https://bit.ly/2WMXJNE 
b. Muhadlarah beliau yang terekam di Youtube berjudul (ماالتوضيح لمسألة العذر بالجهل ؟) - https://youtu.be/9EBLWUEPZoY 

37. Asy-Syaikh Ahmad bin Ibraahiim Abul-'Ainain hafidhahullah (murid Asy-Syaikh Muqbil bin Haadiy Al-Waadi’iy rahimahullah). 

 Buku I’laanun-Nakiir ‘alaa Ghulaatit-Takfiir [hal. 70-108] – Buku ini dibaca dan dipuji oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Haadiy Al-Wadii’iy rahimahullah.

38. Asy-Syaikh Mushthafaa bin Al-'Adawiy hafidhahullah (ulama salafi Mesir).

a. Fatwa beliau dalam situs mostafaaladwy.com berjudul (المسائل الظاهرة المعلومة بالدين بالضرورة أى العذر بالجهل هل تختلف من قطر الى قطر أم لا ؟) - http://www.mostafaaladwy.com/play-5421.html 
b. Fatwa beliau dalam rekaman Youtube berjudul (هل هناك عذر بالجهل في الأمور الشركية ؟) - https://youtu.be/oboth6-Ah08 
c. Fatwa beliau dalam rekaman Youtube berjudul (مامعنى العذر بالجهل) - https://youtu.be/SnVSK5s5wec 
d. Penjelasan beliau dalam rekaman Youtube berjudul (هل الشيخ ((محمد بن عبد الوهاب)) يعذر بالجهل..؟) - https://youtu.be/kuKbiyhXTGc (menarik !!)

39. Asy-Syaikh Abul-Hasan Mushthafaa As-Sulaimaaniy Al-Yamaniy hafidhahullah (ulama salafi Yaman).

 Serial rekaman muhadlarah Al-Maslakus-Sahl fit-Tarjiih Al-‘Udzr bil-Jahl [https://bit.ly/2UGegjK - https://bit.ly/3alTH2G] 

40. Asy-Syaikh Abu 'Abdil-'Aziiz Idriis bin Mahmuud Idriis hafidhahullah.

 Buku beliau berjudul : Madhaahiru Inhiraafaatil-'Aqadiyyah 'indash-Shuufiyyah wa Atsaruhas-Sayyi' 'alal-Ummatil-Islaamiyyah [tesis, hal. 771-773].

41. Asy-Syaikh Shaalih bin ‘Abdillah Al-‘Ubuud hafidhahullah (mantan rektor Universitas Islam Madinah)

 Buku Madhaahiru Inhiraafaatil-'Aqadiyyah 'indash-Shuufiyyah wa Atsaruhas-Sayyi' 'alal-Ummatil-Islaamiyyah yang ditulis oleh Asy-Syaikh Abu 'Abdil-'Aziiz Idriis bin Mahmuud Idriis hafidhahullah – sebagai pembimbing tesis [hal. 771-773].

42. Asy-Syaikh Abu Yahyaa Saamih bin Muhammad bin Ahmad Al-Mishriy hafidhahullah (ulama salafi Mesir).

 Buku beliau berjudul Ar-Raddul-Mubiin ‘alaa Man Yukaffiruuna Hukkaamal-Muslimiin [hal. 27- 67].

43. Asy-Syaikh Dr. Muhammad bin Sa'iid Raslaan hafidhahullah (ulama salafi Mesir).

a. Buku beliau berjudul : Dlawaabithu Takfiiril-Mu’ayyan.
b. Muhadlarah beliau berjudul (حكم العذر بالجهل في أصول الدين) - https://bit.ly/2wvV3JP 

44. Asy-Syaikh Dr. Muhammad bin 'Abdil-Wahhaab Al-'Aqiil hafidhahullah (guru besar ‘aqidah Universitas Islam Madinah).

 Transkrip penjelasan beliau dalam situs ajurry.com berjudul (مسألة العذر بالجهل إنما تورد للتفريق بين أهل السنة) - https://bit.ly/2UKcYEG.

45. Asy-Syaikh Dr. ‘Utsmaan bin Jum’ah bin ‘Utsmaan Dlamiiriyyah hafidhahullah (guru besar Universitas Ummul-Qurra’).

 Fatwa beliau berjudul [حكم من يقع في الشركيات عن جهل] - https://bit.ly/2UCGoUT 

46. Asy-Syaikh Saalim bin Muhammad Al-Qarniy hafidhahullah (dosen Universitas Ummul-Qurra’)

 Fatwa beliau berjudul [العذر بالجهل] - https://bit.ly/2UxO8rm 

47. Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-Munajjid hafidhahullah (ulama salafi Saudi, murid Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin rahimahullah).

a. Fatwa beliau dalam situs islamqa.info berjudul (الأدلة الشرعية على أن الجاهل يعذر في مسائل الشرك والكفر) - https://bit.ly/3btKkhx 
b. Fatwa beliau dalam situs islamqa.info berjudul (الجهل الذي يعذر صاحبه هو الجهل بالحكم لا بالعقوبة) - https://bit.ly/2Jhuue7 
c. Fatwa beliau dalam situs islamqa.info berjudul (الاستدلال على عدم العذر بالجهل بقوله تعالى (فريقا هدى وفريقا حق عليه الضلالة)) - https://bit.ly/2UEECTl 
d. dan lain-lain.

48. Asy-Syaikh Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdil-‘Aziiz Al-Jibriin hafidhahullah (guru besar ‘aqidah Universitas Al-Malik Su’uud Riyadl)

 Buku beliau berjudul : Dlawaabithu Takfiiril-Mu’ayyan.

49. Asy-Syaikh Dr. Khaalid bin ‘Abdillah Al-Mushlih hafidhahullah (menantu Asy-Syaikh Ibnul-‘Utsaimiin rahimahullah, pengajar di Universitas Qashiim)

a. Buku beliau Syarh Kasyfisy-Syubuhaat [hal. 28-30].
b. Fatwa beliau dalam situs almosleh.com berjudul (هل يُعْذَر بالجهل في المعلوم من الدين بالضرورة؟) - http://almosleh.com/ar/ar/16440

50. Asy-Syaikh Dr. Ibraahiim bin 'Aamir Ar-Ruhailiy hafidhahullah (guru besar ‘aqidah Universitas Islam Madinah).

a. Buku At-Takfiir wa Dlawaabithuhu [hal. 251- 296]
b. Buku Mauqifu Ahlis-Sunnah wal-Jamaa’ah min Ahlil-Ahwaa’ wal-Bida’ [hal. 185-233].
c. Muhadlarah beliau di Youtube berjudul (العذر بالجهل منهج السلف) - https://bit.ly/3ar7t4g. 

51. Asy-Syaikh Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdirrahiim Al-Bukhaariy hafidhahullah (guru besar hadits Universitas Islam Madinah)

a. Muhadlarah beliau yang terekam di Youtube berjudul (قضية العذر بالجهل) - https://bit.ly/2wFd20h 
b. Muhadlarah beliau yang terekam di Youtube berjudul (تحذير الشيخ عبد الله البخاري من كتاب " ضوابط تكفير المعين" لأبي العلاء راشد) - https://bit.ly/33Qpk23.

52. Asy-Syaikh Abu Ishaaq Al-Huwainiy hafidhahullah (ulama salafi Mesir).

a. Muhadlarah beliau dalam rekaman Youtube berjudul (حكم تكفير المبتدع عابد القبور) - https://youtu.be/pVrMwTYsiCU 
b. Transkrip jawaban beliau dalam situs ajurry.com berjudul (ما نصيحتكم لمن اشتغلوا في قضية العذر بالجهل وامتحانِ أهل السنةِ بها؟) - https://bit.ly/2QKMNwc 
c. Muhadlarah beliau dalam rekaman Youtube berjudul (بدعة عدم العذر بالجهل) - https://youtu.be/rXntVZ8uGGU. 

53. Asy-Syaikh Dr. Ahmad bin 'Abdirrahman An-Naqiib hafidhahullah.

 Muhadlarah beliau dalam rekaman Youtube berjudul (هل من أصول المنهج السلفي العذر بالجهل؟) - https://bit.ly/3dvEgqJ 

54. Asy-Syaikh Dr. ‘Abdul-‘Aziiz bin Rays Ar-Rays hafidhahullah.

a. Buku beliau berjudul : Al-Ilmaam bi-Syarhi Nawaaqidlil-Islaam [hal. 18-95]
b. Tulisan beliau kepada Asy-Syaikh Saalim Ath-Thaawil hafidhahullah berjudul (جوابان في تكفير المعين) dalam situs islamancient.com - https://bit.ly/33OLguq.
c. Muhadlarah beliau di Youtube berjudul (العذر بالجهل الأدلة وأقوال العلماء) - https://bit.ly/2QT0Wrb. 

55. Asy-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdil-Hamiid Al-Atsariy hafidhahullah.

 Buku beliau berjudul : Al-Iimaan, Haqiiqatuhu, Khawaarimuhu, Nawaaqidluhu ‘inda Ahlis-Sunnah wal-Jamaa’ah [hal. 265-266].

56. Asy-Syaikh ‘Abdurrahmaan bin Shaalih Mahmuud hafidhahullah (guru besar ‘aqidah Universitas Muhammad bin Su’uud).

 Muraja’ah, taqdim, dan persetujuan atas buku Al-Iimaan, Haqiiqatuhu, Khawaarimuhu, Nawaaqidluhu ‘inda Ahlis-Sunnah wal-Jamaa’ah tulisan Asy-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdil-Hamiid Al-Atsariy.

57. Asy-Syaikh Dr. Shaalih bin ‘Abdil-‘Aziz As-Sindiy hafidhahullah (guru besar ‘aqidah di Universitas Islam Madinah).

a. Bantahan beliau kepada Syariif Haatim Al-‘Auniy - https://bit.ly/2JjFVSt 
b. Muhadlarah beliau yang terekam di youtube berjudul (من موانع التكفير العذر بالجهل جهلا يعذر به حقيقة الشيخ صالح سندي) - https://youtu.be/H9pO1byj_BY 

58. Asy-Syaikh As-Sayyid bin Sa’diddiin Al-Ghabaasyiy hafidhahullah (ulama salafi Mesir)

 Buku beliau berjudul Sa’atu Rahmati Rabbil-‘Aalamiin (buku sarat faedah, telah dibaca dan diizinkan peredarannya oleh Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah).

[Note : Buku inilah yang menambah rasa hormat dan cinta saya kepada Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah. Meskipun substansi buku ini berbeda dengan pilihan ijtihad beliau, namun beliau tetap mengizinkan peredarannya, karena beliau paham dalam masalah terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama Ahlis-Sunnah. Berbeda halnya dengan sebagian orang setelah beliau, yang ‘dikit-dikit’ berfatwa irjaa’ kepada pihak yang menyelisihi].

59. Asy-Syaikh Dr. Muhammad bin Hasan bin ‘Abdil-Ghaffaar hafidhahullah (ulama salafi Mesir).

a. Muhadlarah beliau yang terekam dalam Youtube berjudul (فصل الخطاب في مسألة العذر بالجهل { 1}) : https://youtu.be/drpBQb0S4GY (bagus)
b. Muhadlarah beliau yang terekam dalam Youtube berjudul (فصل الخطاب في مسألة العذر بالجهل { 2}) : https://youtu.be/IpfJh65JN7Y 
c. Muhadlarah beliau yang terekam dalam Youtube berjudul (فصل الخطاب في مسألة العذر بالجهل { 3}) : https://youtu.be/LciFZTiIcwM 

60. Asy-Syaikh Dr. Muhammad bin 'Umar Bazmuul hafidhahullah (guru besar Universitas Ummul-Qurra’).

a. Buku beliau berjudul : Mudzakkarah At-Takfiir wa Dlawaabithihi [hal. 25-30].
b. Fatwa beliau dalam situs sahab.net (tidak aktif) dan al-amen.com (tidak aktif) - https://bit.ly/39oX0VA 
c. Muhadlarah beliau berjudul (مسائل مهمة في كفر التولي والإعراض والعذر بالجهل) - https://www.radiosunna.com/smb.html 

61. Asy-Syaikh Dr. Ahmad bin ‘Umar Bazmuul hafidhahullah.

 Nasihat beliau kepada salafiyyin sebagaimana ternukil dalam buku Al-Qaulul-Fashl Fii Mas-alati Iqaamatil-Hujjah wal-‘Udzr bil-Jahl [hal. 81-83].

