Sabtu, 20 Desember 2025

Nahi Munkar tidak perlu Menunggu jadi orang baik.

Nahi Munkar tidak perlu Menunggu jadi orang baik.
_____
قال الشاعر:
إذا لم يعِظْ في الناس من هو مُذنبٌ
فمن يعظُ العاصينَ بعد محمّدِ
Seorang penyair berkata:

"Jika seseorang yang berdosa tidak boleh memberi nasihat kepada manusia, maka siapakah yang akan menasehati para pelaku maksiat setelah (wafatnya) Nabi Muhammad?"

Maksudnya, Setelah Nabi wafat, tidak ada lagi manusia yang maksum atau suci dari dosa. Jika syarat memberi nasihat adalah harus suci dari dosa, maka tidak akan ada lagi dakwah di muka bumi).

وقال الحسن البصري لرجل:

عِظْ أصحابك. فقال: إني أخاف أن أقول ما لا أفعل. فقال: يرحمك الله، وأيّنا يفعل ما يقول؟ يودّ الشيطان أنه قد ظفر بهذا، فلم يأمر أحد بمعروف ولم ينهَ عن منكر.

Hasan Al-Bashri berkata kepada seorang lelaki:

Berilah nasihat kepada teman-temanku.

Lelaki itu menjawab: "Sesungguhnya aku takut mengatakan apa yang tidak aku kerjakan (takut dicap munafik).

Maka Hasan Al-Bashri berkata:

"Semoga Allah merahmatimu, siapakah di antara kita yang benar-benar melakukan semua apa yang ia katakan? Setan sangat ingin memenangkan (pemikiran) ini, sehingga nantinya tidak ada lagi satu pun orang yang memerintahkan kebaikan dan tidak ada lagi yang mencegah kemungkaran."

Ibnu Taimiyah menulis :

فَيَجِبُ عَلَى الرَّجُلِ أَنْ يَأْمُرَ نَفْسَهُ وَغَيْرَهُ بِالْمَعْرُوفِ، وَيَنْهَى نَفْسَهُ وَغَيْرَهُ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَإِنْ كَانَ هُوَ مُقَصِّرًا فِي بَعْضِ ذَلِكَ.

Maka wajib bagi seseorang untuk memerintahkan dirinya sendiri dan orang lain kepada kebaikan, serta melarang dirinya sendiri dan orang lain dari kemungkaran, meskipun ia sendiri masih lalai atau kurang dalam sebagian dari hal tersebut.

Majmū‘ al-Fatāwā (7/284)

وَلَيْسَ مِنْ شَرْطِ الآمِرِ وَالنَّاهِي أَنْ يَكُونَ مَعْصُومًا، بَلْ يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَإِنْ لَمْ يَأْتِهِ كُلَّهُ، وَيَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَإِنْ كَانَ يَقَعُ فِي بَعْضِهِ.

Dan bukan merupakan syarat bagi orang yang memerintah (kepada kebaikan) dan melarang (dari kemungkaran) itu harus bersifat ma‘shūm (terjaga dari dosa). Bahkan ia tetap memerintahkan kepada kebaikan meskipun ia belum mengerjakan semuanya, dan melarang dari kemungkaran meskipun ia sendiri masih terjatuh pada sebagian darinya.”
Majmū‘ al-Fatāwā (10/365)

Pernyataan tersebut merupakan salah satu poin penting dalam risalah Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau menekankan bahwa melakukan maksiat tidak menggugurkan kewajiban seseorang untuk tetap berdakwah atau mencegah kemungkaran yang sama.

وَكَذَلِكَ شَارِبُ الْخَمْرِ عَلَيْهِ أَنْ يَنْهَى غَيْرَهُ عَنْ شُرْبِ الْخَمْرِ

Demikian pula peminum khamar, ia wajib melarang orang lain dari meminum khamar.

فَالْوَاجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَأْمُرَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ، وَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ الْمَعْرُوفَ وَلَمْ يَنْتَهِ عَنْ ذَلِكَ الْمُنْكَرِ. وَكَذَلِكَ شَارِبُ الْخَمْرِ عَلَيْهِ أَنْ يَنْهَى غَيْرَهُ عَنْ شُرْبِ الْخَمْرِ، وَعَلَيْهِ هُوَ أَنْ يَتْرُكَ شُرْبَهَا."

"Wajib bagi seorang muslim untuk memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar, meskipun ia sendiri belum melakukan perkara makruf tersebut atau belum berhenti dari kemungkaran tersebut. Demikian pula peminum khamar, ia wajib melarang orang lain dari meminum khamar, dan ia sendiri pun wajib meninggalkannya."

Ibnu Taimiyah menyebutkan prinsip ini saat menjelaskan bahwa kesempurnaan diri bukanlah syarat untuk melakukan nahi munkar. Beliau menulis:

وَكَذَلِكَ شَارِبُ الْخَمْرِ عَلَيْهِ أَنْ يَنْهَى غَيْرَهُ عَنْ شُرْبِ الْخَمْرِ، وَعَلَيْهِ هُوَ أَنْ يَتْرُكَ شُرْبَهَا، فَإِذَا لَمْ يَتْرُكْهَا كَانَ عِصْيَانُهُ بِتَرْكِ النَّهْيِ مَعْصِيَةً أُخْرَى غَيْرَ مَعْصِيَةِ الشُّرْبِ

Ibnu Taimiyah merujuk pada pendapat para ulama (seperti Said bin Jubair) untuk membantah anggapan bahwa "orang yang punya dosa tidak boleh menasehati orang lain". Beliau menegaskan bahwa jika seseorang menunggu sampai dirinya suci total dari dosa untuk berdakwah, maka tidak akan ada lagi orang yang beramar ma'ruf nahi munkar di muka bumi.

Referensi:
√ Kitab: Al-Istiqamah
Jilid/Halaman: Jilid 2, Halaman 211 

√ Majmu’ al-Fatawa: Jilid 15, pada bagian penjelasan mengenai kewajiban dakwah bagi orang yang masih melakukan dosa.

√ Kitab Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar