Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman hafizhahullah (murid senior Syaikh Al-Albani rahimahullah)
Syaikh minum dan melihat seseorang menunjukkan sesuatu di HP.
Syaikh Masyhur: "Saudara kita datang _semoga Allah membalasnya dengan kebaikan_ namun dia datang tidak menggunakan tangan (pena), dia menggunakan 'pemotretan' (perekaman/HP), lalu mencabutnya begitu saja.
Duhai sekiranya... Duhai sekiranya... Duhai sekiranya tidak ada hubungan antara komputer (teknologi digital) dengan ilmu-ilmu syar'i. Inilah yang aku sukai."
Syaikh Masyhur: "Sehingga kita bisa menggunakan pena. Faedah yang diucapkan oleh Syaikh, jangan engkau katakan: 'Ah, nanti saya dengarkan dari kaset atau rekaman'. Jika terlewat, maka terlewatlah. Seandainya ilmu itu, kondisinya seperti dahulu kala... Saya hafal ungkapan ini: 'Letakkan ucapanku pada tempatnya, dan jangan katakan atas namaku apa yang tidak aku katakan'.
Seandainya pada alat-alat ini (gadget) dan metode-metode ini terdapat kebaikan, niscaya Allah tidak akan menghalanginya dari orang-orang terdahulu (Salaf).
Apakah ada faedahnya? Ya, ada faedahnya. Saya tidak mengatakan tidak ada faedahnya. Ada faedah yang sangat memudahkan."
Syaikh Masyhur: "Namun ilmu itu, jika mudah (didapat), maka mudah pula hilangnya (luputnya). Dan ilmu yang engkau bersusah payah (lelah) dalam mendapatkannya, maka engkau pun tidak akan melupakannya.
Jadi, ada faedahnya? Ada. Tapi keberkahannya tidak ada padanya.
Nabi ﷺ telah mengabarkan kepada kita dalam hadits Abdullah bin Amr dalam Shahih Muslim: 'Dan dijadikan keselamatan (‘afiyah) umat ini ada pada awalnya, dan akan menimpa akhir umat ini bala (ujian) dan perkara-perkara yang kalian ingkar'."
Syaikh Masyhur: "Keselamatan (‘afiyah) itu ada di awal (zaman Salaf). Keberkahan tidak ada pada benda-benda ini. Jika seseorang memegang telepon yang berisi semua cabang ilmu, namun dia tidak paham ucapan yang engkau sampaikan, bahkan abjad (dasar) ilmu pun dia tidak paham.
Hal seperti ini tidak ada di masa lalu. Dahulu orang-orang mengetahui kedudukan mereka. Sekarang, engkau tidak tahu kedudukanmu. Engkau menekan beberapa tombol (klik), lalu engkau menyalahkan Syaikh Al-Albani, dan ternyata Al-Albani yang salah, engkau merasa... (sombong)."
Syaikh Masyhur: "Saya pernah membaca Silsilah Ash-Shahihah saat awal-awal terbit, jilid pertama atau kedua. Waktu itu saya masih seorang pemuda kecil.
Syaikh (Al-Albani) berkata: 'Hadits ini disandarkan oleh As-Suyuthi kepada Ahmad dalam Musnad-nya'. Namun Syaikh (Al-Albani) tidak menemukannya (dalam Musnad Ahmad). Hadits tersebut ada pada (Musnad) Ahmad dalam Musnad-nya, dan hadits itu riwayat Abu Hurairah. Cetakan yang digunakan Syaikh untuk Musnad adalah cetakan Al-Maimaniyyah yang berjumlah 6 jilid besar itu. Sedangkan Musnad Imam Ahmad (yang saya pegang/lihat) ada dalam dua jilid darinya, musnad yang besar."
Syaikh Masyhur: "Saya waktu itu seorang pemuda kecil, dan terkadang pemuda itu tertimpa rasa bangga diri (ujub). Saya menemukan hadits tersebut di Musnad Imam Ahmad. Saya menunggu sampai saya mengunjungi Syaikh. Saya berkata: 'Wahai Syaikh, saya punya catatan (koreksi)'. Beliau berkata: 'Silakan'. Saya berkata: 'Hadits...' - dan saat itu saya hafal haditsnya, hafal jilid dan halamannya di Ash-Shahihah, serta jilid dan halaman di Musnad Ahmad -. Saya katakan: 'Engkau menyebutkan di Ash-Shahihah jilid sekian halaman sekian, bahwa hadits ini tidak ada di Ahmad. Padahal hadits tersebut ada di Ahmad jilid sekian, halaman sekian, baris sekian'.
