Kader Muhammadiyah menyikapi Asy'ariyyah dan Wahhaabiyyah
Al-Ustaadz Nur Fajri Ramadhaan, Lc., M.A. (Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Khusus Ibukota Jakarta) -hafizhahullaah- menunjukkan beberapa prinsip untuk kader Muhammadiyah:
(1) Prinsip pertama: Muhammadiyah tidak mengikatkan diri untuk mengikuti Asy'ariyyah dan tidak pula mengikatkan diri untuk mengikuti Wahhaabiyyah, melainkan Muhammadiyah menarjih-narjih pendapat di antara keduanya
Beliau -hafizhahullaah- menyebutkan:
"Muhammadiyah melakukan tarjih dalam akidah sebagaimana dalam fikih. Siapa yang pandangannya menurut Muhammadiyah lebih dekat kepada Al-Qur'an dan Sunnah, itulah yang diambil, baik dari Wahhabi ataupun Asy'ariyy. Ada fatwa Tarjih yg eksplisit soal ini tahun 2022."
(2) Prinsip kedua: Dalam komentar-komentar negatif dan saling serang-menyerang serta saling menyesat-nyesatkan antara Asy'ariyyah dan Wahhaabiyyah, jangan langsung percaya informasi atau tuduhan dari Wahhaabii terhadap Asy'arii, begitupula jangan langsung percaya informasi dan tuduhan dari Asy'arii untuk Wahhaabii, karena informasi dan tuduhan dari pihak yang bersengketa banyak bias, tidak objektif, dan bisa jadi dusta, maka kader Muhammadiyah tidak boleh menelan mentah-mentah, dan harus crosscheck dari sumber asli dan menealaahnya tanpa bias ketidak-sukaan
Beliau -hafizhahullaah- berkata:
"Kita kader Persyarikatan harus cerdas, Jangan percaya semua yang Wahhabi katakan tentang Asy'ariyyah, Juga jangan percaya semua yang Asy'ariyyah katakan tentang Wahhabi"
(3) Prinsip Ketiga: Memahami dan menyadari bahwa yang wajib adalah Salafush Shaalih, sedangkan kelompok semisal Asy'ariyyah ataupun Wahhaabiyyah hanyalah hasil-hasil dari ijtihaad agar pemahaman keislaman lebih dekat kepada pemahaman Salafush Shaalih, baik Asy'arii maupun Wahhaabii, meskipun berbeda, kedua-duanya tetaplah kelompok yang berusaha dan berjuang dalam memahami Al-Qur'aan dan Al-Hadiits dengan pemahaman yang paling dekat dan benar menurut Salafush Shaalih
Beliau -hafizhahullaah- berkata:
"Asy'ariyyah dan Wahhabi dua2nya memang baru ada setelah Salafushshalih. Tapi kedua2nya berusaha dan berijtihad supaya berjalan di atas jalannya Salafushshalih"
(4) Prinsip Keempat: Hasil penelitian al-Ustaadz Nur Fajri Ramadhan, adalah, bahwa dalam qaul-qaul Ulama Asy'ariyyah tentang sifat-sifat Allah, disimpulkan mereka bukanlah mu'aththilah (ahlut-ta'thiil), begitu pula juga dalam qaul-qaul Ulama Wahhaabiyyah tentang sifat-sifat Allah, disimpulkan mereka bukanlah musyabihah (ahlut-tasybiih)
Beliau -hafizhahullaah- berkata:
"Asy'ariyyah tidak melakukan Ta'thiil/Tahrif, Wahhabi pun tidak melakukan Tajsim/Tasybih"