[ Lebaranmu kapan ? ]
Tulisan ini saya sampaikan sebagai respon atas dinamika yang berkembang di beberapa grup WhatsApp yang saya ikuti, di mana perbedaan penetapan hari raya Idul Fitri mulai diarahkan ke ranah manhaj, beda dikit langsung dicurigai manhajnya..
bahkan cenderung dipertajam dengan penilaian-penilaian yang tidak proporsional.
Perlu dipahami bahwa perbedaan penetapan hari raya bukanlah bentuk ketidaktaatan kepada pemerintah.
Hasil sidang itsbat yang dilakukan pemerintah pada hakikatnya bersifat informatif dan administratif, yaitu sebagai penetapan resmi untuk menjadi panduan umum bagi masyarakat. Ia tidak serta-merta menjadi bentuk ilzam (kewajiban mutlak) dalam wilayah ijtihad fiqhiyyah yang memang membuka ruang perbedaan pendapat.
Di sisi lain, mereka yang melaksanakan Idul Fitri lebih dahulu berdasarkan keyakinan terhadap rukyat, baik dengan pendekatan lokal maupun global, juga berada dalam koridor yang dibenarkan secara syar’i, serta tetap mendapatkan perlindungan negara dalam menjalankan keyakinannya.
Dalam khazanah fiqh Islam, perbedaan seperti ini termasuk dalam kategori khilaf mu’tabar (perbedaan pendapat yang diakui), yang telah berlangsung sejak berabad-abad di kalangan para ulama.
Sebagian ulama kontemporer, seperti Syaikh Al Albani, berpendapat dengan konsep rukyat global, yaitu apabila hilal telah terlihat di suatu wilayah, maka hal tersebut dapat berlaku bagi kaum muslimin secara umum.
Oleh karena itu, tidak tepat menjadikan perbedaan hari raya sebagai indikator perbedaan manhaj, apalagi sampai mengklaim pihak lain menyelisihi manhaj tertentu. Standar penilaian manhaj salaf tidak dibangun di atas persoalan fiqh yang bersifat ijtihadiyyah, melainkan pada aspek aqidah dan ushul manhaj yang bersifat prinsipil.
Adapun secara pribadi, saya memilih mengikuti keputusan pemerintah, bukan karena alasan manhaj, tetapi lebih kepada pertimbangan kemaslahatan di antaranya agar dapat berhari raya bersama mayoritas keluarga dan masyarakat.
Maka, yang berlebaran lebih dahulu tidak serta-merta keluar dari manhaj salaf, dan yang berlebaran besok juga tidak otomatis lebih merepresentasikan manhaj tersebut.
Sudah semestinya kita menyikapi perbedaan ini dengan kedewasaan ilmiah dan kelapangan dada. Menjaga persatuan umat dan adab dalam berkhilaf jauh lebih utama daripada memperuncing perbedaan yang sejak lama sudah ada.
🖌️Ayahnya Muallim
https://www.facebook.com/share/1CyKWYyNRD/