DENGAN SIAPA KAMU MENIKAH LEBIH PENTING DARIPADA KAPAN KAMU MENIKAH
Banyak orang sibuk bertanya,
“kapan kamu menikah?”
Padahal pertanyaan paling menentukan justru:
“dengan siapa kamu menikah?”
Karena pasanganmu hari ini adalah penentu masa depanmu. Bukan sekadar status,
melainkan arah hidup.
Bagaimana caramu menjalani hari, bagaimana ketenangan rumahmu terjaga, bagaimana anak-anakmu tumbuh, bahkan bagaimana dirimu kelak menjadi seseorang, semuanya dipengaruhi oleh siapa yang berjalan di sampingmu.
Sebelum menikah, kamu sendirian. Setelah menikah, seharusnya tidak lagi. Namun menikah bukan sekadar “aku berdua.” Bukan hanya dua tubuh dalam satu rumah. Berdua itu berbagi,
berdua itu saling. Suami bekerja, istri membuat rumah nyaman. Suami membawa beras, istri memasaknya. Suami menanggung biaya, istri mengelolanya. Bukan soal siapa lebih tinggi,
melainkan siapa saling menguatkan. Kalau sekadar ditemani, teman pun bisa. Kalau hanya urusan biologis, itu terlalu dangkal untuk disebut pernikahan.
Dalam rumah tangga, bukan hanya soal cinta,
tetapi manfaat. Bukan hanya menerima,
melainkan memberi. Syekh Nawawi Al Bantani dalam kitabnya Nashā’ih al-‘Ibād menyampaikan satu nasihat yang mungkin terasa pahit,
namun jujur dan nyata:
و الرجل المسلم الصالح غريب في يد امرأة ردية اي إذا كان في معاشرة امرأة وضيعة في الحسبب حقيرة في النسب
( سيئة الخلق)
laki-laki shalih akan menjadi asing (tidak akan berkembang) jika menikah dengan perempuan yang rendah kualitasnya dan buruk perilakunya.
Sebaliknya pun berlaku. Ini bukan soal merendahkan, melainkan soal realitas kehidupan.
Bayangkan seorang laki-laki yang cerdas, rajin, dan berprestasi. Ia ingin belajar, berkarya, membangun masa depan. Namun setiap pulang ke rumah, yang ia hadapi justru uring-uringan.
Hal-hal remeh dibesar-besarkan, emosi tak terkelola, masalah kecil menjelma badai.
Tidak selalu karena niat jahat. Tidak pula karena ingin merepotkan. Sering kali hanya karena belum sanggup mengurus dirinya sendiri. Padahal suami dan istri itu seperti satu tubuh. Jika satu bagian sakit, seluruh badan ikut terganggu. Bagaimana mungkin ia fokus menata masa depan, jika pikirannya terus terbelah untuk menenangkan pasangannya yang rapuh?
Bandingkan dengan pasangan yang berkualitas.
Perempuan yang kuat mentalnya, jernih pikirannya, dewasa sikapnya, cukup ilmunya.
Ia tahu kapan harus berbicara, kapan harus diam. Ia paham cara menyampaikan tanpa melukai. Ia mampu mengelola diri, rumah, dan emosinya. Bukan berarti tak pernah lelah,
tetapi tahu bagaimana tidak menjadikan lelahnya sebagai beban bagi orang lain, apalagi beban bagi pasangannya sendiri. Di situlah pasangan bukan menjadi penghambat, melainkan pendorong. Bukan menyita fokus, tetapi menumbuhkan potensi. Maka menikah bukan soal siapa cepat, melainkan siapa
mendapat pasangan yang tepat.
Menikah adalah memilih: apakah hidupmu akan berkembang, atau justru terhambat pelan-pelan.
Dan bagi perempuan, ini bukan ajakan untuk minder, justru sebaliknya. Jadilah perempuan berkualitas, cerdas pemikiran, matang emosi, beribadah dengan sabar, berkarya dengan sungguh, berprestasi tanpa kehilangan adab.
Karena menikah bukan tentang sekadar berani hidup bersama, melainkan berani bertumbuh bersama. Dan tidak semua orang yang mampu menemanimu, sanggup menumbuhkanmu.