Peristiwa Fitnah Ibnul Asy'ats
Ada tragedi kelam yang dikenal dengan fitnah Ibnul Asy'ats. "Fitnah" di sini maknanya adalah perang dan kekacauan. Semoga persitiwa ini menjadi pelajaran bagi kita semua.
Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi pada tahun 81 H, saat ia menjabat menjadi gubernur Irak, ia mengirim sebuah pasukan besar yang dipimpin oleh ‘Abdurrahman bin Muhammad bin al-Asy‘ats, atau Ibnul Asy'ats, menuju raja Turki Ratbil. Dengan tujuan membalas dendam kaum Muslimin terhadap raja tersebut. Raja ini sebelumnya berhasil mengepung pasukan Muslimin di antara pegunungan. Setelah ia mengalahkan mereka dan memasuki negerinya, terbunuhlah dari kaum Muslimin sekitar 30.000 orang.
Al-Hajjaj kemudian melimpahkan harta yang sangat banyak kepada pasukan ini dan memberikan berbagai pemberian kepada mereka. Pasukan itu pun dinamai “Jaisy ath-Thawawis” (Pasukan Burung Merak) karena banyaknya harta yang dicurahkan kepada mereka. Jumlah pasukan tersebut mencapai 120.000 orang.
Al-Hajjaj memerintahkan mereka agar terus bergerak menuju raja Turki dan tidak meninggalkannya sampai mereka menumbangkan kerajaan dan kekuasaannya.
Ibnul-Asy‘ats pun berangkat bersama pasukan itu. Di dalamnya terdapat banyak para ulama dan ahli ibadah dari Irak, serta orang-orang berilmu dan orang-orang yang utama.
Ibnul-Asy‘ats mulai dengan pasukannya mengalahkan pasukan raja Turki dan masuk jauh ke negerinya, menaklukkan satu wilayah demi wilayah, hingga datang musim dingin. Maka Ibnul Asy‘ats setelah berkonsultasi dengan para ulamanya, memutuskan berhenti sementara dari peperangan. Agar dapat memperbaiki wilayah yang telah ditaklukkannya dan memperkuat pertahanan di sana, hingga musim dingin berlalu. Penduduk yang dimintai pendapat pun menyetujui sarannya. Lalu ia menulis surat kepada al-Hajjaj untuk memberitahukan niatnya tersebut.
Sejak saat itu terjadi permusuhan dan kebencian antara al-Hajjaj dan Ibnul Asy‘ats. Al-Hajjaj menjadi sangat marah ketika surat Ibnul Asy‘ats sampai kepadanya, karena Ibnul Asy‘ats menyelisihi perintahnya untuk tidak berhenti sampai raja Ratbil ditumbangkan. Maka al-Hajjaj mengirim surat balasan kepada Ibnul Asy‘ats dengan kata-kata yang keras dan kasar, ia menuduhnya sebagai pengecut, lemah, dan tidak memiliki keteguhan pendapat, serta memerintahkannya untuk terus bergerak menuju raja Turki.
Ketika surat itu sampai kepada Ibnul Asy‘ats, ia mengumpulkan seluruh sahabatnya dan memberitahukan kepada mereka isi surat al-Hajjaj, serta menyampaikan apa yang diperintahkan dan bagaimana penilaian al-Hajjaj terhadap dirinya. Maka mereka semua berkata: “Kita tidak akan mendengar dan tidak akan taat kepada musuh Allah (yaitu al-Hajjaj)”.
Kemudian salah seorang dari mereka berdiri dan berbicara menentang al-Hajjaj, menyebutkan kezalimannya dan keburukan-keburukannya. Lalu ia menyeru untuk mencabut baiat terhadap al-Hajjaj dan membaiat Ibnul Asy‘ats sebagai pemimpin. Maka orang-orang pun bangkit dari tempat duduk mereka dan membaiat Ibnul Asy‘ats dan baiat terhadap al-Hajjaj.
Ibnul Asy‘ats kemudian mengirim utusan kepada raja Turki Ratbil untuk mengajukan perdamaian. Sehingga sisi perbatasannya aman, dan ia dapat memusatkan perhatian untuk memerangi al-Hajjaj. Maka kaum Turki Ratbil pun berangkat berperang dengan Ibnl-Asy‘ats bersama Pasukan ath-Thawawis menuju Irak untuk memerangi kaum Muslimin, setelah sebelumnya pasukan itu diarahkan untuk memerangi orang-orang musyrikin Turki.
Ketika mereka berada di tengah perjalanan, sebagian pasukan berkata: “Kita tidak mencabut baiat al-Hajjaj kecuali karena kita telah mencabut baiat kepada ‘Abdul Malik bin Marwan, karena dialah pemimpin dari al-Hajjaj”. Maka mereka pun mencabut baiat terhadap ‘Abdul Malik bin Marwan.