62. Asy-Syaikh Abu ‘Abdillah Azhar Sanaiqarah Al-Jazaairiy hafidhahullah (ulama salafi Aljazair).

a. Fatwa beliau di Youtube berjudul (تفصيل مهم في مسألة العذر بالجهل الشيخ أزهر سنيقرة) - https://bit.ly/2WPdsfd.
b. Fatwa beliau di soundcloud.com berjudul (العذر بالجهل للشيخ لزهر سنيقرة) - https://bit.ly/2WRyABI. 

63. Asy-Syaikh Abu Anas Jawwaad bin Dada Al-Maghribiy hafidhahullah (dai salafi negeri Maroko).

 Buku beliau berjudul : Al-Qaulul-Fashl fii Mas-alati Iqaamatil-Hujjaah wal-‘Udzr bin Jahl.

64. Asy-Syaikh Abul-‘Abbaas Asy-Syihriy hafidhahullah.

 Buku beliau berjudul : Ta’liiq Kasyfisy-Syubuhaat [hal. 37]

65. Asy-Syaikh Dr. Muhammad bin Rizq Ath-Tharhuuniy Al-Mishriy hafidhahullah.

 Buku beliau berjudul : Takfiir Al-Mu’ayyan.

66. Asy-Syaikh Dr. ‘Utsmaan bin Muhammad Al-Khamiis hafidhahullah.

a. Buku berjudul Al-Baraa-atu wat-Tahdziiru min Khathrit-Takfiir [hal. 22-30] – menyetujui dan memberi taqdiim.
b. Jawaban beliau dalam pertanyaan rekaman Youtube berjudul (ل يعذر الإنسان بجهلة بالعقيدة) - https://youtu.be/3cyzIL-bfN4 

67. Asy-Syaikh Dr. Muhammad Haaj bin ‘Iisaa Al-Jazaairiy hafidhahullah (ulama salafi Aljazair)

a. Serial Tulisan beliau yang termuat di situs berjudul islahway.com berjudul (شبهات الغلاة في التكفير حول العذر بالجهل) : https://bit.ly/3azphKk (muqaddimah), https://bit.ly/3aq7w07 (1) dan https://bit.ly/2UJftah (2), https://bit.ly/2JkuEkQ (3), https://bit.ly/2JoNebj (4), https://bit.ly/2UDKsEp (5).

b. Atau yang termuat di - https://bit.ly/2wEsBFm.

68. Asy-Syaikh Dr. Tha’at Zahraan hafidhahullah.

a. Muhadlarah beliau di Youtube berjudul (محاضرة عن العذر بالجهل والأدلة عليه - ١) - https://bit.ly/39oTKJX
b. Muhadlarah beliau di Youtube berjudul (محاضرة عن العذر بالجهل والأدلة عليه - ٢) - https://bit.ly/3byA1Jf.

69. Asy-Syaikh ‘Iisaa Maalullah Faraj hafidhahullah.
 Buku beliau berjudul : Al-Baraa-atu wat-Tahdziiru min Khathrit-Takfiir [hal. 22-30].

70. Asy-Syaikh Dr. ‘Abdullah Al-Bayuumiy Al-Mishriy hafidhaullah.

 Muhadlarah beliau di Youtube berjudul (العذر بالجهل المجلس السادس دكتور عبدالله البيومي) - https://bit.ly/33R2Gqg. 

