Senin, 22 Desember 2025

Sikap-sikap "kokoh" (baca: persekusi) semacam inilah yang memperburuk citra "Salafi" sehingga dinilai radikal dan ekstremis.

Sikap-sikap "kokoh" (baca: persekusi) semacam inilah yang memperburuk citra "Salafi" sehingga dinilai radikal dan ekstremis. 

Bahkan terhadap sesama afiliasi pun sikapnya demikian ganas, apalagi kepada orang-orang di luar komunitas/afiliasinya. 

Itulah kenapa saya cukup sering menyampaikan tentang perlunya upaya berkesinambungan untuk memoderatkan "Salafi" (berlaku pula untuk kalangan ekstrem dari afiliasi lainnya). 

☆ ☆ ☆ 

Adapun tentang menyikapi perbedaan dan pelakunya itu perlu memperhatikan antara lain poin-poin berikut, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama: 

(1) Tahap pertama, terkait pandangan, maka tidak semua perbedaan pandangan itu berada di luar koridor Ahli Sunnah; 
 
(2) Tahap selanjutnya, terkait pelaku, kalau pun ada suatu pandangan yang menyelisihi Ahli Sunnah, maka tidak semua pelakunya lantas otomatis dikeluarkan dari Ahli Sunnah, namun diteliti dulu uzur dan kondisinya; 
 
(3) Tahap berikutnya, terkait penyikapan pelaku, kalau pun pelakunya dianggap bukan Ahli Sunnah (ahli bidah, dan perlu ekstra kehati-hatian untuk menjatuhkan vonis demikian, serta tidak semua orang layak menjatuhkan vonis), maka ada dua kemungkinan alternatif penyikapannya, yaitu dengan hajr (boikot) maupun dengan ta`lif (persuasif), tergantung mana yang lebih mendatangkan kemaslahatan, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dan lainnya. 

Bahkan, para ulama kontemporer, seperti Ibnu Baz, al-Albani dan lainnya, menilai bahwa penyikapan dengan ta`lif itulah yang lebih maslahat pada zaman sekarang ini. 

adniku 251221 
SAMHA Project