Rabu, 07 Januari 2026

الحوادث والبدع

قَالَ مَالِكٌ: «وَلَا تُعْجِبُنِي الْقِرَاءَةُ بِالْأَلْحَانِ...»

Malik berkata: "Dan aku tidak menyukai pembacaan (Al-Qur'an) dengan irama/melodi..."
Penjelasan Singkat:
Malik: Merujuk pada Imam Malik bin Anas, pendiri Mazhab Maliki.
Al-Alhan (الألحان): Merujuk pada pembacaan Al-Qur'an yang menggunakan langgam musik atau melodi yang berlebihan sehingga dikhawatirkan dapat mengubah makhraj (tempat keluarnya huruf) atau hukum tajwid aslinya.
Demikian pula Sa'id bin al-Musayyab melarang Umar bin Abdul Aziz (saat beliau masih muda) ketika mendengarnya melantunkan bacaan dengan nada yang bergetar/berlebihan (yuthrib). Maka Sa'id mengutus seseorang kepadanya untuk melarangnya dari cara membaca tersebut (at-tathrib), lalu Umar pun berhenti."
"Dan Ibrahim an-Nakha'i berkata: 'Mereka (para sahabat dan tabi'in) membenci membaca Al-Qur'an dengan nada yang berlebihan (bi tathrib). Apabila mereka membaca Al-Qur'an, mereka membacanya dengan tartil yang cepat (hadran), lancar dan dengan  khusuk n
Penjelasan Istilah Penting
Tathrib (التطريب): Secara bahasa berarti melagukan. Dalam konteks ini, merujuk pada gaya membaca Al-Qur'an yang terlalu fokus pada irama, cengkok yang berlebihan, atau memanjang-manjakan suara hingga keluar dari kaidah tajwid yang benar.
Hadran (حَدْراً): Membaca dengan tempo yang agak cepat namun tetap menjaga hukum-hukum tajwid.
Mursalan (مُرْسَلاً): Membaca dengan mengalir secara alami tanpa beban atau dibuat-buat.
كِتَابُ

الحوادث والبدع

صَنَّفَهُ

الإمام أبوبكر مد بن الوليد الطرطوشي

المتوفى سَنَة (٥٢٠ هـ ) رَحِمَهُ اللهُ

ضَبَطَ نَصَّهُ وَعَلْقَ عَلَيْهِ علي بن حسن بن علي بن عبد الحميد علي الأثري

دار ابن الجوزي