🔰 *Tiga Pilar Pengawal Dakwah Salafiyah dari Kader Al-Irsyad*
_Pada masa tersebut, Al-Irsyad menghadapi tantangan serius berupa stagnasi regenerasi ulama dari internal organisasi._
_Muncul kekhawatiran bahwa semangat keilmuan yang dahulu dikobarkan oleh pendirinya, Syaikh Ahmad Surkati, perlahan mulai meredup dan tidak lagi menghasilkan kader ulama dalam jumlah dan kualitas yang memadai._
_Menyadari keterbatasan institusi pendidikan internal dalam mencetak ulama secara cepat dan mendalam, Al-Irsyad mengambil keputusan strategis: mengirim kader-kader terbaik untuk menuntut ilmu ke institusi luar yang memiliki kekuatan manhaj, kedalaman dalil, dan tradisi keilmuan yang kokoh._
_Fokus utama diarahkan ke pusat-pusat keilmuan Islam di Timur Tengah serta afiliasinya di Indonesia, seperti LIPIA Jakarta dan Universitas Islam Madinah._
_Dari proses kaderisasi strategis inilah lahir tiga figur sentral yang kemudian menjadi pilar pengawal dakwah Salafiyah dari rahim Al-Irsyad:_
1️⃣ _*Ustadz Ja’far Umar Thalib (rahimahullah)*_
_menempuh rihlah ilmiah ke Islamabad, Pakistan._
2️⃣ _*Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawwas (rahimahullah)*_
menuntut ilmu di Markaz Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Qashim, Arab Saudi.
3️⃣ _*Ustadz Yusuf Utsman Baisa (hafizhahullah)*_
_melanjutkan studi di Imam Mohammad Ibn Saud Islamic University, Riyadh, Arab Saudi._
_Ketiga tokoh ini bukan sekadar hasil dari proses kaderisasi, melainkan penanda arah baru dakwah dan keilmuan Al-Irsyad di Indonesia._
_Peran mereka menjadi tonggak penting dalam penguatan manhaj Salafiyah, pembaruan orientasi keilmuan, serta kesinambungan visi dakwah Al-Irsyad pada era modern._
_Jejak sejarah ini bukan hanya layak untuk dicatat, tetapi juga dijaga dan dilanjutkan sebagai amanah keilmuan dan dakwah bagi generasi berikutnya._
Diskusi bersama ustadz Ali Saman Hasan, Alumni PIA angkatan ke-2
https://www.facebook.com/share/17uECENh8C/