Keteladanan Akhlak Imam Ahmad bin Hanbal
Shalih, putra Imam Ahmad, menceritakan sisi-sisi keseharian ayahnya yang penuh keteladanan:
● Kemandirian dalam Beribadah
"Aku mendengar Shalih bercerita: Ayahku, jika hendak berwudu untuk salat, tidak pernah mau menyuruh orang lain mengambilkan air untuknya. Beliau selalu menimba dan menyiapkan air wudunya dengan tangannya sendiri."
● Kecintaan pada Al-Qur'an
"Aku juga sering sekali mendengar beliau melantunkan Surah Al-Kahfi."
● Perhatian dan Kasih Sayang kepada Anak
"Pernah suatu ketika aku jatuh sakit. Beliau lalu mengambil segelas air dan membacakan (doa/ayat Al-Qur'an) ke dalamnya, lalu berkata kepadaku: 'Minumlah air ini, dan basuhkan pula ke wajah serta kedua tanganmu'."
● Kesederhanaan dan Kerendahan Hati
"Terkadang beliau pergi sendiri ke pasar, membeli seikat kayu bakar atau keperluan lainnya, lalu memanggulnya sendiri pulang ke rumah."
Sīrat al-Imām Aḥmad ibn Ḥanbal li Abil Fadhl Shalih ibn Ahmad ibn Hanbal.
Ustadz reza
From the manners of al-Imām Aḥmad b. Ḥanbal.
“I heard Ṣāliḥ say: My father, when he intended to perform ablution for prayer, would not allow anyone to fetch water for him; he himself would draw the water with his own hand.
And I used to hear him often reciting Sūrat al-Kahf.
And sometimes I would fall ill, so he would take a cup containing water, recite over it, then say to me: ‘Drink from it, and wash your face and your hands.’
And sometimes he would go out to the greengrocer, buy a bundle of firewood or other items, and carry it himself.”
Source: 📖 Sīrat al-Imām Aḥmad ibn Ḥanbal li-ātī al-faḍl Ṣāliḥ ibn Aḥmad ibn Ḥanbal.