Kamis, 19 Maret 2026

Pendapat Syaikh Sa'd al-Khatslan tentang Penggunaan Hisab untuk Penafian Klaim Rukyat

Pendapat Syaikh Sa'd al-Khatslan tentang Penggunaan Hisab untuk Penafian Klaim Rukyat 

☆☆☆ 

Menambahkan status sebelumnya, bahwa terdapat nukilan pendapat dari Syaikh Ibnu 'Utsaimin mengenai hisab dapat dijadikan acuan untuk menafikan klaim rukyat, hal senada juga disampaikan oleh Syaikh Sa'd al-Khatslan—sebagaimana tercantum dalam situsnya. 

Link: https://saadalkhathlan.com/scientific-series/lessons/32218  

Syaikh Sa'd al-Khatslan menyatakan: 

وقد أُثِر عن مُطرِّف من التابعين، وأُثِر عن ابن السبكي، وبعض فقهاء الشافعية أنهم قالوا: يُعتمَد على الحساب الفلكي في النفي دون الإثبات. وحدَّثني مَن أثق به من أكثر من شخص من طلاب الشيخ محمد بن عثيمين رحمه الله تعالى أنه يقول بهذا القول، لكن لم أجد هذا في كتبه، لكن اتصلت بأحد خواصِّ طلابه؛ فقال: "سمعتُه أكثر من مرة يُقرِّر هذا القول (أنه يُعتمَد على الحساب الفلكي في النفي دون الإثبات)، وسألتُ أيضًا تلميذًا آخر من تلاميذه، فأكَّد ذلك.

وأيضًا ممَّن قال به: الشيخ أحمد شاكر، وله رسالة معروفة في هذا.

والذي يظهر -والله أعلم-: أن الحساب الفلكي منه ما هو قطعيٌّ، ومنه ما هو دون ذلك؛ فما لم يكن قطعيًّا لا يُعتمَد عليه مطلقًا، وأما ما كان قطعيًّا فالذي يظهر أنه يُعتمَد عليه في النفي دون الإثبات. ومن ذلك مسألة شروق وغروب القمر؛ فشروق وغروب القمر يُحسَب الآن بدقة، وحسابه قطعيٌّ كحساب غروب وشروق الشمس. وقد تابعتُ عدةَ سنوات شروق وغروب القمر، ولم أرَ خطأً فيه مرةً من المرات -ولو دقيقة واحدة- وهذا مما يؤكد قطعيَّته

"Telah dinukil dari Mutharrif—seorang Tabi‘in—juga dinukil dari Ibn as-Subki dan sebagian ulama fikih mazhab Syafi'i, bahwa mereka mengatakan: hisab astronomis dijadikan acuan dalam penafian, bukan dalam penetapan.

Juga telah diceritakan kepada saya dari orang yang saya percayai, dari murid-murid Syaikh Ibnu ‘Utsaimin (rahimahullah), bahwa beliau berpendapat demikian. Meskipun, saya belum menemukan hal tersebut dalam kitab-kitab beliau. Namun, saya menghubungi salah seorang murid dekat beliau, lalu ia berkata: 'Aku mendengar beliau lebih dari sekali menegaskan pendapat tersebut, yaitu bahwa hisab astronomis dijadikan acuan dalam penafian (klaim rukyat), bukan dalam penetapan (awal bulan).' Saya juga sempat bertanya kepada murid beliau lainnya, yang juga menegaskan hal yang sama.

Termasuk yang juga berpendapat demikian adalah Syaikh Ahmad Syakir, dan beliau memiliki risalah yang cukup populer tentang masalah ini.

Yang tampak (bagi saya)—wallahu a‘lam—bahwa hisab astronomis itu ada yang bersifat pasti (qath‘i), dan ada yang levelnya di bawah itu. Maka yang tidak bersifat pasti, sama sekali tidak dapat dijadikan acuan. Adapun yang bersifat pasti, maka yang tampak adalah bahwa ia dijadikan acuan dalam penafian, bukan dalam penetapan.

Di antara contohnya adalah masalah terbit dan tenggelamnya bulan. Sesungguhnya terbit dan tenggelamnya bulan sekarang dapat dihitung dengan akurat, dan perhitungannya bersifat pasti, sebagaimana perhitungan tenggelam dan terbitnya matahari. Saya telah mengikuti data terbit dan tenggelamnya bulan selama beberapa tahun, dan saya tidak pernah melihat kesalahan padanya walau sekali pun—meski hanya satu menit pun. Ini termasuk hal yang menegaskan kepastiannya." 

☆☆☆ 

Note: Di antara yang menjadi catatan dari uraian beliau di atas, bahwa beliau menisbatkan Syaikh Ahmad Syakir berpendapat hisab digunakan untuk penafian. Ini kurang akurat. Saya sejak lama telah membaca tuntas risalah Syaikh Ahmad Syakir dimaksud dan juga telah populer bahwa beliau berpendapat hisab digunakan untuk penetapan (awal bulan), bukan sekadar penafian (klaim rukyat). 

Allahu a'lam. 

adniku 260320