Selasa, 13 Januari 2026

JAGO MEMBACA KITAB GUNDUL, TETAPI SALAH DALAM BERAMAL

Edisi Bantahan

JAGO MEMBACA KITAB GUNDUL, TETAPI SALAH DALAM BERAMAL

Sebagian orang, kalau masalah membaca kitab gundul (kitab yang tidak ada harakatnya) nyaris tidak ada kekeliruan. Tidak satu pun bacaannya yang salah, marfu, manshub, majrur dan majzumnya benar semua (walaupun pasti ada saja yang keliru, namanya juga manusia), namun keliru dan salah dalam beramal. Amalnya penuh dengan kesyirikan, kebid'ahan dan kemaksiatan. Seperti orang yang saya SS ini.

Di zaman Imam Malik rahimahullah saja, ada orang yang mengkritisi bacaan kitab Imam Malik rahimahullah yang keliru di dalam membaca kitab (ini sekelas Imam Malik, seorang ulama dan orang arab asli, masih ada bacaan kitabnya yang salah, apalagi kaya kita-kita ini). Namun orang yang mengkritik bacaan kitab Imam Malik ini, rusak dalam amalannya. 

Berkata Malik bin Dinar rahimahullah

تلقى الرجل وما يلحن حرفا وعمله لحن كله

“Engkau jumpai ada orang yang satu huruf pun ia tidak keliru dalam berbahasa, namun amalannya keliru seluruhnya!” 

Dan berkata Ibrahim Bin Adham rahimahullah, 

أعربنا في الكلام فما نُلحن، ولحنا في الأعمال فما نُعْرِب

"Kami sangat teliti dalam berbicara dan kami tidak pernah keliru, tapi kami salah dalam beramal (tidak beramal) serta tidak mengintrospeksi diri." 

Sebagian orang yang zuhud berkata

لم نؤت من جهل ولكننا
نستر وجه العلم بالجهل
نكره أن نلحن في قولنا
ولا نبالي اللحن في الفعل

“Bukan kebodohan yang mendatangi kami,
Tetapi kamilah yang menyelubungi wajah ilmu dengan kebodohan,
Kami benci keliru dalam berucap,
Tetapi kami tidak memperdulikan kekeliruan dalam beramal.”

حضر رجل من الأشراف عليه ثوب حرير قال: فتكلم مالك بكلام لحن فيه قال: فقال: الشريف: ما كان لأبوي هذا درهمان ينفقان عليه ويعلمانه النحو قال: فسمع مالك كلام الشريف فقال: لأن تعرف ما يحل لك لبسه مما يحرم عليك خير لك من ضرب عبد الله زيدا وضرب زيد عبد الله" .

"Seorang dari kalangan terpandang dan berpakaian dari sutera, melewati majelis Imam Malik -rahimahullah-, lalu ia dapati sang imam melakukan kesalahan dalam tata bahasa Arab, maka ia pun berkata: “Kenapa kedua orang tuanya tidak mengeluarkan dua dirham saja supaya ia belajar nahwu?”

Berkata Imam Malik rahimahullah, 

لان تعرف ما يحل لك لبسه مما يحرم عليك خير لك من ضرب عبدالله زيدا، وضرب زيد عبدالله.

“Engkau tahu mana baju yang halal dan mana yang haram kau pakai, itu lebih baik bagimu daripada membedakan antara “Abdullah memukul Zaid” dan “Zaid memukul Abdullah”. 

Memang benar mempelajari bahasa arab, nahwu dan sharaf itu suatu keharusan, bahkan ada ulama yang mewajibkan belajar bahasa arab (silahkan baca di link ini (https://www.facebook.com/share/p/EXfpUcEyK8RzCuZ5/?mibextid=oFDknk). Namun kadang orang belajar bahasa Arab, dari kitab nahwu ke kitab nahwu yang lain, dari kitab sharaf yang satu pindah ke kitab sharaf berikutnya, membuat orang sibuk dan sombong. 

Berkata Qasim bin Mukhaymirah rahimahullah, 

تعلم النحو أوله شغل وآخره بغي

"Belajar Nahwu itu, awalnya adalah kesibukan dan akhirannya adalah kesombongan."  

Dan kita saksikan sekarang ini, sebagian orang yang pandai membaca kitab gundul, "Minta-minta di kuburan, sedekah bumi (menimbun kepala kerbau), sedekah laut (membuang sesajen dan melempar kambing hidup-hidup ke lautan), menyakini Allah dimana-mana atau menolak Allah istiwa di atas arasy, tahlilan kematian, ngudud, pegang wanita yang bukan mahram, nonton film porno dan yang lainnya."

AFM

Sumber referensi: https://ketabonline.com/ar/books/102677/read?part=1&page=85&index=4270183 dan https://al-maktaba.org/book/31616/62207