Ibnul Asy‘ats berusaha mengangkat al-Muhallab bin Abi Shufrah untuk memimpin wilayah Khurasan, lalu ia menulis surat kepadanya. Namun al-Muhallab enggan menerima. Ia justru menulis surat balasan kepada Ibnul Asy‘ats, memperingatkannya dari bahaya mecabut tongkat ketaatan kaum Muslimin dan memecah-belah persatuan mereka.
Ketika Ibnul Asy‘ats sampai di Irak, banyak orang Irak terprovokasi hingga membaiatnya. Ibnul Asy‘ats pun berhasil mengalahkan pasukan al-Hajjaj dalam berbagai pertempuran, hingga ia memasuki Bashrah, dan mereka sepakat untuk mencabut baiat al-Hajjaj dan ‘Abdul Malik secara umum.
Penduduk Bashrah, baik dari kalangan fuqaha, para qari (penuntut ilmu), para ulama senior, maupun para pemuda, sebagian dari mereka ikut serta. Al-Hasan al-Bashri berdiri memperingatkan manusia dari fitnah ini dan mengingatkan mereka tentang kewajiban yang Allah tetapkan berupa berpegang teguh pada jamaah, serta bersabar atas kezaliman al-Hajjaj. Namun mereka berkata: “Sesungguhnya al-Hajjaj adalah azab dari Allah, maka janganlah kalian menghadapi azab Allah dengan maksiat! Wajib atas kalian bersikap tenang dan tunduk kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah Ta‘ala berfirman (yang aritnya): “Sungguh Kami telah menimpakan azab kepada mereka, tetapi mereka tidak merendahkan diri kepada Rabb mereka dan tidak pula tunduk” (QS. al-Mu’minūn: 76) [selesai perkataan al-Hasan].
Mujahid bin Jabr (ulama tabi'in) dan selainnya pun bangkit memperingatkan manusia dari fitnah ini serta memerintahkan mereka untuk tetap bersama jamaah. Namun kebanyakan penduduk Irak tidak mendengarkan nasihat-nasihat ini, dan mereka terus larut dalam fitnah tersebut.
Ibnul Asy‘ats berhasil memasuki Kufah, lalu mayoritas penduduknya membaiatnya. Para pengikutnya pun semakin banyak, bahaya pun membesar, dan fitnah semakin dahsyat.
Ibnul Asy‘ats mampu mengalahkan pasukan-pasukan al-Hajjaj setiap kali mereka bertemu dalam pertempuran, hingga jumlah pertempuran yang ia menangkan melebihi 80 pertempuran.
‘Abdul Malik bin Marwan berusaha meredakan fitnah ini. Ia menawarkan kepada Ibnul Asy‘ats dan orang-orang yang bersamanya agar al-Hajjaj dicopot dari Irak, dan agar Ibnul Asy‘ats diangkat memimpin atas wilayah-wilayah yang telah ia kuasai. Namun Ibnul Asy‘ats dan para sahabatnya menolak tawaran tersebut.
Setelah itu al-Hajjaj berusaha memusatkan pertempuran pada pasukan para qari (penuntut ilmu) dan para ulama, karena merekalah pusat kekuatan dan semangat juang dalam pasukan Ibnul Asy‘ats. Hingga akhirnya ia berhasil mematahkan mereka. Kekalahan pun menimpa pasukan Ibnul Asy‘ats, para pengikutnya tercerai-berai, dan ia pun melarikan diri menuju negeri Turki hingga masuk ke dalam perlindungan Ratbil.
Al-Hajjaj menulis surat kepada raja Ratbil, mengancamnya dan menuntut agar Ibnul Asy‘ats diserahkan. Maka Ratbil merasa takut lalu mengirim Ibnul Asy‘ats kepada al-Hajjaj. Dalam perjalanan, Ibnul Asy‘ats bunuh diri menjatuhkan dirinya dari puncak sebuah benteng yang tinggi hingga mati. Kepalanya kemudian dibawa kepada al-Hajjaj. Lalu al-Hajjaj memerintahkan agar kepalanya diarak di Irak, kemudian dikirimkan kepada ‘Abdul Malik bin Marwan di Syam, dan disalib di sana.
Al-Hajjaj kemudian menangkap satu per satu orang yang terlibat dalam fitnah ini, dan peperangan pun terus berkecamuk di kalangan penduduk Irak, hingga jumlah orang yang dibunuh al-Hajjaj dalam fitnah ini mencapai 130.000 orang. Di antaranya 4.000 orang dari kalangan ulama, ahli ibadah, dan orang-orang yang memiliki keutamaan.
[Dari kitab "Hukmul Muzhahharat fil Islam", hal. 198-200].
Fawaid Kangaswad | Support Ma'had Online: trakteer.com/kangaswad