Sabtu, 21 Maret 2026

Di titik itu saya benar-benar bertanya:apakah ini memang yang dimaksud oleh para ulama?

Sejak muda dulu saya cukup rajin membaca kitab-kitab akidah salaf yang bersanad.
Di dalamnya sering ditemukan ungkapan-ungkapan yang sangat tegas—bahkan keras—terhadap ahli bid’ah:

“Jika bertemu ahli bid’ah, ambil jalan lain”

“Tutup telinga dari mereka”

“Ahli bid’ah lebih buruk dari ahli maksiat”

bahkan anjuran untuk memboikot

Ungkapan-ungkapan seperti ini bisa kita temukan dalam kitab-kitab seperti:
Syarh as-Sunnah (Al-Barbahari),
As-Sunnah (Al-Lalika’i),
Aqidah Salaf Ashab al-Hadits (Ash-Shabuni),
Asy-Syari’ah (Al-Ajurri),
As-Sunnah (Imam Ahmad),
hingga Kitab at-Tauhid (Ibnu Khuzaimah), dan lainnya.

Dulu saya sempat berpikir,
kalau semua ini dipahami secara literal dan diterapkan apa adanya dalam kehidupan sosial… rasanya akan sangat keras.

Dan ternyata, dalam realita, saya juga melihat praktiknya:
saling tahdzir, saling boikot, bahkan sampai memutus hubungan.
Saya dan istri pun pernah merasakannya langsung.

Di titik itu saya benar-benar bertanya:
apakah ini memang yang dimaksud oleh para ulama?

Saya pun berusaha husnudzan, lalu membaca lebih luas, melihat penjelasan yang lebih lengkap.

Dan ternyata… semua ada konteksnya.

Ungkapan-ungkapan keras tersebut banyak muncul dalam konteks:

tahdzir terhadap penyimpangan yang berbahaya

kondisi fitnah pemikiran yang kuat

dan sebagai bentuk penjagaan aqidah

Namun bukan berarti diterapkan secara seragam pada setiap orang, setiap kondisi, dan setiap zaman.

Menariknya, ketika membaca Aqidah Wasithiyah karya Ibnu Taimiyah, nuansanya berbeda.
Lebih sistematis, lebih tenang, tanpa dominasi ungkapan-ungkapan keras seperti sebelumnya.

Di sini saya mulai memahami bahwa manhaj salaf itu utuh:
bukan hanya ketegasan, tapi juga hikmah.
bukan hanya tahdzir, tapi juga melihat maslahat dan mafsadat.
bukan hanya menjaga aqidah, tapi juga menjaga persatuan.

Karena pada akhirnya:
hajr (boikot) itu adalah wasilah, bukan tujuan.
Jika justru menimbulkan kerusakan yang lebih besar, maka perlu ditinjau kembali.

Dari perjalanan ini saya sampai pada satu kesimpulan sederhana:

📌 Teks itu penting, tapi konteks membuatnya hidup
📌 Ketegasan itu ada tempatnya, hikmah juga ada porsinya
📌 Dan memahami ulama tidak cukup dengan satu kutipan, tapi dengan keseluruhan manhaj mereka

Menjaga aqidah itu wajib,
tapi menjaga hati dan persatuan kaum muslimin juga bagian dari syariat.
Ustadz noor akhmad setiawan
https://www.facebook.com/share/p/1Dwxy3Ycg9/