71. Asy-Syaikh Sa’iid bin Mahmuud hafidhahullah.

a. Muhadlarah beliau di Youtube berjudul (العذر بالجهل والرد على بدعة التكفير ٠١) - https://bit.ly/2UBEJyQ. 
b. Muhadlarah beliau di Youtube berjudul (العذر بالجهل والرد على بدعة التكفير ٠٢) - https://bit.ly/2UD6pna.
c. Muhadlarah beliau di Youtube berjudul (شرح كتاب العذر بالجهل تأليف الشيخ احمد فريد ٠٣) - https://bit.ly/3aoPyeo.
d. Muhadlarah beliau di Youtube berjudul (العذر بالجهل والرد على بدعة التكفير ٠٤) - https://bit.ly/2UnJeOQ. 

72. Asy-Syaikh Dr. Yaasir Al-Burhaamiy hafidhahullah.

a. Buku beliau berjudul : Syarh Kasyfisy-Syubuhaat [hal. 17-18, dan 59-74] – bersama Asy-Syaikh Dr. Thal’at bin Marzuuq haidhahullah.
b. Buku beliau berjudul : Fadhlul-Ghaniyyil-Hamiid, Ta’liiqaatul-Haammah ‘alaa Kitaabit-Tauhiid [hal. 148-156].

73. Asy-Syaikh Thal’at Marzuuq haidhahullah

 Buku beliau berdua berjudul : Syarh Kasyfisy-Syubuhaat [hal. 17-18, dan 59-74] – bersama Asy-Syaikh Dr. Yaasir Al-Burhaamiy hafidhahullah.

74. Asy-Syaikh Dr. Muhammad bin ‘Abdillah Al-Wuhaibiy hafidhahullah.

 Buku beliau berjudul : Nawaaqidlul-Iimaan Al-I’tiqaadiyyah [1/225/313].

75. Asy-Syaikh Dr. ‘Abdullah Al-Faqiih hafidhahullah.

a. Fatwa beliau dalam situs islamweb.net berjudul (العذر بالجهل في كلام العلماء) - https://bit.ly/2vQsNRx 
b. Fatwa beliau dalam situs islamweb.net berjudul (العذر بالجهل في مسائل العقيدة) – https://bit.ly/2UlICcx 
c. Fatwa beliau dalam situs islamweb.net berjudul (ضوابط العذر بالجهل من عدمه) – https://bit.ly/3asXfAw 
d. dan lain-lain.

76. Asy-Syaikh Rasyiid bin Ahmad ‘Uwaisy Al-Maghriibiy hafidhahullah (ulama salafi Maroko)

 Buku beliau berjudul : Al-‘Udzr bin-Jahl ‘inda Aimmatid-Da’wah. Buku ini menjadi referensi Dr. Muhammad bin Ibraahiim As-Sa’iidiy dalam tulisan Waraqaaat haula Ad-Duraris-Saniyyah).

77. Asy-Syaikh Dr. Sulthaan bin ‘Abdirrahmaan Al-‘Umairiy hafidhahullah.

 Buku beliau berjudul : Isykaaliyyah Al-I’dzaar bil-Jahl fil-Bahts Al-‘Aqdiy.

78. Asy-Syaikh Dr. Muhammad bin Ibraahiim As-Sa’iidiy hafidhahullah (pengajar ushul fiqh di Universitas Ummul-Qurra’).

 Tulisan beliau dalam situs beliau mohamadalsaidi.com - https://bit.ly/2vUkwMA dan situs dorar.net - https://bit.ly/3dw21ir berjudul (وَرَقاتٌ حول كِتابِ الدُّرَرِ السَّنِيَّةِ).

79. Asy-Syaikh Dr. ‘Abdul-‘Aziiz bin Muhammad bin ‘Aliy Al-‘Abdil-Lathiif hafidhahullah.

 Buku beliau berjudul : Nawaaqidlul-Iimaan Al-Qauliyyah wal-‘Amaliyyah [hal. 60-84].

80. Asy-Syaikh Nizaar bin Haasyim Al-‘Abbaas hafidhahullah (ulama salafi Sudan, tazkiyyah ulama : https://bit.ly/2Jkc7VA)

 Transkrip kaset dars syarh Al-Ushuuluts-Tsalaatsah di situs rsalafs.com berjudul (العذر بالجهل وإقامة الحجة على الجاهل) - https://rsalafs.com/?p=1272.

