Kamis, 19 Maret 2026

Mengapa Hilal Harus 3° dan Elongasi 6,4°?

Mengapa Hilal Harus 3° dan Elongasi 6,4°?

Sering muncul pertanyaan:
“Kalau 1 derajat saja sudah menandakan bulan baru, kenapa harus menunggu sampai 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat?”

Mari kita pahami secara bertahap.

1. Apa Itu Bulan Baru (New Moon)?
Dalam astronomi, bulan baru (new moon) terjadi ketika Matahari, Bulan, dan Bumi berada hampir segaris. Pada kondisi ini:

Sisi Bulan yang menghadap ke Bumi tidak terkena cahaya Matahari
Akibatnya, Bulan tidak terlihat sama sekali

Jadi benar, secara astronomi:
Bahkan pada 0 derajat, bulan sudah dianggap “baru”
Tidak harus menunggu 1 derajat
Namun, ini masih dalam ranah perhitungan (teori), bukan pengamatan.

2. Hilal: Bukan Sekadar Bulan Baru
Dalam Islam, yang menjadi patokan awal bulan hijriah adalah hilal, yaitu:
> Bulan sabit sangat tipis yang sudah bisa terlihat setelah matahari terbenam

Artinya:
Yang dicari bukan sekadar bulan sudah ada
Tapi bulan yang bisa dilihat

Di sinilah perbedaan muncul:
Hisab (perhitungan) → digunakan oleh Muhammadiyah
Rukyat (pengamatan) → digunakan oleh pemerintah

3. Mengapa Tidak Semua Bulan Baru Bisa Terlihat?
Walaupun bulan sudah “lahir”, belum tentu bisa dilihat. Kenapa?

Karena beberapa faktor:
Posisi Bulan masih terlalu dekat dengan Matahari
Cahaya Bulan kalah terang dibanding cahaya senja
Ketinggian Bulan masih terlalu rendah di ufuk
Kondisi atmosfer (kabut, awan, dll.)

4. Apa Itu Elongasi?
Elongasi adalah:
> Jarak sudut antara Bulan dan Matahari dilihat dari Bumi

Semakin besar elongasi:
Bulan semakin jauh dari Matahari di langit
Cahaya hilal semakin mudah terlihat

Sebaliknya:
Elongasi kecil → hilal sulit atau mustahil terlihat

5. Kenapa Harus 3° dan 6,4°?
Angka ini bukan sembarangan, melainkan hasil:
Penelitian astronomi bertahun-tahun
Data rukyat di berbagai negara
Evaluasi kegagalan dan keberhasilan melihat hilal

Kesimpulan:
Tinggi hilal < 3° → hampir mustahil terlihat
Elongasi < 6,4° → terlalu dekat dengan Matahari

Maka ditetapkanlah kriteria:
> Tinggi minimal 3° dan elongasi minimal 6,4°

Ini disebut sebagai batas imkanur rukyat (kemungkinan terlihatnya hilal).

6. Kesimpulan Sederhana
0° → Bulan sudah ada (teori)
3° & 6,4° → Bulan mungkin terlihat (praktek)

Sumber Rujukan
Kementerian Agama Republik Indonesia
Kriteria MABIMS (Brunei, Malaysia, Indonesia, Singapura)