Sebagian ikhwah menolak mengatakan nabi Yûsuf berhasrat kepada wanita 'azîz, hanya karena berpandangan bahwa kalau lelaki berhasrat kepada wanita itu sifat tercela.
Padahal tidaklah demikian, karena hasrat semisal itu thabî'iy, manusiawi, manusia bukanlah malaikat yang tidak diberi syahwat, dan barulah akan tercela ketika hasrat itu tidak diikat dengan ketaqwaan sehingga melanggar rambu-rambu yang Allâh tetapkan.
Allâh ta'âlâ berfirman:
ولقد همت به وهم بها
Dan sungguh ia (wanita 'azîz) telah berhasrat kepadanya (Yûsuf), dan ia pun juga telah berhasrat kepadanya (wanita 'azîz).
(QS. Yûsuf 12: 24)
Hasrat dalam ayat di sini kata para ulamâ' bukanlah maksiat, dan hasrat di sini adalah sifat naluri alami lelaki.
Kalaulah Yûsuf 'alaihissalâm tidak berhasrat maka tidak ada istimewanya dari kisah ini, karena semua orang yang tidak memiliki hasrat pasti bisa menghindari perbuatan zinâ (jangankan mau zinâ farj orang yang jika ia tidak berhasrat tak akan mungkin bisa berdiri, jadi bagaimana mungkin mereka bisa berzinâ ?).
Dan justeru karena beliau memiliki hasrat yang menyala dan tatkala hasrat sedang berkobar namun justeru mampu menaklukkan hasrat demi mendahulukan petunjuk Rabbnya, maka di sinilah menjadi sisi istimewanya dan terdapat teladan di dalamnya, karena tidak semua orang mampu selamat darinya karena kebanyakan manusia lebih memilih tunduk kepada syahwatnya daripada kepada Rabbnya, karena ketika gairah manusia sedang bergelora dan membara namun bisa selamat darinya itu perkara yang sangat sulit, dan jadilah kisah ini sebagai teladan ternyata ada di sana manusia yang bisa menaklukkan keadaan sulit dan selamat di dalamnya, dan itu terjadi jika memang terdapat keikhlasan dalam hati seorang hamba.
As-Syaikh Ibnu Bâz rahimahullâh berkata terkait ayat ini:
يوسف -عليه الصلاة والسلام- هم بها، وهمت به بعد المراودة، لكن الله عصمه وحماه منها وسلم
Yûsuf 'alaihis shalâtu wassalâm telah berhasrat kepada wanita 'azîz, dan wanita pun juga telah berhasrat kepada Yûsuf setelah berusaha merayunya, tetapi Allâh menjaga Yûsuf dan melindunginya dari wanita tersebut, dan beliau pun selamat.
Dalam kitâb Adhwâul Bayân syaikh As-Syinqithiy menulis pendapat terkait tafsîr ayat di atas ini:
وقال بعضهم : هو الميل الطبيعي والشهوة الغريزية المزمومة بالتقوى ، وهذا لا معصية فيه ; لأنه أمر جبلي لا يتعلق به التكليف ، كما في الحديث عنه صلى الله عليه وسلم : أنه كان يقسم بين نسائه فيعدل ثم يقول : " اللهم هذا قسمي فيما أملك ، فلا تلمني فيما لا أملك " ، يعني ميل القلب الطبيعي .
Sebagian mereka berkata: Hasrat Yûsuf kepada wanita 'azîz adalah kecondongan thabî'iy (menandakan kenormalan lelaki yang menyukai wanita), dan syahwat gharîziyyah al-mazmûmah (syahwat yang berasal dari naluri lelaki yang diikat) dengan ketaqwaan, dan ini tidak ada maksiat di dalamnya, sebab ia perkara alami yang tidak ada kaitan dengan taklîf (pembebanan syarî'ât), sebagaimana di dalam hadîts dari nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam:
"Sesungguhnya beliau dahulu membagi di antara istri beliau dengan adil, kemudian beliau berkata: ya Allâh ini adalah bagianku pada apa yang Aku miliki, dan janganlah Engkau cela Aku pada apa yang tidak Aku miliki yakni kecondongan hati yang bersifat thabî'iy (ada kecondongan dengan perasaan cinta)."
Fâidah lain dapat dibaca penjelasan Ibnu 'Utsaimîn rahimahullâh di sini:
https://alathar.net/home/esound/index.php?op=codevi&coid=165296#:~:text=%D8%B3%D9%88%D9%81%20%D9%8A%D9%83%D9%88%D9%86%20%D8%A7%D9%84%D9%87%D9%85%D8%8C%20%D9%84%D8%A3%D9%86%20%D8%A7%D9%84%D8%A5%D9%86%D8%B3%D8%A7%D9%86,%D9%84%D8%A7%20%D8%B8%D9%84%20%D8%A5%D9%84%D8%A7%20%D8%B8%D9%84%D9%87%D8%8C%20%D9%86%D8%B9%D9%85%20.