81. Asy-Syaikh Dr. ‘Aayid bin Khaliif Asy-Syamariy hafidhahullah (ulama salafi Saudi)

 Muhadlarah beliau yang terekam di : https://bit.ly/39hXjS4 

82. Asy-Syaikh Dr. Abu ‘Abdillah ‘Aadil Asy-Syuurabajiy hafidhahullah (ulama salafi Mesir).

a. Buku beliau berjudul Tafshiilul-Kalaam Haula Al-‘Udzr bil-Jahl.
b. Muhadlarah beliau di Youtube berjudul (أصول الفقة"37") - https://bit.ly/2wKlew7. 

83. Asy-Syaikh Mukhtar Ath-Thibaawiy hafidhahullah.

 Tulisan beliau yang tertulis di taibaoui.com (tidak aktif) dan kulalsalafiyeen yang berjudul (كَشفُ شُبهات عَدم العُذر بِالجَهل) - https://bit.ly/2vSCcrX 

84. Asy-Syaikh Abu ‘Abdil-Baariy Al-‘Ied bin Sa’d Asy-Syariifiy Al-Jazaairiy hafidhahullah (ulama salafi Aljazaair).

 Dars beliau dalam serial pembahasan kitab At-Tajdiid fii Syarh Kitaabit-Tauhiid yang terekam audionya di archive.org dan Youtube berjudul (أولا شرح حديث عمران بن حصين و ذكر أدلة العذر بالجهل) - https://archive.org/details/cherifi-30 atau https://bit.ly/33TO2ia. 

85. Asy-Syaikh Muhammad bin Yahyaa AniNujaimiy hafidhahullah (guru besar di Ma’had ‘Aliy lil-Qadlaa’, Saudi).

 Tulisannya yang disebarkan di situs al-jazirah.com berjudul (تعليقاً على مقال الشيخ الدكتور سليمان أبا الخيل) - https://bit.ly/3dCffKs. 

86. Asy-Syaikh Dr. Khaalid Asy-Syunaibir hafidhahullah (guru besar ‘aqidah Universitas Al-Malik Su’uud, Riyaadl).

 Tulisan beliau berjudul Al-‘Udzr bil-Jahl fii Mas-alatit-Takfiir.

87. Asy-Syaikh Syariif Fuad Hazaa’ hafidhahullah.

 Buku beliau berjudul : ‘Al-‘Udzr bil-Jahl ma’a Taudliih wal-Bayaan li-Mauqiif Syaikhail-Islaam Ibni Taimiyyah wa Ibni ‘Abdil-Wahhaab.

88. Asy-Syaikh Dr. Mahmuud bin Muhammad Asy-Syibliy, Abu ‘Abdil-Baariy Ash-Shuumaaliy hafidhahullah (ulama salafi dari Somalia).

 Buku beliau berjudul Tahdziirul-Mu’miniin min Takfiiril-Muslimiin Al-Muta-awwiliin.

89. Asy-Syaikh Dr. Munqidz bin Mahmuud As-Saqaar hafidhahullah.

 Buku beliau berjudul Takfiir wa Dlawaabithuhu [hal. 63-73].

90. Asy-Syaikh Abu ‘Abdillah Shaadiq bin ‘Abdillah As-Suudaaniy hafidhahullah.

a. Buku beliau berjudul Is’aaful-Sa’uul bi-Syarh Tsalaatsatil-Ushuul [hal. 373-390].
b. Buku beliau berjudul Muqaddimah Muhimmah fii Mas-alatil-‘Udzr bil-Jahl.

91. Asy-Syaikh Abu Muhammad ‘Abdullah bin Muhammad Al-‘Abdil-Kariim hafidhahulllah.

 Tulisan beliau berjudul : Ithaafu Ahlis-Sunnah bi-Jawaazil-Khilaaf fii Mas-alatai : Al-‘Udzr bil-Jahl wa Taarikish-Shalaah.

92. Muntashir bin ‘Abdil-Fattaah bin Dhaahir Bibras hafidhahullah.

 Buku beliau berjudul : Al-Arba’uunal-Amniyyah fii Hifdhir-Raa’iy war-Ra’iyyah wa Himaayatid-Daulah Al-Urduniyyah minal-Khawaarij wat-Takfiiriyyah [hal. 68-69].

