Syair yang sering kita dengar
طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا
مِنْ ثَنِيَّاتِ الْوَدَاعِ
“Telah terbit bulan purnama atas kami
dari Tsaniyyāt al-Wadā‘ …”
Syair ini sangat masyhur dan sering dinyanyikan sebagai nasyid penyambutan hijrah Nabi ﷺ.
⸻
a. Tidak memiliki sanad shahih
• Para ulama hadits tidak menemukan sanad yang shahih atau hasan yang menyambungkan syair ini kepada peristiwa hijrah.
• Tidak diriwayatkan dalam kutub sittah (Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah).
b. Diriwayatkan tanpa sanad (بلا إسناد) atau dengan sanad lemah
• Sebagian disebutkan dalam kitab sejarah seperti Tarikh dan Siyar, bukan kitab hadits.
• Dalam ilmu hadits:
• Riwayat tanpa sanad tidak bisa dijadikan hujjah
• Riwayat dengan sanad lemah tidak bisa dijadikan fakta sejarah pasti
📌 Kaidah ilmiah:
“Al-akhbār bila isnād lā tu‘tabar.”
Berita tanpa sanad tidak dianggap valid.
⸻
3. Masalah geografis (bukti ilmiah sejarah)
a. Tsaniyyāt al-Wadā‘ bukan arah Mekkah
• Tsaniyyāt al-Wadā‘ adalah jalur di sebelah utara Madinah, arah Syam, bukan dari arah Mekkah.
• Padahal Rasulullah ﷺ datang dari selatan (Mekkah).
➡️ Secara geografis:
Mustahil penduduk Madinah melihat Nabi datang dari Tsaniyyāt al-Wadā‘ saat hijrah.
Ini argumen sejarah-faktual, bukan sekadar sanad.
⸻
Daurah asatidzah Malino
Ustadz abul irbad