Beliau (Syaikh Al-Albani) terdiam sejenak.
Lalu beliau meninggalkan saya dan pergi ke perpustakaan - saya duduk bersama beliau di perpustakaan -. Beliau mengeluarkan kitab Ash-Shahihah dan bertanya: 'Jilid berapa?'. Saya jawab: 'Jilid sekian, halaman sekian'. Beliau membukanya. '(Lalu) Haditsnya ada di mana (di Musnad Ahmad)?'. Saya jawab: 'Jilid sekian, halaman sekian, baris sekian di Musnad'. Sampai ke barisnya (saya sebutkan). Saya membuat orang berwaham (mengira) bahwa saya hafal Musnad Ahmad... Syaikh pun pergi mengambil Musnad, beliau melihat, meneliti - halamannya penuh dan panjang -. Beliau meneliti dan menemukan haditsnya. Berarti koreksi saya benar."
Syaikh Masyhur: "Syaikh bertanya kepada saya satu pertanyaan. Beliau berkata: 'Bagaimana caranya engkau bisa menemukan hadits ini di Musnad Ahmad?'. Bagaimana saya menemukannya di Musnad Ahmad? Saat itu - beberapa hari sebelumnya - baru saja dicetak kitab Fahras Athraf Musnad Al-Imam Ahmad karya Yusuf Mar'asyi, seorang alim dari Lebanon. Beliau membuat buku (indeks), lalu saya mengecek pada bagian Athraf (ujung hadits), muncullah haditsnya. Keluar jilid dan halamannya. Maka saya mengeceknya, ternyata shahih (ada). Saya katakan (kepada Syaikh): 'Saya mencarinya lewat Athraf Musnad Imam Ahmad'."
Syaikh Masyhur: "Beliau (Syaikh Al-Albani) berkata: 'Adapun saya, maka saya telah membaca Musnad Abi Hurairah secara kamil (utuh) dari awal sampai akhir, sambil saya mencari (hadits itu), sampai mataku menjadi kabur (lelah) darinya'.
Maka hari ini, orang yang mengoreksi Syaikh dengan melakukan 'klik-klik' (pencarian digital) ini... (lalu berkata) Syaikh salah! (Ketahuilah) Syaikh salah, tapi sarana yang engkau gunakan untuk mendapatkan ilmu berbeda dengan sarana yang dimiliki Syaikh dahulu. Berilah uzur (alasan) untuknya! Beradablah bersamanya! Koreksilah dia, tapi beradablah bersamanya!"
Syaikh Masyhur: "Bicaralah dengan ucapan yang beradab. Hari ini mayoritas penuntut ilmu hanya 'menekan tombol', dia bukan ulama, dia bahkan tidak tahu ilmu aslinya. Dia hanya tahu sarana pencarian di komputer. Dia tidak tahu apa-apa selain itu, tapi mengklaim sebagai penuntut ilmu. Penuntut ilmu itu (seharusnya) menjaga sarana/metode yang dipakai ulama kita terdahulu.
Dan ini adalah perkara yang mana koreksi di dalamnya sah bagi seluruh ulama (siapapun boleh dikoreksi). Tapi (ingat), manusia yang pertama... Siapakah manusia yang pertama? Adam. Maka Adam adalah 'manusia yang pertama' (bapak manusia). 'Alaihi wa 'ala Nabiyyina afdhalus shalatu wassalam. Maka jika engkau ingin mengoreksi salah seorang ahli ilmu, hargailah; apa saranamu dan apa sarananya. Dan beradablah."
Syaikh Masyhur: "Jangan menampakkan koreksi (istidrak) dengan format yang menunjukkan kurang ajar (kurang adab). Atau engkau menampakkan kepada manusia bahwa engkau berada di atas orang yang engkau koreksi itu. Seandainya Allah 'Azza wa Jalla mengumpulkanmu dengannya (bertemu langsung), niscaya engkau akan segan kepadanya, dan engkau tidak akan mampu berbicara satu kata pun di hadapannya. Saya pernah bersama sebagian pembesar ulama Kerajaan Arab Saudi di suatu tempat, lalu terjadi diskusi antara saya dan beliau - beliau ulama terkenal -. Saya berkata - sambil ingin lari dari perdebatan, saat itu saya masih pemula dan sampai sekarang masih pemula - saya katakan: 'Wahai Syaikh, Guru kami Syaikh Al-Albani tidak jauh dari kita (posisinya), mari kita telepon beliau. Syaikh pasti senang dengan keberadaanmu. Engkau datang ke Yordania, kunjungilah beliau, dan kita bahas masalah yang sedang engkau koreksi kepada saya ini'."
