ADAB IKHTILAF
Imam adz-Dzahabi berkata:
قَالَ أَبُو الوَقْتِ السِّجْزِيُّ: دَخَلْتُ نَيْسَابُوْر، وَحَضَرتُ عِنْد الأُسْتَاذِ أَبِي المَعَالِي الجُوَيْنِيّ، فَقَالَ: مَنْ أَنْتَ؟
قُلْتُ: خَادمُ الشَّيْخ أَبِي إِسْمَاعِيْلَ الأَنْصَارِيّ.
فَقَالَ: رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.
قُلْتُ: اسْمَع إِلَى عقلِ هَذَا الإِمَام، وَدَعْ سَبَّ الطَّغَام، إِنْ هُم إِلاَّ كَالأَنعَام.
Abul Waqt as-Sijzi berkisah: “Aku masuk ke kota Naisabur dan menghadiri majelis al-Ustadz Abul Ma‘ali al-Juwaini. Beliau lalu bertanya: ‘Siapa kamu?’ Aku menjawab: 'Orang yang berkhidmat kepada Syaikh Abu Isma'il al-Anshari.’ Beliau pun berkata: ‘Radhiyallahu ‘anhu (semoga Allah rida dengan Syaikh Abu Isma'il).’"
Saya (Imam adz-Dzahabi) berkomentar: "Perhatikanlah intelektualitas Sang Imam, dan tinggalkanlah celaan dari orang-orang rendahan. Tidaklah mereka itu melainkan seperti hewan ternak."
[Ref.: Siyar A'lam an-Nubala`, vol. 18, hlm. 513.]
Dr. Usamah berkomentar: "Abul Ma'ali al-Juwaini di atas akidah kalangan Asy'ariyyah [Mutakallimah, Ahli Kalam]. Sedangkan Abu Isma'il merupakan kalangan Hanabilah-Atsariyyah (Mutsbitah), yang mengecam dan memboikot kalangan Mutakallimah (Ahli Kalam). Meskipun demikian, perhatikanlah bagaimana al-Juwaini menyikapinya. Semoga Allah merahmati kedua ulama tersebut."
☆☆☆
Saya berkomentar: Di dalam literatur klasik ada berbagai kisah berharga tentang adab ikhtilaf (perbedaan) yang adem semacam ini. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa ada pula kisah-kisah konflik yang panas. Sayangnya, sebagian orang lebih suka menyuguhkan kisah jenis kedua yang mengobarkan api perseteruan di tengah umat.
Allahu a'lam wa huwal musta'an.
adniku — SAMHA Project
251130
#Wasathiyah #ModerasiBeragama #moderasi