93. Asy-Syaikh Abu Husaamiddin Ath-Tharfaawiy, Saifun-Nashr ‘Aliy bin ‘Iisaa hafidhahullah.

 Buku beliau berjudul : Al-Ghulluw fit-Takfiir, Al-Madhaahiru, Al-Asbaabu, Al-‘Ilaaju [hal. 53-73].

94. Asy-Syaikh Dr. ‘Ied bin Abis-Su’uud Al-Kayyaal hafidhahullah (ulama salafi Mesir).

 Dars beliau yang terekam di situs alkaial.com berjudul (تَقْرِيبُ اسْتِصْحَابِ الحَالِ (الأصلُ الخامسُ المجمعُ عليه من أُصولِ الأحكامِ الشرعية)) - https://alkaial.com/takreb-esteshab-alhal (untuk versi transkrip : https://bit.ly/3dtBSRg0.

95. Asy-Syaikh Sufyaan bin ‘Aayisy hafidhahullah. 

 Buku beliau berjudul : At-Ta’shiil fii Masaailil-Iimaan wat-Takfiir [hal. 173-182].

96. Asy-Syaikh ‘Abdullah Al-Fahd hafidhahulllah.

 Buku beliau berjudul : At-Takfiir, Hukmuhu, Dlawaabithuhu, Al-Ghulluwu fiih [hal. 43-52].

97. Asy-Syaikh Khaalid bin Manshuur (ulama salafi Mesir).

a. Dars beliau di Youtube berjudul (شرح كتاب فتح المجيد .. ( 39 ) .. ( من تبرك بشجر او حجر- العذر بالجهل )) - https://bit.ly/3bypMEC
b. Dars beliau di Youtube berjudul (اقسام الجهل فى قضية العذر بالجهل) - https://bit.ly/33RUmGD.

98. Asy-Syaikh Mukhtaar Badri As-Suudaaniy hafidhahullah (ulama salafi Sudan).

a. Muhdlarah beliau yang terekan di Youtube berjudul (العذر بالجهل منهج السلف) atau (العذر بالجهل في العقيدة منهج السلف) : https://bit.ly/39lRZgv atau https://bit.ly/2JjtZ34.
b. Tulisan beliau yang tertulis di Kulalsalafiyeen berjudul (هل أختلف السلف في العذر بالجهل ؟) dan (العذر بالجهل منهج النبي صلى الله عليه وسلم) - https://bit.ly/33OcGRb 

99. Asy-Syaikh Dr. ‘Abdurrahmaan bin Haamid Aalu Naabit As-Suudaaniy hafidhahullah.

 Penjelasan beliau yang terekam di Youtube berjudul (العذر بالجهل) - https://bit.ly/2Um2Pic

100. Asy-Syaikh Abu ‘Abdillah Shaadiq bin ‘Abdillah Al-Haasyimiy As-Suudaaniy hafidhahullah.

a. Muhadlarah beliau di Youtube berjudul (الدرس الأول: العذر بالجهل في ميزان السلف) - https://bit.ly/2JjpjKn. 
b. Muhadlarah beliau di Youtube berjudul (الدرس الثاني: العذر بالجهل في ميزان السلف) - https://bit.ly/2Jomfgm.
c. Muhadlarah beliau di Youtube berjudul (الدرس الثالث: العذر بالجهل في ميزان السلف) - https://bit.ly/3bwveYH.
d. Muhadlarah beliau di Youtube berjudul (الدرس الأول: الكشف والقول الفصل في دحض شبهات عدم العذر بالجهل) - https://bit.ly/2X18NHl.
e. Muhadlarah beliau di Youtube berjudul (الدرس الثاني: الكشف والقول الفصل في دحض شبهات عدم العذر بالجهل) - https://bit.ly/3dutrVQ. 

101. Asy-Syaikh Al-Hasan bin ‘Aliy Al-Kattaaniy hafidhahullah.

 Dars beliau yang terekam di Youtube berjudul (درس خاص || في مسألة العذر بالجهل) - https://bit.ly/3duO7ND.