Kami katakan, jangan sampai kesalahan tersebut didiamkan. Karena kesalahan tersebut menjadi masalah untuk dirimu sendiri, juga untuk gurumu. Jika kesalahan tersebut diingatkan, tentu akan jadi lurus. Begitu pula jika ada kerancuan, karena bisa jadi ada salah kata-kata ketika berucap sehingga perlu sekali dibetulkan. Akan tetapi, apakah kesalahan tersebut diingatkan di dalam majelis ataukah di luar majelis?
Bisa jadi diingatkan saat itu juga di dalam majelis. Karena kalau tidak diingatkan, ilmu tersebut barangkali direkam, akhirnya nantinya tersebar padahal ada kekeliruan di dalamnya. Tentu saja kesalahan tersebut perlu diingatkan di dalam majelis.
Bisa juga kesalahan tersebut diingatkan di luar. Engkau jalan bersamanya (empat mata), lalu bisa berkata, “Wahai Syaikh, kami tadi mendengar engkau berkata seperti ini dan seperti itu, kami tidak mengerti atau kami sedikit rancu. Mungkin kami yang salah dengar atau barangkali ada yang keliru.” (Syarh Hilyah Thalab Al-‘Ilmi, hlm. 84)
Kita dapat simpulkan bagaimanakah cara menasihati guru yang keliru:
- Nasihat didasari karena menginginkan kebaikan pada guru.
- Nasihat adalah tanda cinta pada guru agar tidak terjatuh pada kesalahan.
- Nasihat pada guru baiknya dilakukan sembunyi-sembunyi.
- Nasihat bisa dilakukan di dalam majelis jika memang ada maslahat.
- Tetap santun dalam menasihati.
Semoga Allah menganugerahi kita sekalian ilmu yang bermanfaat. Moga Allah senantiasa menjaga guru kita, memberkahi ilmu dan waktu mereka.
Adab pada Guru (3) - Rumaysho.Com https://share.google/EOLFhAaWIYfbAXBbn