Syaikh Masyhur: "Maka beliau (Ulama Saudi itu) tertawa. Saya heran dengan sikapnya. Beliau berkata: 'Kalau saya pergi ke Syaikh Al-Albani dan duduk di hadapannya, saya tidak akan mampu membuka mulutku di depannya. Saya tidak mampu berbicara satu kata pun di depan Syaikh Al-Albani rahimahullah'. Maka sebagian orang yang menyombongkan diri dalam berbicara tentang ulama - nsaya tidak mengatakan Syaikh Al-Albani secara khusus, saya katakan seluruh ulama umat ini - kewajiban kita adalah menghormati ulama umat."
Syaikh Masyhur: "Dan hendaknya kita mencontoh kaidah yang telah menjadi syiar Ahlus Sunnah, yang sering diulang oleh Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyyah): 'Ahlus Sunnah adalah orang yang paling tahu tentang kebenaran, dan paling sayang kepada makhluk (manusia)'. Jika engkau menemukan orang salah, carikanlah uzur untuknya. Istirahatkan kepalamu, istirahatkan hatimu. Jangan sibukkan akalmu, waktumu, dan mengerahkan usaha besar untuk mencari-cari kesalahan orang. Istirahatkan dirimu. Carilah uzur dan tenangkan dirimu. Maka engkau (seharusnya) menjadi orang yang paling sayang kepada makhluk. Namun, kasih sayangmu kepada makhluk tidak menghalangimu untuk menginginkan kebenaran. Karena kebenaran itu di atas segalanya. Akan tetapi, engkau wajib untuk menjadi orang yang beradab."
Syaikh Masyhur: "Baik, saya katakan kepada Akh ini, buka lagi (kitabnya). Saya bacakan: 'Wa idza halaltum fash-thaadu' (Dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji/tahallul, maka bolehlah berburu). Ini ucapan Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Beliau berkata: 'Ayat Wa idza halaltum fash-thaadu', artinya jika kalian telah selesai dari ihram kalian dan telah bertahallul darinya, maka Kami (Allah) telah membolehkan bagi kalian apa yang tadinya haram atas kalian saat kondisi ihram berupa berburu. Dan ini adalah perintah setelah larangan (amrun ba'dal hadzr). Dan yang shahih, yang ditetapkan berdasarkan As-Sabr...'"
Syaikh Masyhur: "Ini ibarat (kalimat) yang jika engkau temukan seorang alim mengatakan 'alas-Sabr', gigitlah dengan gigi gerahammu (pegang erat). Apa arti 'alladzi yatsbutu alas-sabr'? Artinya: pemeriksaan (istiqra') yang sempurna. Artinya dia telah memeriksa seluruh perintah-perintah (dalam dalil) yang didahului oleh larangan. (Kesimpulannya) Inilah yang benar (shawab). Kalimat yang indah: 'Dan yang shahih yang ditetapkan berdasarkan As-Sabr (penelitian mendalam), (huruf Sin), bahwasanya hukumnya dikembalikan kepada keadaan sebelum adanya larangan'. Jika sebelum dilarang hukumnya wajib, maka (setelah perintah paca larangan) kembali wajib. Jika sunnah (mustahab), maka kembali sunnah. Jika mubah, maka kembali mubah. Barangsiapa yang mengatakan bahwa (perintah setelah larangan) itu bermakna wajib (secara mutlak), maka pendapatnya terbantahkan oleh banyak ayat. Dan barangsiapa yang mengatakan itu (hanya) untuk kebolehan (ibahah), maka terbantahkan juga oleh ayat-ayat lain. Dan pendapat yang menyatukan seluruh dalil adalah yang kami sebutkan ini, sebagaimana dipilih oleh sebagian ulama Ushul. Wallahu a'lam."
