Di antara yang menguatkan konsep ini ialah fatwa Al-Imäm Mälik (w. 179 H) sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Qurtubiyy dalam tafsir beliau":
وقد روى ابن نافع عن مالك في الإمام لا يصوم لرؤية الهلال ولا يفطر لرؤيته وإنما يصوم ويفطر على الحساب: إنه لا يقتدى به ولا يتبع .
Artinya:
"Sungguh Ibnu Näfi telah meriwayatkan dari Mälik tentang Ulil Amri yang tidak berpuasa Ramadan dengan berpatokan pada melihat hilal serta juga tidak beridulfitri dengan berpatokan pada melihat hilal, akan tetapi ia berpuasa Ramadan dan beridulfitri dengan berpatokan pada hisab. Beliau memfatwakan: Tidak boleh diteladani dan tidak boleh diikuti."
Di sini Al-Imam Mälik melarang mengikuti penentuan awal Ramadan dan Idulfitri yang dilakukan oleh Ulil Amri manakala standarnya keliru menurut beliau. Tidaklah beliau di sini memfatwakan agar mengikuti penentuan awal Ramadan dan Idulfitri versi Ulil Amri sekalipun salah standar. Karena itulah, manakala ada suatu ormas Islam memilih untuk mengawali Ramadan dan berlebaran tidak sesuai dengan penentuan Ulil Amri karena beralasan bahwa standar yang dijadikan patokan penentuan awal Ramadan dan lebaran oleh Ulil Amri itu keliru menurut ormas Islam yang bersangkutan, tidaklah kemudian ormas Islam ini dicap melakukan
Al-Qurtubiyy, Al-Jami Ahkamil Qur-an jld. III (Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 2006), hlm. 155.
9
kesesatan akidah ataupun penyimpangan uyal (perkara prinsipil dalam Islam) atau bahkan khurüj (pemberontakan/ketidaktaatan) pada Ulil Amri, sebagaimana kita sepakat bahwa Al-Imām Mälik dalam fatwa beliau di atas tidaklah sedang mengajarkan kesesatan akidah ataupun penyimpangan uşül (perkara prinsipil dalam Islam) atau bahkan khurüj (pemberontakan/ketidaktaatan) pada Ulil Amri.
Simpulan
Simpulan yang penulis dapatkan setelah melihat tiga kutipan dalam kitab akidah di atas mengenai salat 'Id bersama Ulil Amri yg selalu menyebutkan frase "abraran känü aw fujjaran" atau yg semakna, juga ta'lil dalam syarahan para ulama tadi beserta fatwa Al-Imam Malik, nampak bahwa "tidak ber-'Id bersama Ulil Amri" itu baru masuk soalan akidah/usül (perkara prinsipil dalam Islam) manakala didasari pahaman Khawarij (yg memandang tak wajib taat dan tak sah salat di belakang Ulil Amri fasik) atau Syi'ah Rafidah (yg memandang Ulil Amri haruslah ma'shuum, jika tidak, maka tidak wajib diikuti serta tak sah pelaksanaan salat 'Id di belakang mereka), maka penyelisihan ormas Islam terhadap penentuan hari lebaran terhadap penentuan versi Ulil Amri, jika memang dinilai salah atau tak seyogianya dilakukan- masih dalam lingkup fiqhiyy-far'iyy, bukan 'aqadiyy-usüliyy, sebab alasannya ialah alasan bernuansa murni fikih non-ijmä yaitu tentang keräjihan standar penentuan awal bulan. Wallahu a'lam.