Sabtu, 20 Desember 2025

Telah terbit bulan purnama atas kamidari Tsaniyyāt al-Wadā

Syair yang sering kita dengar
طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا
مِنْ ثَنِيَّاتِ الْوَدَاعِ

“Telah terbit bulan purnama atas kami
dari Tsaniyyāt al-Wadā‘ …”

Syair ini sangat masyhur dan sering dinyanyikan sebagai nasyid penyambutan hijrah Nabi ﷺ.


a. Tidak memiliki sanad shahih
 • Para ulama hadits tidak menemukan sanad yang shahih atau hasan yang menyambungkan syair ini kepada peristiwa hijrah.
 • Tidak diriwayatkan dalam kutub sittah (Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah).

b. Diriwayatkan tanpa sanad (بلا إسناد) atau dengan sanad lemah
 • Sebagian disebutkan dalam kitab sejarah seperti Tarikh dan Siyar, bukan kitab hadits.
 • Dalam ilmu hadits:
 • Riwayat tanpa sanad tidak bisa dijadikan hujjah
 • Riwayat dengan sanad lemah tidak bisa dijadikan fakta sejarah pasti

📌 Kaidah ilmiah:

“Al-akhbār bila isnād lā tu‘tabar.”
Berita tanpa sanad tidak dianggap valid.


3. Masalah geografis (bukti ilmiah sejarah)

a. Tsaniyyāt al-Wadā‘ bukan arah Mekkah
 • Tsaniyyāt al-Wadā‘ adalah jalur di sebelah utara Madinah, arah Syam, bukan dari arah Mekkah.
 • Padahal Rasulullah ﷺ datang dari selatan (Mekkah).

➡️ Secara geografis:
Mustahil penduduk Madinah melihat Nabi datang dari Tsaniyyāt al-Wadā‘ saat hijrah.

Ini argumen sejarah-faktual, bukan sekadar sanad.

Daurah asatidzah Malino
Ustadz abul irbad