Jika Pakai Standar Imkan Rukyat, Saudi itu 10 Derajat
Awal Ramadhan lalu ngobrol dengan astronom asal Indonesia yang sedang menempuh studi S3 bidang Ilmu Falak di King Abdul Aziz University, Jeddah.
Beliau adalah Ustadz Andi Muhammad Akhyar, putera asli Soppeng, Sulawesi Selatan.
Ustadz Akhyar, demikian biasa disapa, waktu penentuan awal Ramadhan lalu ikut hadir ke Tumair, datang berdampingan dengan Syaikh Mut'ib Al Barghasy, sang pemilik mata tajam dalam dunia perhilalan di Saudi.
Menurut Ustadz Akhyar, berdasarkan pengamatan langsung, rukyatul hilal di Saudi ini lebih sulit dari Indonesia, karena itu, jika pakai metode imkan rukyat seperti di kita, minimal 10 derajat.
"Bukan 3 derajat ya, tapi Saudi ini mestinya 10 derajat," kata anggota BHR Kemenag Sulawesi Selatan ini.
Kenapa visibilitasnya sampai 10 derajat?
Ustadz Akhyar mengungkapkan, tingkat kepulan debu di tanah Saudi sangat tinggi, sehingga sulit bagi perukyat untuk melihat hilal.
Saat ditanya, kenapa terbukti banyak perukyat di Saudi yang bisa melihat hilal, padahal posisinya sangat rendah?.
"Aturan di Saudi sangat simpel. Mereka mengamalkan sunnah dari hadits shumu liru'yatihi," tegas Ustadz Akhyar.
Meskipun kadang bertentangan dengan ilmu astronomi, lanjut beliau, hasil rukyatul hilal tetap dijadikan pegangan.
"Sesimpel itu menentukan awal puasa dan hari raya," tandas beliau.
Bayangkan, kalau Saudi harus ikutan menerapkan metode imkan rukyat, itu harus 10 derajat. Amat tinggi kali hilal itu.
Alhamdulillah, pemerintah Saudi masih berpegang pada tradisi klasik dalam hal perukyatan, meskipun dianggap ketinggalan zaman oleh para astronom pembela imkan rukyat 3 derajat.
--
Mekkah, 1 Syawal 1447
Selamat Idul Fitri 1447 H. Taqabbalallahu minna wa minkum.
--
Foto: Ngobrol bareng Ustadz Akhyar tentang hilal, di Islamic Center Al Suwaidi, Riyadh, awal Ramadhan lalu.