Penentuan Idul Fithri tahun ini diperkirakan akan cukup rigid, mengingat secara hitungan astronomi (hisab) hasilnya masih dibawah kriteria IR Neo-MABIMS, namun sudah memenuhi kriteria IR old-MABIMS.
MUI pernah mengeluarkan fatwa bahwa jika hilal masih dibawah kriteria IR, maka kesaksian ru'yatul hilal boleh (bahkan wajib) ditolak.
Meski demikian, ketinggian hilal disebelah barat Indonesia sudah benar-benar tinggi, di Arab Saudi, misalnya, ketinggiannya sudah lebih dari 5° diatas ufuk, jauh diatas kriteria IR Neo-MABIMS yang 3°.
Kemungkinan mayoritas masyarakat muslim dunia akan berlebaran Idul Fithri 1447 H pada hari Jum'at tanggal 20 Maret 2026. Kecuali negara² MABIMS, itupun jika semuanya konsisten pada kesepakatan kriteria IR nya. Jika Malaysia dan negara tetangga lain tiba-tiba keluar dari kriteria IR Neo-MABIMS maka kemungkinan Indonesia menjadi negara "minoritas" yang lebarannya hari Sabtu, tanggal 21 Maret 2026.
Dalam 4 tahun terakhir saja, tercatat sudah terjadi 4 kali perbedaan antara Indonesia dengan Malaysia:
1. Pada 1443 H/2022, Indonesia merayakan Idul Adha pada 10 Juli, sedangkan Malaysia pada 9 Juli.
2. Pada 1444 H/2023, Indonesia menetapkan Idul Adha 29 Juni dan Malaysia 28 Juni.
3. Pada 1446 H/2025, Indonesia menetapkan awal ramadhan 1 Maret 2025 dan Malaysia 2 Maret 2025.
4. Pada 1446 H/2025, Indonesia menetapkan Idul Adha 6 Juni 2026 dan Malaysia 7 Juni 2026.
Fakta ini tentu saja mematahkan klaim bahwa negara Asia Tenggara itu masih satu rumpun mathla'.
Wallahu a'lam.
https://www.facebook.com/share/1D3Dbix1aJ/
Ustadz abul abbas aminullah