𝐔𝐣𝐢𝐚𝐧 𝐁𝐞𝐫𝐚𝐭 𝐒𝐲𝐚𝐢𝐤𝐡𝐮𝐧𝐚 𝐁𝐚𝐚𝐬𝐢𝐦 𝐀𝐥-𝐉𝐚𝐰𝐚𝐚𝐛𝐢𝐫𝐚𝐡 𝐌𝐞𝐧𝐣𝐞𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐃𝐚𝐮𝐫𝐨𝐡 𝐃𝐮‘𝐚𝐭 𝐤𝐞-𝟒 𝐈𝐇𝐁𝐒
Alhamdulillah, sejak tadi malam kami sudah nginap di IHBS. Maka subuh tadi, kami mendapatkan nikmat berjumpa dan duduk bersama Syaikh kita yang sudah tiba di lokasi Dauroh.
Saat melangkah menuju masjid, hati terasa hangat. Kedua syaikh kami telah lebih dahulu hadir di masjid IHBS yang diberkahi Allah Ta'ala; Syaikh Prof. Husain Audah Al-‘Awaisyah dan Syaikhuna Baasim Al-Jawaabirah hafizhahumallah. Keduanya tampak seperti biasa—tenang, teduh, dan penuh wibawa. Tak ada tanda apa pun yang mengisyaratkan adanya ujian besar yang sedang dipikul di dada salah satu dari mereka.
Usai shalat sunnah, saya menghampiri dan menyalami mereka. Dengan rasa bahagia dan hormat, saya duduk di samping Syaikh Baasim. Beberapa saat kemudian, Ustadz Hendro, ketua panitia Dauroh datang meminta Syaikh Husain untuk mengimami shalat. Maa syaa Allah… suasana subuh tadi terasa nikmat.
Selesai shalat, Syaikh Husain memberikan nasihat. Ayat demi ayat, hadits demi hadits tentang ujian hidup dan kesabaran beliau sampaikan dengan suara yang menenangkan. Awalnya saya mengira nasihat itu ditujukan untuk menguatkan kita, masyarakat negeri ini, atas berbagai musibah dan ujian yang silih berganti.
Namun kemudian beliau mengingatkan: musibah terbesar bagi umat ini adalah wafatnya Nabi ﷺ.
Kalimat itu mengguncang.
Dan setelahnya… kabar itu pun beliau sampaikan. Istri Syaikhuna Baasim Al-Jawaabirah telah wafat beberapa jam yang lalu.
Allahul Musta‘an…
Tak pernah terlintas sedikit pun di benak kami. Sejak awal, Syaikh Baasim tampak seperti biasa—seolah tak ada luka yang sedang berdarah di dalam hatinya.
Betapa besar jiwa seorang alim…
Setelah selesai Syaikh Husein memberikan nasehat, kami pun mendekati Syaikh Baasim untuk menyampaikan ta‘ziyah.
Dalam langkah menuju kamar beliau, saya masih berjalan di sampingnya. Masya Allah, di tengah ujian seberat itu, beliau masih mengingat saya—bahkan mengingat bahwa tahun lalu saya menterapi beliau di hotel. Hati ini semakin luluh. Saya menawarkan kalau beliau butuh terapi saya siap, Beliau bertanya kamu Stanby di sini kan ? Beliau menyampaikan, kemungkinan akan membutuhkan terapi kembali sehari atau dua hari lagi. Seolah beliau ingin menenangkan diri dulu.
Saya juga memberanikan diri bertanya, istri yang wafat itu istri beliau yang mana. Dengan tenang, beliau menjawab: istri pertama.
Yaa Rabb.. betapa berat ujian Syaikh kami.. Sungguh, bersama istri pertama, ada perjalanan hidup yang panjang, cinta yang tumbuh sejak awal, kenangan yang tak terhitung dilalui dengan suka dan duka, tentunya.
Tak lama kemudian, Syaikh Baasim menuliskan ungkapan duka di akun Facebook beliau:
انا لله وانا اليه راجعون توفيت زوجتي العزيزة الحبيبة الغالية الصابرة المحتسبة ام فيصل رحمها الله وغفر لها وأسكنها الفردوس الأعلى
Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.
Telah wafat istriku tercinta, terkasih, dan sangat mulia,
wanita yang sabar dan mengharap pahala, Ummu Faishal. Semoga Allah merahmatinya, mengampuninya, dan menempatkannya di Surga Firdaus yang tertinggi.
اللهم اغفر لها ورحمهاوعافها وعفو عنها اللهم احشرها مع النبيين والصديقين والشهداء وحسن أولئك رفيقا اللهم نقها من الذنوب كما ينقى الثوب الابيض من الدنس بالماء والثلج والبرد اللهم ثبتها عند االسؤال اللهم اجعل قبرها روضة من رياض الجنة
Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakan dia, dan maafkanlah segala kesalahannya.
Ya Allah, kumpulkanlah dia bersama para nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada, dan sebaik-baik sahabat.
Ya Allah, sucikanlah dia dari dosa-dosa sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran,
dengan air, salju, dan embun.
Ya Allah, teguhkanlah dia ketika ditanya (di alam kubur).
Ya Allah, jadikanlah kuburnya taman dari taman-taman surga.
اللهم ارض عنها فإني عنها راض اللهم ارض عنها اللهم ارض عنها اللهم ارض عنها فإني عنها راض
Ya Allah, ridailah dia, karena sesungguhnya aku telah ridha kepadanya.
Ya Allah, ridailah dia.
Ya Allah, ridailah dia.
Ya Allah, ridailah dia, karena sesungguhnya aku telah ridha kepadanya.
Lihat penggalan tulisan awal beliau dan akhirnya do'anya..
Betapa membuat kita sedih.. Sungguh betapa besar kedudukan Ummu Faishal di hati beliau.
sungguh berat ujianmu wahai Syaikh kami, istrimu wafat dan engkau berada di negeri orang, bukan di negerimu. Hingga malam ini masih kami jumpai diri masih di sini, di lokasi Dauroh bersama kami, menunggu kehadiran kami semua para peserta Dauroh dari berbagai daerah dan dirimu tidak memilih pulang.
Tak terbayang oleh kami beratnya ujianmu. Dan sungguh betapa besar cintamu pada kami para penuntut ilmu wahai Syaikh kami tercinta. Semoga kelak Allah kumpulkan Syaikh dengan Syaikhah Ummu Faishal di sorga Allah yang penuh kenikmatan. Aamiin.
Muridmu yang mencintaimu karena Allah wahai syaikhana.
✍️ Firdaus Basyir As-Subayanjiy