Syaikh Masyhur: "Ini adalah ucapan yang sangat berharga (nafis) dari Ibnu Katsir, yang menunjukkan kefaqihannya dan bahwa beliau adalah seorang ahli Ushul. Imam Ibnu Katsir adalah Imam besar di kalangan Fuqaha dan Muhaddits yang ulung. Dan sebab kejeniusannya dalam hadits, siapa (sebabnya)? Mertuanya. Siapa mertuanya? Kalian tahu Al-Hama? Ayah dari istri. Ayah istrinya adalah Al-Mizzi (Al-Hafizh Yusuf Al-Mizzi), Abul Hajjaj Al-Mizzi. Beliau menikahkan putrinya (dengan Ibnu Katsir), dan putrinya itu adalah seorang wanita ahli hadits (Muhadditsah). Istri Ibnu Katsir adalah Muhadditsah. Saya menemukan banyak sama'at (catatan periwayatan hadits) milik Ibnu Katsir yang bersamanya (istrinya), dan bersama mertuanya Al-Mizzi."
Syaikh Masyhur: "Maka orang-orang dahulu berada di atas kebaikan. Wahai pemuda, jika engkau belum menikah, buatlah lingkungan ilmiyyah melalui istrimu. Carilah nasab ahli ilmu, (atau) nikahilah wanita yang faqihah, terpelajar, agar engkau bisa mengambil faedah dan menjaga tambahan ilmumu. Dan bukanlah suatu aib jika istri seseorang itu menjadi 'Syaikhah' (guru) baginya. Apakah itu aib? Itu bukan aib. Menikahi wanita yang lebih alim dariku dan dia mengajariku. Sebagaimana yang terjadi pada Said bin Al-Musayyib. Dia pergi (menemui muridnya yang baru menikahi putrinya). Muridnya sudah masuk menemui istrinya. Muridnya bertanya: 'Mau kemana?'. Istrinya berkata: 'Mau kemana?'. Murid itu menjawab: 'Ke majelis ayahmu (untuk belajar)'. Istrinya berkata: 'Duduklah, ilmu ayahku ada di dadaku'."
Syaikh Masyhur: "Maka ilmu di sisi mereka adalah sesuatu yang paling mahal. Tidak ada sesuatu yang lebih mahal dari ilmu. Maka engkau, bersemangatlah untuk belajar dan menambah ilmu. Walaupun melalui nasab pernikahan. Semoga Allah memudahkanmu menjadi seorang alim. Lihatlah para Tabi'in, dan lihatlah para ahli tafsir dari kalangan Tabi'in. Semuanya dahulu adalah budak (abid). Maula (bekas budak) Abdullah bin Abbas (Ikrimah), Maula Abdullah bin Mas'ud. Mereka adalah ahli tafsir. Mereka terwarnai dengan ilmu tuan-tuan mereka. Tuan mereka adalah ahli tafsir, maka jadilah mereka ahli tafsir. Lihatlah di zaman modern, Asy-Syinqithi rahimahullah, Muhammad Al-Amin (penulis Adhwa'ul Bayan). Ketika beliau memerdekakan budaknya, budak itu menangis. Budak itu memohon kepadanya: 'Biarkan saya tetap menjadi budak (agar bisa terus bersamamu)'. Bagaimana supaya saya bisa belajar? Muhammad Al-Amin duduk bersama ulama-ulama besar, mengunjunginya dalam berbagai permasalahan, dan dia (si budak) melayani sambil mendengarkan, hingga dia menjadi alim yang besar."
Syaikh Masyhur: "Maka dia memohon kepada tuannya agar tetap membiarkannya sebagai budak. Dan perbudakannya (dalam kondisi berilmu) itu lebih baik daripada kemerdekaannya (tanpa ilmu). Perbudakannya dengan ilmu, ibadah, ketaatan, dan dzikir lebih baik daripada kemerdekaan tanpa hal-hal tersebut. Oleh karena itu, orang-orang kafir ketika mencela kita dengan isu budak dan hamba sahaya, mereka tidak paham. Mereka tidak memahami pemahaman syar'i yang benar. Oleh karena itu, ketika (ilmu) memimpin di zaman Bani Abbas dan Bani Umayyah sebelumnya, para budak menjadi pemimpin, dan nilai para budak wanita (imaa') naik drastis. Nilai harganya naik tinggi disebabkan (didikan) tokoh-tokoh ulama dari kalangan Tabi'in dan orang-orang setelahnya dari kalangan hamba sahaya. Semoga Allah memberi taufik kepada kita dan kalian... Kita cukupkan sekian, Jazakumullahu khairan. Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik."
- Abu Shafwan Taufiq Usman -
https://www.facebook.com/share/v/1C71eoGxSb/